PONTIANAK POST - PT KIA Sales Indonesia (KSI) menyatakan kendaraan bermesin diesel produksinya siap menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) B50. Meski demikian, perusahaan masih menunggu kepastian regulasi serta spesifikasi bahan bakar yang akan diterapkan pemerintah secara nasional.
VP Operations KSI, Harry Yanto, mengatakan pemerintah telah melakukan serangkaian pengujian sebelum implementasi B50. Pengujian tersebut dilakukan terhadap berbagai model kendaraan yang beredar di Indonesia dengan jarak tempuh hingga 50.000 kilometer.
Baca Juga: ESDM Targetkan Penyaluran B50 ke Seluruh SPBU Rampung 1 Oktober 2026
Pengujian B50 Diklaim Komprehensif
Harry menjelaskan pengujian tidak hanya mengukur performa kendaraan saat digunakan sehari-hari. Uji juga dilakukan pada suhu rendah sekitar 5 derajat Celsius.
"Pengujian itu dilakukan secara komprehensif, termasuk uji performa pada suhu rendah sekitar 5 derajat Celsius untuk memastikan karakteristik bahan bakar tetap stabil dan tidak mengalami pembekuan," kata Harry Yanto dilansir Antara, Minggu (19/7).
Komposisi B50 Berbeda dari Anggapan Umum
Menurut Harry, masih banyak konsumen yang menganggap B50 terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit. Ia menjelaskan komposisi tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Formula B50 memadukan sekitar 35 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbasis kelapa sawit dan 15 persen Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). Sementara sisanya merupakan solar fosil.
Baca Juga: Biodiesel B50 Diklaim Cocok untuk Mesin Toyota hingga Mercedes, Bahlil: Sudah Uji Jalan Enam Bulan
HVO Diklaim Menjadi Pembeda
Harry mengatakan HVO memiliki kualitas lebih baik sebagai campuran bahan bakar diesel. Meski biaya produksinya lebih tinggi dibandingkan FAME, HVO dinilai mampu mengurangi potensi korosi pada sistem bahan bakar.
"Nah bedanya antara B40, B30 dengan B50 ini, dia tidak menggunakan 50 persen dari palm oil. Jadi kalau tidak salah itu 35 persen palm oil, 15 persen HVO. HVO ini memang harganya sedikit lebih mahal, tapi dia itu bagus untuk campuran solar, sehingga tidak bisa menyebabkan korosi yang lebih parah di dalam saluran bahan bakar seperti itu," jelas dia.
KIA Tunggu Kepastian Implementasi B50
KIA menyatakan masih menunggu kepastian pemerintah terkait implementasi B50, khususnya untuk kendaraan diesel dengan standar emisi Euro 4.
Perusahaan menegaskan mesin diesel common rail bertekanan tinggi yang digunakan saat ini secara teori tetap direkomendasikan menggunakan Pertamina Dex. Bahan bakar tersebut memiliki kandungan sulfur di bawah 50 ppm sesuai kebutuhan mesin diesel Euro 4.
Di pasar Indonesia, Carnival Diesel menjadi satu-satunya model diesel yang masih dipasarkan KIA. Kendaraan tersebut telah menggunakan mesin diesel common rail berstandar Euro 4.
Sebelumnya, KIA juga memasarkan Seltos Diesel, Sorento Diesel, Sportage Diesel, serta generasi terdahulu Carnival Diesel. Seluruh model tersebut kini sudah tidak lagi dipasarkan.
Mesin Diesel Modern Lebih Sensitif
KIA menilai kendaraan diesel modern pada dasarnya siap mengikuti perkembangan kualitas bahan bakar. Namun, sistem injeksi, filter, dan saluran bahan bakarnya lebih sensitif dibandingkan mesin diesel generasi sebelumnya karena harus memenuhi standar emisi Euro 4.
Di sisi lain, kesiapan distribusi bahan bakar rendah sulfur di Indonesia masih berlangsung secara bertahap. Berdasarkan informasi yang diterima industri melalui Gaikindo, ketersediaan solar berstandar Euro 4 secara nasional diperkirakan baru akan merata pada akhir 2027.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi, mengatakan pemerintah menargetkan distribusi BBM B50 ke seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) selesai pada 1 Oktober 2026.
"Target saya adalah 1 Oktober sudah full (tersalurkan) B50 di semua titik (SPBU)," kata Eniya saat ditemui di Jakarta, Senin (20/7).
Baca Juga: Penerapan B50 Berpotensi Menaikkan Biaya Operasional Kendaraan Diesel Hingga 10 Persen
Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap PT Kia Sales Indonesia yang masih menunggu kepastian implementasi dan spesifikasi teknis B50 sebelum penerapannya secara penuh pada kendaraan diesel berstandar Euro 4.
Senada dengan kesiapan KIA, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan industri otomotif nasional siap mengimplementasikan penggunaan biodiesel B50. Kesiapan tersebut didukung hasil road test yang menunjukkan performa kendaraan berjalan baik.
Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, mengatakan seluruh pelaku industri otomotif telah siap mendukung penerapan mandatori B50.
"Industri otomotif sudah siap mengimplementasikan B50, dan road test untuk B50 berjalan lancar dan baik," ujar Putu Juli Ardika di Jakarta.
Menurut Putu, kesiapan tersebut juga didukung oleh ekosistem manufaktur otomotif nasional yang semakin berkembang. Selain mendukung program transisi energi pemerintah, implementasi B50 dinilai menjadi peluang untuk memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia, termasuk di pasar ekspor.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara