PONTIANAK POST – Melalui Danantara Indonesia, pemerintah mendorong pengembangan industri pengolahan mineral agar Indonesia tidak lagi hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu menguasai rantai pasok global.
Bagi Kalimantan Barat sebagai salah satu daerah penghasil bauksit terbesar di Indonesia, agenda hilirisasi menjadi peluang besar untuk mengubah peran daerah dari sekadar pemasok bahan tambang menjadi basis industri pengolahan bernilai tambah tinggi.
Indonesia Ingin Berhenti Ekspor Bahan Mentah
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk membangun industri material maju karena dianugerahi kekayaan mineral strategis, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah hingga mineral tanah jarang (rare earth).
Menurut Rosan, selama puluhan tahun Indonesia masih banyak berhenti pada tahap ekstraksi sehingga nilai ekonomi terbesar justru dinikmati negara lain melalui pengolahan lanjutan.
"Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa. Bahan-bahan ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan dan energi bersih," ujar Rosan.
Ia menegaskan, Indonesia perlu memperkuat industri pengolahan agar mineral yang berasal dari dalam negeri dapat menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Bauksit menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam agenda hilirisasi mineral Indonesia. Pemerintah tidak lagi mendorong ekspor bijih bauksit mentah, melainkan mengarahkan pengolahan melalui industri pemurnian untuk menghasilkan produk turunan seperti alumina hingga aluminium.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, investasi hilirisasi mineral pada 2025 mencapai Rp373,1 triliun. Dari jumlah tersebut, komoditas bauksit menyumbang sekitar Rp53,1 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bauksit menjadi salah satu mineral penting dalam transformasi industri nasional.
Kalimantan Barat memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu wilayah dengan potensi bauksit terbesar di Indonesia. Aktivitas pertambangan bauksit telah berkembang di sejumlah daerah seperti Ketapang, Sanggau, Mempawah, dan wilayah lainnya.
Dari Tambang Menuju Industri Bernilai Tambah
Hilirisasi bauksit tidak berhenti pada aktivitas penambangan. Rantai industri mineral ini mencakup proses pengolahan bijih bauksit menjadi alumina, kemudian aluminium yang menjadi bahan penting bagi berbagai sektor industri.
Aluminium digunakan untuk kebutuhan transportasi, konstruksi, industri energi, hingga manufaktur teknologi.
Jika rantai industri tersebut tumbuh di Kalimantan Barat, manfaat ekonomi yang diterima daerah tidak hanya berasal dari sektor tambang, tetapi juga dari industri pengolahan, jasa pendukung, logistik, serta penciptaan lapangan kerja baru.
Tantangan Besar Membangun Industri Mineral di Kalbar
Meski memiliki sumber daya besar, pembangunan industri hilirisasi membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat.
Ketersediaan energi, infrastruktur pelabuhan, jaringan transportasi, teknologi pengolahan, hingga kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting agar investasi tidak hanya berhenti pada fasilitas awal.
Pengembangan kawasan industri berbasis mineral juga membutuhkan kepastian regulasi dan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, serta investor.
Dalam acara Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing, sejumlah perusahaan strategis nasional menandatangani nota kesepahaman pengembangan material maju.
Kerja sama tersebut melibatkan PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT LEN Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Pindad (Persero).
Fokus kerja sama diarahkan untuk mengoptimalkan rantai pasok mineral kritis dan material maju bagi kebutuhan industri strategis nasional, mulai dari kendaraan listrik, sektor pertahanan, dirgantara, maritim hingga ketenagalistrikan.
Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit P. Santosa mengatakan Indonesia harus membangun kemampuan industri menengah (middle stream material) agar tidak hanya kuat dari sisi sumber daya alam, tetapi juga memiliki kemampuan teknologi dan manufaktur.
"Kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan kita mengubahnya menjadi ekosistem industri material maju," katanya.
Harapan Masyarakat Daerah Penghasil Bauksit
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, hilirisasi bauksit bukan hanya soal peningkatan nilai ekspor nasional. Yang lebih penting adalah bagaimana kekayaan alam tersebut mampu menghadirkan manfaat langsung bagi daerah penghasil.
Lapangan kerja baru, tumbuhnya industri pendukung, peningkatan keterampilan tenaga lokal, serta meningkatnya pendapatan daerah menjadi harapan yang muncul dari pembangunan industri mineral.
Sebab, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat di sekitar sumber daya ikut merasakan manfaatnya. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro