PONTIANAK POST - Ketika nilai tukar rupiah melemah, keluarga tidak hanya perlu mengendalikan pengeluaran, tetapi juga mencari cara menjaga arus kas tetap sehat.
Dilansir dari Jawapos, Financial Planner Rista Zwestika membagikan sejumlah strategi yang dinilai realistis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Terapkan Strategi Hemat yang Realistis
Untuk menjaga pengeluaran tetap terkendali, Rista menyarankan penerapan no spend day beberapa hari dalam seminggu agar belanja impulsif dapat ditekan.
Baca Juga: Cara Aman Mengelola Cicilan Ketika Rupiah Terus Melemah
Dia juga menyarankan memperbanyak meal prep di rumah, membatasi belanja online bulanan, menggunakan transportasi yang lebih efisien, serta mengevaluasi langganan digital yang tidak terlalu dibutuhkan.
Menurutnya, kebersamaan keluarga tidak selalu harus diwujudkan melalui aktivitas yang menguras pengeluaran.
’’Intinya bukan hidup menderita, tapi mengatur prioritas agar keuangan tetap sehat tanpa kehilangan kebahagiaan,’’ sambungnya.
Baca Juga: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Menguras Keuangan Keluarga
Tunda Pembelian karena FOMO
Saat rupiah melemah, masyarakat juga diminta lebih selektif dalam melakukan pembelian besar seperti gadget, kendaraan, atau liburan luar negeri.
Keputusan membeli tetap bisa dilakukan jika memang mendukung produktivitas atau kebutuhan utama. Namun pembelian impulsif karena FOMO sebaiknya ditunda lebih dulu.
Cari Tambahan Penghasilan
Selain berhemat, masyarakat juga dapat membuka peluang pemasukan tambahan. Misalnya dari jualan online, freelance, affiliate, kelas daring, hingga jasa sesuai keterampilan.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Saatnya Keluarga Melakukan Financial Check-Up
’’Tambahan Rp1–2 juta per bulan saja bisa sangat membantu cashflow keluarga. Yang penting, keputusan finansial dibuat dengan tenang dan terencana, bukan karena panik atau ikut-ikutan,’’ lanjutnya. (*)
Editor : Chairunnisya