Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Investasi Bauksit Kalbar Jadi Primadona Geser Nikel, Gubernur Norsan Soroti Tantangan Serapan Tenaga Kerja Lokal

Khoiril Arif Ya'qob • Jumat, 17 Juli 2026 | 11:35 WIB
Ilustrasi kegiatan penambangan bauksit di Kalbar. (KEMENTERIAN ESDM)
Ilustrasi kegiatan penambangan bauksit di Kalbar. (KEMENTERIAN ESDM)

PONTIANAK POST - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun, dengan bauksit sebagai komoditas utama, menggeser posisi nikel yang selama ini mendominasi.

“Bauksit ini nomor satu, biasanya kita tahu selalu nikel. Ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan proyek bauksit yang dilakukan investor dalam negeri maupun luar negeri,” kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7).

Kalimantan Barat, sebagai provinsi dengan cadangan bauksit terbesar di Indonesia, menjadi salah satu wilayah yang diproyeksikan menerima dampak langsung dari tren investasi tersebut.

Baca Juga: Bauksit Jadi Magnet Baru Investasi Hilirisasi, Sumbang Rp40,1 Triliun pada Kuartal II 2026

Sebelumnya, dalam forum konsultasi publik pada Februari 2026, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan telah menyampaikan catatan soal kesiapan tenaga kerja lokal menghadapi perkembangan proyek smelter di daerah.

Kondisi Ketenagakerjaan Jadi Sorotan

Ria Norsan menyoroti kondisi ketenagakerjaan di Kalimantan Barat, di mana dari 2,97 juta penduduk yang bekerja, 41,44 persen masih berada di sektor pertanian, 27,67 persen berstatus pekerja paruh waktu, dan 10,43 persen mengalami setengah pengangguran.

“Kondisi ini menjadi tantangan untuk memastikan proyek smelter memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja berkualitas dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal,” kata Ria Norsan dikutip dari Antara (19/2).

Pernyataan itu disampaikan dalam konsultasi publik rancangan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian terkait perubahan daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kalbar.

Baca Juga: Investasi Bauksit di Kalbar Tertinggi Nasional, Pemerintah Ingin Bangun Ekosistem Lengkap

Ia berfokus pada pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian alumina-aluminium terpadu di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak.

Ekosistem Smelter Terpadu Terus Diperluas

Proyek smelter di Mempawah dan Landak akan terhubung dengan smelter yang telah beroperasi di Pulau Penebah, Kabupaten Kayong Utara, dengan pasokan bauksit dari Ketapang dan sekitarnya.

Perubahan usulan PSN turut mencakup pembangunan fasilitas SGAR 1 dan SGAR 2 serta pembangkit listrik pendukung operasi smelter, melibatkan PT Borneo Alumina Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium, PT Bukit Asam Tbk, PT PLN, dan PT Aneka Tambang Tbk.

Gubernur Tekankan Pentingnya Kesiapan SDM

Ria Norsan mengatakan proyek smelter ini bukan sekadar investasi besar, melainkan instrumen strategis untuk menguatkan struktur industri pengolahan di Kalimantan Barat.

Ia menegaskan pentingnya memastikan proyek smelter memberikan dampak nyata bagi penciptaan lapangan kerja dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal, sebagaimana disampaikannya dalam forum konsultasi publik tersebut.

“Pemerintah Provinsi Kalbar siap berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan kabupaten/kota untuk memastikan proyek PSN berjalan sesuai regulasi, memberikan nilai tambah ekonomi, dan memberikan peluang kerja yang nyata bagi masyarakat lokal, sambil tetap menjaga prinsip keberlanjutan lingkungan,” katanya. 

Editor : Miftahul Khair
Tambang Nikel investasi kalbar tenaga kerja lokal tambang bauksit