PONTIANAK POST - Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk menaikkan BI Rate 2026 hingga level 6,25 persen apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut. Kenaikan suku bunga acuan menjadi salah satu instrumen utama bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz memperkirakan masih terdapat ruang kenaikan BI Rate sebanyak dua kali dengan masing-masing 25 basis poin hingga akhir tahun.
"Kalau perkiraan kami, masih ada ruang dua kali kenaikan masing-masing 25 basis poin, sehingga BI rate bisa mencapai 6,25 persen. Asumsinya, volatilitas rupiah masih tinggi," ujar Irman Faiz di Jakarta, Kamis (16/7).
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi salah satu alasan ruang kenaikan BI Rate masih terbuka. Pada perdagangan 16 Juli 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Data pasar valuta asing menunjukkan rupiah masih bergerak dalam tekanan sepanjang pekan ini seiring tingginya ketidakpastian global.
Kenaikan Suku Bunga Tidak Otomatis Dilakukan
Meski ruang kenaikan masih terbuka, Irman menilai BI tidak harus menggunakan seluruh opsi tersebut.
Keputusan menaikkan suku bunga acuan akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi global, terutama tekanan terhadap pasar keuangan dan pergerakan nilai tukar.
"Kalau dari global tidak ada kejutan besar, BI mungkin tidak perlu menggunakan seluruh ruang itu. Tetapi opsi kenaikan masih tersedia hingga dua kali 25 basis poin sampai akhir tahun," katanya.
Menurut dia, selain melalui kebijakan suku bunga, BI juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam gejolak rupiah.
Perjalanan BI Rate Naik 100 Basis Poin Sepanjang 2026
Tekanan eksternal membuat BI mulai memperketat kebijakan moneter pada 2026. Berdasarkan data Bank Indonesia, BI Rate bergerak naik dari 4,75 persen pada awal tahun menjadi 5,75 persen pada Juni 2026.
Pergerakan BI Rate 2026:
| Tanggal | BI Rate |
|---|---|
| 21 Januari | 4,75 persen |
| 19 Februari | 4,75 persen |
| 17 Maret | 4,75 persen |
| 22 April | 4,75 persen |
| 20 Mei | 5,25 persen |
| 9 Juni | 5,50 persen |
| 18 Juni | 5,75 persen |
Sumber: Bank Indonesia
S&P Pertahankan Peringkat Indonesia, Pasar Tunggu Eksekusi Kebijakan
Di sisi lain, keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan.
Menurut Irman, perhatian lembaga pemeringkat internasional kini lebih banyak tertuju pada kemampuan pemerintah menjalankan agenda reformasi ekonomi.
"Yang menjadi perhatian sekarang bukan arah kebijakannya, tetapi bagaimana eksekusinya," ujarnya.
Namun, risiko eksternal masih menjadi perhatian. Ketidakpastian geopolitik dan potensi gejolak pasar global tetap dapat memengaruhi aset domestik.
Pemerintah dinilai perlu menjaga disiplin fiskal, terutama memastikan defisit APBN tetap berada di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Belanja Pemerintah Jadi Motor Pertumbuhan Semester II
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Bank Danamon memperkirakan aktivitas ekonomi Indonesia pada semester II 2026 akan lebih kuat dibandingkan semester pertama.
Peningkatan realisasi belanja pemerintah diperkirakan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan.
"Masih banyak pagu belanja yang belum direalisasikan. Ketika mulai dibelanjakan, dampaknya tidak hanya mendorong konsumsi pemerintah, tetapi juga konsumsi rumah tangga dan investasi," kata Irman.
Dari sisi fiskal, pemerintah mulai mempercepat realisasi belanja negara yang diharapkan menjadi salah satu penggerak ekonomi pada semester II 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, hingga Semester I 2026 realisasi belanja negara mencapai Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun.
Realisasi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang belanja yang cukup besar untuk mendorong aktivitas ekonomi pada paruh kedua tahun ini. Sebelumnya, hingga Mei 2026, belanja negara tercatat mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari target APBN, dengan pertumbuhan 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komoditas Ekspor Jadi Penopang Neraca Perdagangan
Selain belanja pemerintah, surplus perdagangan juga diproyeksikan kembali membaik seiring potensi penguatan harga komoditas ekspor seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan penerimaan devisa dan memperkuat cadangan devisa Indonesia.
"Kalau harga komoditas tetap tinggi, surplus perdagangan berpeluang kembali membaik sehingga cadangan devisa juga akan meningkat secara bertahap," pungkas Irman. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro