PONTIANAK POST - Pemerintah Kalimantan Utara melalui Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat daya saing Beras Adan Krayan, komoditas unggulan perbatasan Indonesia-Malaysia yang berasal dari dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan.
Kolaborasi riset tersebut dilakukan untuk memetakan potensi ekonomi, memperkuat rantai nilai, serta menyusun strategi pengembangan berbasis data agar manfaat ekonomi Beras Adan Krayan semakin dirasakan masyarakat perbatasan.
Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bapperida Kalimantan Utara, Mochamad Sarkawi, mengatakan kajian ini menjadi fondasi penting dalam penyusunan kebijakan pengembangan komoditas unggulan daerah.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menyusun rekomendasi berbasis data dan riset agar pengembangan Beras Adan Krayan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat," ujar Sarkawi, dikutip dari Radar Kaltara (jaringan Pontianak Post).
Baca Juga: Kereta Api Kalimantan Dimulai dari Kaltara, Ditarget Terhubung hingga IKN
Riset Langsung Menyasar Pelaku di Lapangan
Tim gabungan Bapperida dan BRIN tidak hanya melakukan kajian akademis, tetapi juga menggelar diskusi kelompok terarah (FGD) dan verifikasi lapangan di Long Bawan, Kecamatan Krayan.
Proses pengumpulan data melibatkan petani, pedagang, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).
Menurut Sarkawi, validasi data menjadi langkah penting agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
"Verifikasi data menjadi penting agar kebijakan yang dihasilkan nantinya benar-benar sesuai dengan kondisi riil di lapangan dan kebutuhan masyarakat," katanya.
Optimalkan Sertifikasi Indikasi Geografis
Beras Adan Krayan selama ini dikenal sebagai beras organik premium dengan cita rasa khas dan telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG) dan dianggap sebagai 'harta karun' perbatasan Indonesia-Malaysia.
Meski demikian, nilai ekonomi dari sertifikasi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Melalui kajian ini, pemerintah daerah dan BRIN berupaya memperoleh gambaran menyeluruh mulai dari proses budidaya, pascapanen, distribusi, hingga strategi pemasaran.
"Kami ingin mendapatkan gambaran utuh mulai dari proses budidaya, pascapanen, distribusi hingga strategi pemasaran Beras Adan yang telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis," ujar Sarkawi.
Baca Juga: Jaringan Kereta Api Kaltara Dipastikan Tanpa APBD dan APBN
Harapan Tingkatkan Pendapatan Petani
Pengembangan Beras Adan Krayan tidak hanya ditujukan untuk memperkuat identitas pangan khas Kalimantan Utara, tetapi juga meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat perbatasan.
Dukungan riset, teknologi, regulasi, dan strategi pemasaran yang tepat diharapkan mampu membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.
Bagi petani Krayan, langkah ini menjadi harapan baru agar hasil pertanian yang selama ini dikenal berkualitas tinggi dapat memberikan pendapatan yang lebih baik.
Sarkawi optimistis perbaikan ekosistem dari hulu hingga hilir akan menjadikan Beras Adan Krayan sebagai produk unggulan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
"Harapannya, Beras Adan Krayan tidak hanya menjadi identitas pangan unggulan Kalimantan Utara, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan petani, dan mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan," tutupnya. (*)
Editor : Efprizan