PONTIANAK POST – Pergeseran arah investasi hilirisasi nasional membawa peluang besar bagi Kalimantan Barat. Untuk pertama kalinya, bauksit menjadi komoditas dengan nilai investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, melampaui nikel. Kondisi ini memperkuat posisi Kalbar yang memiliki cadangan bauksit terbesar nasional sebagai calon pusat industri aluminium terintegrasi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan investasi hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun pada kuartal II 2026 atau tumbuh 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah itu, investasi di sektor bauksit mencapai Rp40,1 triliun, tertinggi dibandingkan komoditas mineral lainnya.
"Kalau kita lihat, biasanya nikel selalu di nomor satu. Nah, kali ini ada shifting. Bauksit menjadi nomor satu karena ada beberapa pembangunan proyek bauksit yang dilakukan investor dalam negeri maupun luar negeri," ujar Rosan dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (16/7).
Kalbar Berpeluang Menjadi Episentrum Hilirisasi Bauksit
Dominasi investasi bauksit dinilai menjadi sinyal positif bagi Kalimantan Barat. Provinsi ini dikenal sebagai wilayah dengan cadangan bauksit terbesar di Indonesia sekaligus lokasi sejumlah proyek strategis pengolahan alumina.
Hilirisasi yang terus berkembang diperkirakan akan mendorong pertumbuhan industri pengolahan mineral, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan aktivitas logistik, hingga memperkuat perekonomian daerah.
Kalimantan Barat memiliki posisi strategis dalam hilirisasi nasional karena menyimpan sekitar 66,77 persen cadangan bauksit Indonesia atau sekitar 840 juta ton, menjadikannya provinsi dengan cadangan bauksit terbesar di Tanah Air. Kondisi ini memperkuat peluang Kalbar menjadi pusat pengembangan industri alumina dan aluminium seiring meningkatnya investasi hilirisasi bauksit.
Investasi Mineral Masih Mendominasi
Rosan menjelaskan sektor mineral masih menjadi penyumbang terbesar investasi hilirisasi dengan nilai Rp108,2 triliun atau sekitar 70,9 persen dari total investasi hilirisasi nasional.
Selain bauksit sebesar Rp40,1 triliun, investasi juga mengalir ke nikel senilai Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi dan baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lain seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, dan aspal Buton senilai Rp4,7 triliun.
Menurut Rosan, perubahan komposisi tersebut menunjukkan semakin banyak proyek hilirisasi bauksit yang memasuki tahap konstruksi maupun pengembangan.
Peluang Ekonomi Baru bagi Kalbar
Bagi Kalimantan Barat, meningkatnya investasi bauksit tidak hanya berdampak pada sektor pertambangan. Pengembangan industri pengolahan diperkirakan memicu pertumbuhan sektor pendukung seperti transportasi, pelabuhan, energi, jasa konstruksi, hingga usaha mikro dan kecil di sekitar kawasan industri.
Jika rantai hilirisasi terus berkembang hingga menghasilkan aluminium dan produk turunannya, nilai tambah yang diperoleh daerah juga berpotensi meningkat dibandingkan hanya menjual bijih mentah.
Hilirisasi bauksit mulai memberikan dampak ekonomi bagi Kalimantan Barat. Laporan Perekonomian Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat mencatat produksi alumina meningkat seiring beroperasinya fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) di Mempawah.
Pada tahap awal operasi komersial, smelter tersebut telah melakukan pengapalan perdana sebanyak 21.000 metrik ton alumina ke PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Secara keseluruhan, nilai dan volume ekspor alumina Kalbar juga menunjukkan perbaikan seiring bertambahnya kapasitas industri pengolahan di daerah.
Dari sisi ekonomi lokal, RKPD Kabupaten Mempawah Tahun 2026 menyebut beroperasinya SGAR PT BAI telah menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. Kehadiran smelter tersebut meningkatkan peran sektor industri pengolahan terhadap PDRB Kabupaten Mempawah sekaligus memberikan kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja di kawasan industri.
Dari aspek ketenagakerjaan, PT BAI menyatakan sekitar 86 persen tenaga kerjanya merupakan putra-putri Kalimantan Barat, dengan mayoritas berasal dari Kabupaten Mempawah dan wilayah sekitar operasional perusahaan. Hal ini menunjukkan hilirisasi tidak hanya menciptakan nilai tambah mineral, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal.
Investor Asing Masih Mendominasi
Dari sisi sumber modal, investasi hilirisasi masih didominasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp114,4 triliun atau sekitar 75 persen. Sisanya berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) senilai Rp38,3 triliun.
Berdasarkan negara asal investor, Hong Kong menjadi penyumbang terbesar dengan investasi Rp52,4 triliun, disusul Singapura Rp29,8 triliun, Tiongkok Rp10,7 triliun, Jepang Rp4 triliun, dan Amerika Serikat Rp3,9 triliun.
Pemerintah Siapkan Hilirisasi Terintegrasi
Pemerintah memastikan hilirisasi tidak berhenti pada tahap pengolahan bahan baku. Fokus berikutnya adalah membangun industri lanjutan yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
"Fokus kami adalah komoditas yang menjadi keunggulan kompetitif Indonesia dan telah masuk dalam blueprint hilirisasi nasional," kata Rosan.
Selain bauksit, pemerintah juga akan memperkuat hilirisasi kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, dan berbagai komoditas unggulan lainnya. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro