PONTIANAK POST - Monster Pabrik Rambut mengadaptasi nuansa horor retro yang menempatkan monster sebagai antagonis utama.
Pendekatan ini terasa segar di tengah tren film horor Indonesia yang lebih banyak mengandalkan makhluk astral atau manusia sebagai sosok menakutkan.
Dalam sesi skrining khusus, Edwin menjelaskan bahwa kehadiran monster bukan sekadar upaya menghadirkan elemen baru dalam film horor.
Baca Juga: Film Horor Tak Melulu Hantu, Monster Pabrik Rambut Angkat Teror Eksploitasi Pekerja
”Monster buat saya adalah bentuk yang belum dijelaskan secara ilmiah. Biasanya dalam budaya pop, monster itu jadi pengingat terhadap bencana atau hal buruk. Di sini monster rambut dan Bona, yang bisa regenerasi tubuh, adalah pengingat mengenai sistem kerja yang harus dievaluasi,” papar Edwin, dikutip dari Jawapos.
Melalui film ini, Edwin juga menyoroti budaya kerja yang menormalisasi dan bahkan meromantisasi kerja berlebihan.
Praktik memaksa pekerja bekerja melampaui jam kerja, menguras kemampuan mereka tanpa imbalan yang layak, serta mengabaikan hak-hak pekerja digambarkan sebagai horor yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan sosial tersebut membuat Monster Pabrik Rambut terasa dekat dengan realitas. Kehadiran monster justru memperkuat ketegangan sekaligus menjadi metafora atas persoalan yang diangkat.
Body Horror sebagai Kritik terhadap Kapitalisme
Selain teror monster, film ini juga menghadirkan unsur body horror, yakni kengerian yang muncul dari tubuh manusia yang rusak atau mengalami perubahan tidak wajar.
Elemen tersebut terlihat dari anggota tubuh Bona yang terus putus dan tumbuh kembali, hingga kemunculan rambut raksasa yang bergerak sendiri.
Bagi Edwin, unsur body horror bukan sekadar pemicu rasa ngeri. Tubuh yang rusak dan terus dipaksa berfungsi menjadi simbol bagaimana manusia dipaksa memenuhi tuntutan produktivitas.
”Manusia dan tubuhnya jadi alat kapitalisme untuk menguras segalanya,” tambah Edwin.
Untuk menghadirkan efek yang lebih nyata, tim kreatif tidak mengandalkan CGI. Mereka menggunakan properti praktikal berupa model tubuh manusia yang dilumuri darah palsu sehingga adegan terasa lebih realistis.
Pendekatan ini sekaligus menghadirkan nuansa horor klasik dengan visual yang khas.
Baca Juga: Cerita Mistis Nirina Zubir, Sosok Misterius Muncul di Foto Syuting Film Horor
Menarik di Awal, Bergeser ke Konflik yang Lebih Klise
Meski menawarkan gagasan yang menarik, alur cerita film dinilai belum sepenuhnya konsisten. Pada bagian awal, pembangunan konflik berhasil memancing rasa penasaran penonton.
Namun ketika memasuki pertengahan cerita, ritme film menjadi lebih cepat.
Fokus pada isu overwork dan eksploitasi tenaga kerja perlahan bergeser ke konflik yang lebih umum, yakni pertarungan tokoh utama melawan monster jahat.
Baca Juga: Febby Rastanty Alami Kejadian Mistis di Film Horor Terbarunya
Meski demikian, Monster Pabrik Rambut tetap dapat menjadi pilihan menarik bagi penggemar horor, terutama mereka yang menyukai film monster bergaya klasik.
Bagi pencinta horor retro, film ini menghadirkan nostalgia dalam balutan teror modern.
Sementara bagi pekerja yang merasa mengalami tekanan kerja berlebihan tanpa pemenuhan hak yang memadai, film ini bisa menjadi pengingat bahwa pengalaman tersebut merupakan persoalan yang nyata. (*)
Editor : Chairunnisya