Rupiah Melemah ke Rp17.930 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan BI dan Cermati Memanasnya Kembali Ketegangan Geopolitik Global

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23 WIB
Ilustrasi: Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.)
Ilustrasi: Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.)

PONTIANAK POST- Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) serta meningkatnya kembali tensi geopolitik global.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah turun 42 poin atau 0,13 persen menjadi Rp17.930 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.888 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pergerakan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sikap wait and see investor menjelang pengumuman hasil RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 21-22 Juli 2026.

“Kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.850–17.975 per dolar AS seiring pelaku pasar menantikan hasil keputusan kebijakan moneter tersebut,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Menurut Josua, pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen. Sebelumnya, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin pada Mei 2026 setelah suku bunga bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025.

Meski sempat melemah hingga menembus Rp18 ribu per dolar AS pada awal Juni, rupiah perlahan kembali menguat setelah BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026. Pengetatan kebijakan moneter kembali berlanjut pada RDG Bulanan 18 Juni 2026 dengan kenaikan 25 basis poin sehingga BI-Rate berada di level 5,75 persen.

“Kami memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen,” ungkap dia.

Selain faktor domestik, sentimen eksternal juga memengaruhi pergerakan rupiah. Ketegangan geopolitik yang sempat mereda setelah muncul usulan gencatan senjata dari sejumlah negara mediator kembali meningkat menyusul ancaman kelompok Houthi di Yaman untuk memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi.

“Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, sehingga mendorong harga minyak mentah Brent naik 2,01 persen menjadi 91,01 dolar AS per barel,” kata Josua. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
wait and see pasar dolar as bank indonesia suku bunga rupiah