PONTIANAK POST - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan proses perizinan proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina oleh perusahaan Rusia, United Company Rusal (UC Rusal), di Kalimantan sudah mendekati final.
Namun di balik kabar positif itu, ada sejumlah detail penting yang justru belum mau dibuka pemerintah.
1. Nama Mitra Lokal Belum Diungkap
Bahlil menegaskan proyek ini akan digarap Rusal bersama pengusaha dalam negeri.
Baca Juga: Terkubur 12 Tahun, Janji Rusia Bangun Pabrik Bauksit di Kalimantan Akhirnya Mau Terealisasi
“Rusal, ya. Mereka akan membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina. Dan itu di daerah Kalimantan. Untuk urusan perizinannya sudah tahap hampir final, kata Bahlil di Jakarta, Jumat (11/9), sebagaimana dikutip Antara.
Walau demikian, siapa perusahaan lokal yang akan menjadi mitra Rusal dalam proyek ini masih dirahasiakan.
Pemerintah hanya menyebut kolaborasi sudah berjalan, tanpa merinci identitas pihak yang terlibat.
2. Nilai Investasi Masih Ditutup Rapat
Satu hal lain yang belum bisa dijawab Bahlil adalah besaran dana yang akan digelontorkan Rusal untuk proyek ini.
Ia beralasan angka investasi baru bisa diumumkan setelah studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek rampung dikerjakan.
Artinya, publik masih harus menunggu tahap berikutnya untuk mengetahui skala sebenarnya dari investasi raksasa aluminium dunia ini di Indonesia.
3. Lokasi Pasti dan Kapasitas Pabrik Belum Jelas
Kalimantan yang disebut Bahlil masih berupa penyebutan wilayah secara umum, bukan lokasi definitif.
Belum ada informasi resmi mengenai kabupaten atau kota mana yang akan menjadi tuan rumah pabrik, berapa kapasitas produksi yang ditargetkan, maupun kapan konstruksi akan dimulai.
Sebagai pembanding, Indonesia saat ini sudah punya Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun.
Namun, belum ada konfirmasi apakah proyek baru Rusal ini akan terhubung dengan fasilitas tersebut atau berdiri terpisah di lokasi lain.
Baca Juga: Bauksit Tembus 17,76 Juta Ton: Kalbar Jadi Tumpuan Hilirisasi Alumina dan Aluminium Nasional
Bagian dari Proyek Prioritas Rp618 Triliun
Ketidakjelasan detail ini terjadi di tengah besarnya ambisi hilirisasi nasional. Kementerian ESDM mencatat pemerintah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional pada 2026.
Total nilai investasinya sekitar Rp618 triliun, mencakup komoditas strategis termasuk bauksit dan nikel.
Rencana investasi Rusal ini juga tak lepas dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan pihak Rusia dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11.
Saat itu di Vladivostok pada 3 September 2026, Prabowo menyebut Rusal akan masuk ke Indonesia dalam skala besar.
Editor : Khoiril Arif Ya'qob