PONTIANAK POST – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperingatkan risiko kekurangan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada 2027 apabila program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) tidak segera dipercepat.
Ancaman tersebut semakin besar seiring potensi dampak fenomena El Nino terhadap produksi sawit nasional.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan persoalan utama yang membebani produksi sawit nasional saat ini adalah lambannya realisasi PSR.
“Masalah utama yang membebani produksi kita sebenarnya adalah terkendalanya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Seharusnya produksi kita tahun lalu sudah bisa di atas 60 juta ton apabila PSR itu berhasil," katanya, dikutip dari situs resmi GAPKI, Rabu (2/9).
"Kendala utamanya ada pada perizinan, padahal dana dari BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) sudah disediakan tetapi tidak pernah bisa dicapai karena realisasi PSR yang sangat lambat,” beber Eddy.
Baca Juga: El Nino Diperkirakan Tekan Produksi Sawit Maksimal 3 Juta Ton, Gapki Optimistis B50 Tetap Jalan
Produksi CPO Berpotensi Turun
Menurut Eddy, percepatan PSR diperlukan untuk menjaga kapasitas produksi nasional di tengah ancaman cuaca ekstrem.
GAPKI memperkirakan kondisi Strong El Nino dan Positive Indian Ocean Dipole (IOD) yang memicu kekeringan berpotensi menekan produksi CPO pada tahun depan.
Tanpa dampak El Nino, produksi CPO nasional diperkirakan dapat mencapai 59,5 juta ton.
Namun, Eddy menyebut dampak El Nino berpotensi memangkas produksi sekitar 3 juta ton sehingga produksi diperkirakan turun menjadi sekitar 56 juta ton.
Semula, GAPKI memperkirakan penurunan produksi akibat El Nino mencapai 5 juta ton. Namun, ternyata El Nino tidak separah perkiraan sehingga diproyeksikan penurunan produksi hanya 3 juta ton.
Konsumsi Domestik Terus Meningkat
GAPKI menilai penurunan produksi tersebut perlu diantisipasi karena kebutuhan minyak sawit di dalam negeri terus meningkat.
Sektor biodiesel menjadi salah satu penyerap utama CPO domestik. Menurut Eddy, kebutuhan CPO untuk biodiesel diperkirakan mencapai lebih dari 17,4 juta ton, atau sekitar 16,5 persen dari produksi.
Kondisi tersebut membuat ruang pasokan untuk kebutuhan ekspor berpotensi semakin terbatas apabila produksi nasional mengalami penurunan.
Baca Juga: GAPKI: Karhutla Tak Bisa Semata-mata Dikaitkan dengan Perkebunan Sawit
Ekspor CPO Diproyeksikan Turun
Eddy memperkirakan penurunan produksi akan berdampak terhadap volume ekspor CPO Indonesia.
Menurut dia, volume ekspor yang pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 32 juta ton diproyeksikan turun menjadi sekitar 27 juta ton.
Penurunan tersebut, menurut GAPKI, merupakan konsekuensi dari meningkatnya prioritas pemenuhan kebutuhan minyak sawit di dalam negeri.
Kondisi pasokan yang lebih ketat juga berpotensi memengaruhi penerimaan dana kelolaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang digunakan untuk mendukung program biodiesel.
Selain itu, GAPKI mengingatkan perubahan pasokan CPO dapat berdampak terhadap harga CPO domestik dan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang diterima petani.
GAPKI Dorong Percepatan PSR
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, GAPKI menyambut langkah pemerintah yang mulai melakukan perbaikan terhadap hambatan perizinan dalam pelaksanaan PSR.
GAPKI menilai percepatan program tersebut menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sawit rakyat sekaligus menjaga pasokan CPO nasional.
Eddy menegaskan PSR perlu segera digenjot agar produksi sawit nasional mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus menjaga kapasitas ekspor.
Dengan meningkatnya kebutuhan CPO untuk biodiesel dan potensi tekanan produksi akibat faktor iklim, percepatan peremajaan tanaman sawit dinilai semakin penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan sawit Indonesia.*
Editor : Uray RonaldSumber : Gapki