PONTIANAK POST – Hilirisasi bauksit di Kalimantan Barat memasuki fase penting. Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) yang digarap PT Aneka Tambang Tbk (Antam) bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2027–2028.
Proyek bernilai investasi besar tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat industri pengolahan mineral dalam negeri, khususnya mengubah komoditas bauksit dari bahan mentah menjadi produk bernilai tambah berupa alumina hingga aluminium.
SGAR Mempawah menjadi salah satu proyek strategis yang diharapkan mampu memperkuat posisi Kalimantan Barat dalam rantai industri aluminium nasional.
Dari Bauksit Mentah Menuju Produk Bernilai Tambah
Direktur Utama Antam Untung Budiharto mengatakan, perusahaan terus memperkuat strategi pengembangan bisnis mineral, termasuk melalui optimalisasi aset yang sudah dimiliki dan pengembangan proyek baru.
Selain melakukan eksplorasi sumber daya emas, baik di dalam negeri maupun menjajaki peluang di luar negeri seperti Arab Saudi, Antam juga fokus memperkuat bisnis bauksit melalui proyek SGAR bersama Inalum.
“Struktur bisnis SGAR dirancang untuk memastikan kesinambungan rantai pasok domestik,” ujar Untung dalam rapat bersama Komisi VI DPR di Jakarta pada beberapa waktu lalu.
Melalui proyek tersebut, Antam akan berperan dalam penyediaan bijih bauksit untuk kebutuhan pengolahan menjadi alumina. Produk alumina selanjutnya akan menjadi bahan baku untuk tahap produksi aluminium di dalam negeri.
Skema tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah sekaligus menciptakan nilai ekonomi lebih besar dari sumber daya alam Indonesia.
SGAR Mempawah Jadi Kunci Hilirisasi Kalbar
Proyek SGAR fase 2 yang terintegrasi dengan rencana pembangunan smelter aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, menjadi salah satu proyek utama dalam pengembangan industri mineral nasional.
Antam menyebut sejumlah tahapan penting proyek telah diselesaikan, mulai dari bankable feasibility study (BFS), penetapan final investment decision (FID), kajian integrasi proyek, hingga persiapan tender dan pelaksanaan engineering, procurement, and construction (EPC).
Dengan pembangunan fasilitas pengolahan tersebut, Kalbar tidak hanya menjadi daerah penghasil bauksit, tetapi juga berpotensi menjadi pusat industri pengolahan mineral.
Selama ini, sebagian besar komoditas mineral Indonesia masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan pengolahan di dalam negeri. Melalui program hilirisasi, pemerintah mendorong agar nilai tambah ekonomi dapat dinikmati lebih besar di wilayah penghasil.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Kehadiran SGAR Mempawah diproyeksikan memberikan dampak terhadap perekonomian Kalbar, baik melalui aktivitas industri, kebutuhan tenaga kerja, maupun tumbuhnya sektor pendukung seperti logistik, jasa, dan usaha lokal.
Posisi Kalbar sebagai daerah penghasil bauksit menjadi modal utama dalam pengembangan industri aluminium nasional.
Dengan tersedianya fasilitas pengolahan dari hulu hingga hilir, rantai industri diharapkan menjadi lebih efisien karena bahan baku dapat diproses lebih dekat dengan sumber tambang.
Pembangunan kawasan industri berbasis mineral juga diyakini dapat memperkuat daya saing Kalbar dalam menarik investasi baru.
Antam Perkuat Portofolio Mineral Strategis
Selain mengembangkan bisnis bauksit, Antam juga terus memperluas portofolio mineral strategis lainnya.
Dalam sektor emas, perusahaan tengah menjajaki peluang eksplorasi internasional, salah satunya melalui pendaftaran lelang blok prospek emas di Arab Saudi. Namun, Antam memastikan penguatan aset domestik tetap menjadi prioritas.
Untung mengatakan strategi perusahaan dilakukan dengan menyeimbangkan optimalisasi aset yang ada, eksplorasi wilayah baru, serta kerja sama pengembangan sumber daya mineral.
Hingga September 2025, Antam mencatatkan laba bersih sebesar Rp6,6 triliun atau tumbuh 197 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Melalui proyek SGAR Mempawah, Antam berharap hilirisasi mineral dapat memperkuat industri nasional sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah penghasil seperti Kalimantan Barat. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro