Hilirisasi Butuh Listrik Besar, Pemerintah Siapkan 93 Proyek Energi Hidrogen Senilai Rp32 triliun

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 22:56 WIB
Tangki penyimpanan hidrogen hasil produksi Green Hydrogen Plant di PLTGU Muara Tawar, Jawa Barat. Hidrogen diproyeksikan menjadi sumber energi baru untuk menopang kebutuhan listrik industri hilirisasi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta menekan biaya pembangkitan listrik hingga 75 persen. (Dok PLN)
Tangki penyimpanan hidrogen hasil produksi Green Hydrogen Plant di PLTGU Muara Tawar, Jawa Barat. Hidrogen diproyeksikan menjadi sumber energi baru untuk menopang kebutuhan listrik industri hilirisasi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta menekan biaya pembangkitan listrik hingga 75 persen. (Dok PLN)

 

PONTIANAK POST – Pemerintah mempercepat pengembangan hidrogen sebagai sumber energi baru untuk menopang lonjakan kebutuhan listrik industri seiring percepatan hilirisasi nasional. Sebanyak 93 proyek hidrogen dengan nilai investasi sekitar Rp32 triliun dipetakan guna memperkuat ketahanan energi, meningkatkan daya saing industri, dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan hidrogen diproyeksikan menjadi salah satu fondasi kemandirian energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan listrik sektor industri dan ketidakpastian pasokan energi global.

Menurutnya, pengembangan hidrogen tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga memastikan ketersediaan pasokan listrik bagi industri pengolahan mineral, logam, petrokimia, hingga manufaktur yang membutuhkan energi dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Industri Butuh Energi Andal

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan proyek hidrogen diprioritaskan untuk mendukung sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan.

Selain memperkuat pasokan energi, hidrogen dinilai mampu meningkatkan efisiensi biaya pembangkitan listrik. Jika pembangkit diesel memerlukan biaya sekitar USD1 per kWh, teknologi hidrogen diperkirakan dapat menurunkannya menjadi sekitar USD0,25 per kWh, atau lebih hemat hingga 75 persen.

Efisiensi tersebut diharapkan meningkatkan daya saing kawasan industri baru yang memiliki kebutuhan energi sangat besar.

Strategis bagi Kalimantan Barat

Pengembangan hidrogen juga dinilai relevan bagi Kalimantan Barat yang tengah mendorong hilirisasi bauksit dan aluminium melalui pembangunan kilang alumina, smelter, serta penguatan Pelabuhan Kijing sebagai pusat logistik industri.

Ketersediaan listrik menjadi faktor krusial karena industri pengolahan mineral termasuk sektor yang paling intensif menggunakan energi.

Tantangan itu diperkirakan semakin besar seiring ekspansi industri aluminium nasional. Laporan terbaru Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menyebut pengembangan proyek alumina dan aluminium di Indonesia berpotensi menambah sekitar 8 gigawatt (GW) pembangkit listrik captive berbahan bakar batu bara.

Khusus di Mempawah, Kalimantan Barat, ekspansi industri aluminium diperkirakan membutuhkan sekitar 1,25 GW pembangkit captive untuk memasok kebutuhan energi smelter dan kilang alumina. Besarnya kebutuhan listrik tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada pasokan energi berskala besar dan andal.

Dalam konteks itu, hidrogen dinilai berpotensi menjadi solusi jangka panjang. Selain mengurangi ketergantungan pada pembangkit batu bara captive, energi hidrogen juga dapat membantu industri aluminium Indonesia memenuhi tuntutan pasar global yang semakin mengutamakan produk rendah emisi.

Dorong Industri Baru

Pemerintah menilai pengembangan hidrogen tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang lahirnya industri baru, menarik investasi, dan memperkuat rantai pasok energi domestik.

Pemanfaatannya pun mulai diuji pada sektor transportasi melalui bus Hydrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) milik Perum DAMRI sebagai bagian dari pengembangan green hydrogen corridor.

Dengan kebutuhan listrik industri yang terus meningkat, hidrogen diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga keberlanjutan program hilirisasi sekaligus mendukung target transisi energi nasional. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kebutuhan listrik industri energi hidrogen smelter bauksit Kalimantan Barat hilirisasi industri transisi energi