Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cerita Dokter yang Jadi Relawan di Rumah Karantina

Administrator • Rabu, 19 Agustus 2020 | 11:20 WIB
Photo
Photo
Selalu Galau Saat Pulang ke Rumah

Agustus 2020, adalah bulan kelima bagi dr. Panggi Anggriawan mengabdi di Rumah Karantina Pontianak. Panggi adalah dokter pertama yang bertugas di rumah yang dikhususkan untuk penanganan medis bagi pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala.

-----

KEPUTUSAN Panggi untuk merawat pasien positif Covid-19 menuai pro-kontra keluarga. Orang tuanya setuju dengan keputusan tersebut. Alasannya karena menganggap itu sudah menjadi tanggung jawab sebagai dokter.  Namun, istrinya tidak setuju lantaran khawatir dengan keselamatan jiwa sang suami meski itu adalah pengabdian seorang dokter.

"Pelan-pelan saya sampaikan ke istri dan itu komitmen saya untuk menjalankan tugas itu," kata Panggi.  Kekhawatiran istri bukan tanpa alasan. Panggi berinteraksi langsung dengan pasien positif dan itu dilakukan dalam visit pasien setiap hari.

Visit pasien itu dilakukan karena untuk memantau perkembangan pasien. Mereka yang dirawat di rumah kitu adalah pasien dengan gejala ringan atau umumnya tanpa gejala atau biasa disebut OTG. Saat ini istilah OTG berganti menjadi kasus konfirmasi tanpa gejala (asimtomatik). Sementara pasien dengan gejala berat di rawat di rumah sakit, seperti di RSUD Soedarso dan RS Pontianak Kota.

"Saya harus memantau terus karena harus tahu dengan kondisi sekecil apapun pada pasien," jelas Panggi.

Selama visit, Panggi harus memastikan dirinya dilengkapi dengan alat pelindung diri. Baginya, keamanan dalam penggunaan alat pelindung adalah keutamaan karena untuk melindungi diri dari Covid-19.

Baju hazmat misalnya. Persoalannya adalah pada panas yang menyengat ketika mengenakan baju berbahan tebal ini. Semakin banyak pasien yang dirawat maka semakin lama baju itu dipakai. Otomatis rasa panas akan semakin lama terasa. Sebaliknya jika pasien sedikit, penggunaan hazmat lebih singkat.

Meski demikian, ia tetap khawatir. "Rasa khawatir dan takut itu yang membuat saya berhati-hati. Jika saya bilang berani khawatir malah menyepelekan,"  tambah Panggi.

Satu bulan pertama di rumah karantina, Panggi masih seorang diri bertugas sebagai relawan dokter. Baru di bulan kedua ada tambahan relawan dokter yang bertugas di rumah karantina. "Bulan kedua itu bertambah empat orang dokter. Totalnya lima orang," kata Panggi.

Di bulan pertama bertugas Panggi tidak pulang ke rumah. Satu bulan penuh dihabiskannya bergulat dengan penanganan pasien Covid-19.

Ia baru pulang ke rumah di bulan kedua bertugas. Namun tak langsung pulang. Untuk keamanan ia harus di-rapid test dulu. "Begitu hasil nonreaktif saya pulang ketemu keluarganya," kata Panggi.

Tapi hasil rapid test itu pun tak serta-merta membuatnya tenang. Ia masih tetap khawatir saat pulang ke rumah. Panggi tetap galau. Namun, baginya protokol Covid adalah kata kunci. Makanya begitu sampai di rumah ia tak langsung bercengkrama dengan keluarga.

Begitu sampai ia bersih-bersih diri. Pakaian yang digunakan langsung dicuci. Bahkan tetap menggunakan masker selama di rumah.  Meski demikian, istrinya masih tetap waswas saat bertemu dirinya. "Pelan-pelan saya sampaikan kondisinya seperti apa. Yang membuat tenang itu karena hasil rapid-nya," terang Panggi.

Menurutnya, mental memang harus dipersiapkan sejak awal sebelum memutuskan untuk menjadi relawan dokter. Tak hanya untuk keluarga tetapi juga saat bertugas. "Saya merasa itu adalah panggilan hati untuk dijalankan," jelas dia.

Ia pun sudah siap dengan segala risiko yang dihadapi ketika menjadi relawan. "Jika memang terjadi sesuatu hal yang buruk, utamanya saya sudah berbakti untuk negara dan itu tugas serta tanggung jawab saya sebagai dokter," ungkap Panggi.

Panggi terhitung dokter muda. Masa kerjanya sebagai dokter baru berjalan tiga tahun terakhir ini. Sebelum di Rusunawa, Panggi bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pal 3. Sebelum itu ia juga sempat bertugas di Puskesmas Paris 2.

Sekarang Panggi harus membagi tugasnya. Pagi ia di puskesmas dan siang di Rusunawa. Terkadang ia memutuskan untuk menginap di Rusunawa meski tidak tiap hari.

Ia berpendapat, pengobatan untuk pasien Covid-19 tak cukup hanya medis. Dukungan psikis dan terapi dengan memberikan ucapan penyemangat harus dilakukan.

Ini karena pasien positif merasa tak percaya terkena Covid-19. Kondisi itu pun membuat pasien menjadi drop sehingga ucapan untuk membangun semangat sangat penting. Pasien perlu diyakinkan bahwa Covid-19 bisa sembuh.

Sebagai dokter pun Panggi juga mesti bersemangat. Semangatnya jangan sampai turun dan betul-betul berjuang hingga titik darah penghabisan untuk memerangi Covid-19.

Meski demikian ia mengingatkan bahwa garda terdepan memerangi Covid-19 adalah masyarakat.

"Tenaga medis menjadi garda terakhir. Garda terdepan untuk memutuskan rantai penularan Covid-19 adalah masyarakat dengan menaati protokol kesehatan," harap Panggi. (mse) Editor : Administrator
#covid-19