PONTIANAK POST – Ekspor beras ke Sarawak kembali dipercepat pemerintah sebagai langkah membuka pasar baru bagi hasil panen petani Indonesia sekaligus memperkuat perdagangan dengan Malaysia. Perum Bulog kini mengejar kepastian harga dan jadwal pembahasan dengan Pemerintah Malaysia untuk merealisasikan rencana ekspor 200 ribu ton beras ke negara bagian tersebut.
Bagi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Sarawak, peluang ekspor ini dinilai tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga berpotensi menggerakkan aktivitas perdagangan lintas batas, logistik, dan jasa distribusi di wilayah perbatasan.
Bulog Kejar Kepastian Harga dengan Malaysia
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya segera menindaklanjuti arahan Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk mempercepat pembahasan teknis ekspor beras ke Malaysia dan Singapura.
"Kita segera tindak lanjuti atas perintah Bapak Mentan untuk langsung mengejar bola ke Malaysia maupun ke Singapura, untuk tindak lanjuti kepastian harga dan lain sebagainya," kata Rizal di Jakarta, Senin (13/7).
Menurut dia, hingga kini Bulog belum dapat melakukan kunjungan ke Malaysia karena masih menunggu kesiapan pemerintah setempat menerima delegasi Indonesia.
"Kami belum ke sana karena di sana belum siap. Jadi, kan kita juga nggak mungkin kita ke sana, lah sana belum bisa nerima. Tapi kami kejar terus supaya mereka siap terima kami sehingga biar ada kepastian deal-nya harganya berapa," ujarnya.
Rizal menjelaskan komunikasi dengan Pemerintah Malaysia terus dilakukan agar negosiasi dapat segera menghasilkan kesepakatan mengenai harga dan mekanisme perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Sarawak Dinilai Menjadi Pasar Strategis
Bulog bersama Kementerian Pertanian berencana melakukan kunjungan ke Sarawak untuk membahas rencana ekspor beras Indonesia.
Pemilihan Sarawak dinilai strategis karena memiliki kedekatan geografis dengan Kalimantan Barat. Hubungan perdagangan kedua wilayah telah berlangsung lama melalui jalur darat maupun laut sehingga berpotensi mempercepat distribusi komoditas pangan Indonesia ke Malaysia Timur.
Presiden Minta Harga Tidak Merugikan Petani
Rizal menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto menjadi pedoman utama dalam proses negosiasi.
Menurut dia, harga ekspor harus memberikan keuntungan yang layak bagi petani Indonesia sekaligus tetap menguntungkan negara sehingga keberlanjutan ekspor dapat terjaga.
Sebelumnya, Bulog mengungkapkan rencana ekspor 200 ribu ton beras ke Malaysia masih berada pada tahap negosiasi harga.
Hingga kini Bulog belum merinci secara khusus apakah beras yang akan diekspor ke Malaysia berasal dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) atau pengadaan terbaru. Namun, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa seluruh kegiatan penyerapan gabah dan beras sepanjang 2026 dilakukan untuk memperkuat stok CBP sekaligus menyerap hasil panen petani sesuai penugasan pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026. Hingga 29 Juni 2026, realisasi penyerapan Bulog telah mencapai 3,24 juta ton setara beras, atau sekitar 81 persen dari target nasional 4 juta ton tahun ini.
Singapura Juga Masuk Daftar Tujuan Ekspor
Selain Malaysia, pemerintah juga menyiapkan ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura.
Rencana tersebut telah dibahas dalam pertemuan bilateral Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu di Kantor Pusat Kementerian Pertanian pada 29 Juni 2026.
Pemerintah berharap ekspor ke Malaysia dan Singapura menjadi langkah awal memperluas pasar beras Indonesia di kawasan Asia Tenggara sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan surplus produksi beras.
Pemerintah menilai rencana membuka kembali ekspor beras didukung oleh kondisi produksi dan cadangan nasional yang terus menguat. Kementerian Pertanian mengutip laporan FAO Food Outlook Juni 2026 yang memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai 38,6 juta ton (setara beras giling) pada musim 2026/2027, meningkat signifikan dibandingkan 34 juta ton pada 2024/2025. Di saat sejumlah negara produsen utama mengalami penurunan produksi akibat tekanan iklim, Indonesia justru mencatat tren kenaikan sehingga memperkuat posisi sebagai salah satu produsen beras terbesar di dunia.
Di sisi cadangan, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai sekitar 5,2 juta ton pada pertengahan Juni 2026, menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan stok beras nasional. Pemerintah menyebut kondisi tersebut memberikan ruang yang lebih besar untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri sekaligus menjajaki peluang ekspor tanpa mengganggu ketahanan pangan nasional.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kebijakan ekspor dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri dinilai aman. Selain menjaga harga gabah tetap menguntungkan petani, pembukaan pasar ekspor juga dimaksudkan untuk menyerap surplus produksi, memperluas akses pasar bagi beras Indonesia, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mulai bertransformasi dari importir menjadi eksportir beras di kawasan.
Peluang bagi Kalimantan Barat
Apabila kesepakatan dengan Sarawak tercapai, Kalimantan Barat berpeluang memperoleh manfaat ekonomi tidak langsung. Aktivitas perdagangan lintas batas diperkirakan meningkat, mulai dari sektor transportasi, pergudangan, jasa logistik, hingga pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasok pangan.
Bagi masyarakat di wilayah perbatasan, meningkatnya arus perdagangan juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru dan memperkuat hubungan ekonomi Indonesia–Malaysia yang selama ini telah terjalin melalui berbagai komoditas. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro