Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Investasi Bauksit di Kalbar Tertinggi Nasional, Pemerintah Ingin Bangun Ekosistem Lengkap

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 16 Juli 2026 | 23:46 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan capaian investasi nasional di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Rosan mengungkapkan investasi hilirisasi bauksit untuk pertama kalinya melampaui nikel pada kuartal II 2026, membuka peluang Kalimantan Barat sebagai pusat industri aluminium nasional.(ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden)
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan capaian investasi nasional di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Rosan mengungkapkan investasi hilirisasi bauksit untuk pertama kalinya melampaui nikel pada kuartal II 2026, membuka peluang Kalimantan Barat sebagai pusat industri aluminium nasional.(ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden)

 

PONTIANAK POST – Untuk pertama kalinya, investasi bauksit menggeser nikel sebagai tujuan utama investasi proyek hilirisasi di Indonesia. Pergeseran tersebut membuka peluang besar bagi Kalimantan Barat, provinsi dengan cadangan bauksit terbesar di Tanah Air, untuk memperkuat posisinya sebagai pusat industri pengolahan alumina dan aluminium nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun, atau sekitar 29,8 persen dari total realisasi investasi nasional sebesar Rp511,8 triliun.

"Bauksit ini nomor satu, biasanya kita tahu selalu nikel. Ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan proyek bauksit yang dilakukan investor dalam negeri maupun luar negeri," kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7).

Kalbar Berpeluang Menjadi Pusat Industri Aluminium

Dominasi investasi bauksit menjadi kabar positif bagi Kalimantan Barat. Berdasarkan data Kementerian ESDM, provinsi ini memiliki sekitar 840 juta ton cadangan bauksit atau 66,77 persen dari total cadangan nasional, menjadikannya wilayah dengan cadangan terbesar di Indonesia.

Keunggulan sumber daya tersebut diperkuat dengan keberadaan fasilitas pemurnian alumina, seperti PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) di Mempawah dan PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) di Ketapang, yang menjadi fondasi pengembangan industri aluminium nasional. Selain itu di Kayong Utara juga tengah dibangun smelter alumina Kawasan Industri Pulau Penebang.

Investasi Diperkirakan Memicu Efek Berganda

Meningkatnya investasi hilirisasi tidak hanya berdampak pada sektor pertambangan. Pengembangan industri pengolahan diproyeksikan mendorong pertumbuhan sektor logistik, energi, pelabuhan, konstruksi, hingga membuka lapangan kerja baru di Kalimantan Barat.

Data Disbunnak Kalbar juga menunjukkan sektor pertambangan dan industri pengolahan mineral menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah yang diperkirakan terus tumbuh seiring bertambahnya investasi hilirisasi.

Pemerintah Ingin Bangun Ekosistem Lengkap

Menurut Rosan, keberhasilan hilirisasi nikel menjadi model yang akan diterapkan pada komoditas strategis lainnya, termasuk bauksit.

Saat ini, hilirisasi nikel di Indonesia telah berkembang hingga menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, mulai dari nickel matte, nickel sulfate, katoda, anoda, sel baterai, battery pack, hingga daur ulang baterai.

Pemerintah menargetkan ekosistem serupa juga dibangun pada industri bauksit agar Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi juga produsen aluminium dan produk turunannya.

"Itu juga yang ingin kita laksanakan untuk bauksit, juga turunan dari kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, dan komoditas lainnya," ujar Rosan.

Cadangan Besar Jadi Keunggulan Indonesia

Rosan menegaskan pemerintah akan memprioritaskan hilirisasi komoditas yang memiliki keunggulan kompetitif berdasarkan blueprint hilirisasi nasional.

Menurutnya, besarnya cadangan sumber daya alam menjadi modal utama Indonesia untuk menarik investasi sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

"Yang kita prioritaskan adalah komoditas yang memang memiliki competitive advantage karena besarnya cadangan yang dimiliki Indonesia," katanya. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Hilirisasi bauksit Kalbar Investasi bauksit Industri aluminium Indonesia Cadangan bauksit Kalimantan Barat rosan roeslani