PONTIANAK POST – Ikan baung, beras, dan bawang merah menjadi komoditas yang paling berkontribusi terhadap inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Kalimantan Barat yang mencapai 3,29 persen pada Mei 2026. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok tersebut turut mendorong bertambahnya pengeluaran rumah tangga masyarakat di berbagai daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 tercatat sebesar 110,90, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 107,37. Selain inflasi tahunan 3,29 persen, Kalbar juga mengalami inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,32 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 1,93 persen.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Barat, Muh Saichudin, mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kalbar.
"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,56 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi Kalimantan Barat, yakni sebesar 1,67 persen," ujarnya dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Perkembangan Indeks Harga Konsumen Kalimantan Barat, Selasa (2/6).
Menurut Muh Saichudin, sejumlah komoditas pangan yang paling dominan memberikan andil inflasi tahunan antara lain beras, ikan baung, bawang merah, minyak goreng, sawi hijau, dan ikan nila.
"Beras memberikan andil inflasi sebesar 0,24 persen, ikan baung 0,15 persen, bawang merah 0,14 persen, sementara minyak goreng, sawi hijau, dan ikan nila masing-masing sebesar 0,10 persen," katanya.
Menariknya, sejumlah jenis ikan yang menjadi konsumsi masyarakat Kalbar juga masuk dalam daftar komoditas penyumbang inflasi. Selain ikan baung dan ikan nila, kenaikan harga turut terjadi pada ikan bandeng, ikan tongkol, ikan tenggiri, dan ikan kembung.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak hanya berasal dari komoditas pangan nasional seperti beras dan minyak goreng, tetapi juga dari komoditas lokal yang banyak dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
Muh Saichudin menjelaskan, secara umum perkembangan harga berbagai komoditas pada Mei 2026 masih menunjukkan tren kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebelas kelompok pengeluaran," jelasnya.
Selain kelompok makanan, inflasi juga terjadi pada kelompok transportasi sebesar 4,52 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,88 persen, kelompok pendidikan sebesar 2,82 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,08 persen.
Dari sisi wilayah, seluruh daerah penghitungan IHK di Kalimantan Barat mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Ketapang mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,65 persen dengan IHK 113,02, sedangkan Kota Singkawang menjadi daerah dengan inflasi terendah sebesar 2,73 persen dengan IHK 109,81.
Selain komoditas pangan, inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, biaya pemeliharaan kendaraan, hingga pelumas atau oli mesin.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y antara lain emas perhiasan, beras, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, ikan baung, bawang merah, pemeliharaan atau service kendaraan, minyak goreng, sawi hijau, dan ikan nila," ungkap Muh Saichudin.
Meski demikian, beberapa komoditas tercatat memberikan andil deflasi atau menahan laju kenaikan harga. Di antaranya udang basah, daging babi, bawang putih, jeruk, cumi-cumi, biskuit, dan terong.
Bagi masyarakat Kalbar, angka inflasi 3,29 persen tersebut bukan sekadar data statistik. Di baliknya terdapat kenaikan harga beras, ikan konsumsi, dan kebutuhan dapur lainnya yang secara langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga sehari-hari. (ars)
INFOGRAFIS | Inflasi Kalbar Mei 2026
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Inflasi Tahunan (y-on-y) | 3,29% |
| Inflasi Bulanan (m-to-m) | 0,32% |
| Inflasi Tahun Kalender (y-to-d) | 1,93% |
| Indeks Harga Konsumen (IHK) | 110,90 |
Daerah dengan Inflasi Tertinggi dan Terendah
| Daerah | Inflasi y-on-y | IHK |
| Ketapang | 3,65% | 113,02 |
| Singkawang | 2,73% | 109,81 |
Kelompok Penyumbang Inflasi Terbesar
| Kelompok Pengeluaran | Inflasi | Andil Inflasi |
| Makanan, Minuman & Tembakau | 4,56% | 1,67% |
| Transportasi | 4,52% | 0,51% |
| Perawatan Pribadi & Jasa Lainnya | 5,88% | 0,39% |
| Perumahan, Air, Listrik & BBRT | 2,08% | 0,28% |
| Restoran | 1,92% | 0,17% |
Komoditas Utama Pemicu Inflasi
| Komoditas | Andil Inflasi |
| Beras | 0,24% |
| Ikan Baung | 0,15% |
| Bawang Merah | 0,14% |
| Minyak Goreng | 0,10% |
| Sawi Hijau | 0,10% |
| Ikan Nila | 0,10% |
| Angkutan Udara | 0,20% |
| Emas Perhiasan | 0,35% |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro