Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tim PKM-RE UNTAN Ciptakan Atraktan Daun Melada untuk Pertanian Berkelanjutan Berawal dari Tingginya Serangan Organisme Pengganggu Tanaman

A'an • Jumat, 19 Juli 2024 | 16:22 WIB

 

 

AMELMUTER: Tim PKM-RE UNTAN Ciptakan Atraktan Daun Melada untuk Pertanian Berkelanjutan.
AMELMUTER: Tim PKM-RE UNTAN Ciptakan Atraktan Daun Melada untuk Pertanian Berkelanjutan.
 

Tingginya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), hama lalat buah  menyebabkan kerugian ekonomis. Tim PKM-RE UNTAN Ciptakan Atraktan Daun Melada untuk Pertanian Berkelanjutan (Amelmuter) yang dianggap lebih ekonomis dan ramah lingkungan dan cocok untuk semua jenis tanaman buah.

 

MARSITA RIANDINI, Pontianak.

 

UPAYA pengendalian lalat buah selama ini masih belum menunjukkan hasil yang maksimal. Populasi dan intensitas serangan lalat buah terus meningkat sehingga diperlukan teknik pengendalian yang lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan.

Febrina Feby bersama tim melakukan terobosan untuk menciptakan atrakan yang dapat memikat lalat buah yang nantinya masuk dalam perangkap.

Ketua Tim PKM-RE Universitas Tanjungpura, Febriana Feby menjelaskan, selama ini salah satu metode pengendalian yang umum digunakan adalah penggunaan pestisida sintetis. Namun, penggunaan pestisida ini membawa dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. "Hampir 80% petani sayuran di Indonesia menggunakan pestisida sintetis untuk mengendalikan serangan hama. Rata-rata penggunaan pestisida sintetis pada usaha tani sayuran dapat mencapai 20% dari biaya produksi," ujarnya mengutip Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2021.

Menurut Feby, penggunaan pestisida sintetis ini, jika dilakukan secara berlebihan dan tanpa memperhatikan kepadatan populasi hama, dapat menimbulkan berbagai dampak negatif untuk kesehatan manusia maupun lingkungan.

"Atas dasar inilah, mahasiswa yang tergabung dalam tim PKM-RE Universitas Tanjungpura menggagas ide dan melakukan penelitian mencari alternatif atraktan biologis," ulasnya.

Tim penelitian terdiri dari 5 anggota yang berasal dari fakultas dan program studi berbeda, yakni Febrina Feby prodi Agroteknologi (2021), Sepianto prodi Agroteknologi (2021), Bayu Julianto prodi Agroteknologi (2021), Hidayat prodi Biologi (2022) dan Putri Januarti prodi Kimia (2022).

Dalam peneltian ini, Cico Jhon Karunia Simamora, S.P., M.Si., selaku Dosen Pendamping bersama mahasiswa Tim PKM-RE Universitas Tanjungpura mengembangkan tanaman melada yang dikemas dengan teknologi enkapsulasi bersifat slow release sebagai atraktan biologis.

"Daun melada mengandung senyawa yang mirip Metil Eugenol untuk pengendalian lalat buah. Atraktan ini diberi nama Amelmuter akronim dari Atraktan Melada Murah Terenkapsulasi bersifat slow release,"ungkap dia.

Feby menjelaskan tanaman melada memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai atraktan biologis. Potensi tanaman melada sebagai atraktan didapatkan secara tidak sengaja setelah salah satu anggota tim melihat lalat buah banyak mengerumuni daun melada disekitaran kebunnya.

Populasi tanaman melada yang berlimpah dan sangat mudah didapatkan di Asia Tenggara menjadikan amelmuter sebagai solusi pertanian berkelanjutan yang efektif untuk mengendalikan lalat buah dibandingkan dengan pestisida sintetis. Amelmuter aman bagi manusia dan lingkungan, serta lebih hemat biaya dalam jangka panjang. Amelmuter telah teruji karena melalui proses penelitian dan uji lapangan sejak April lalu.

"Komposisi terbaik yang efektif sebagai pengganti atraktan sintetis yaitu pada perbandingan bubuk melada terenkapsulasi dan media Maltodekstrin-Gum Arabic, dengan perbandingan 10:10 dan 12:10 untuk hasil optimal. Dimana atraktan ini bisa tahan hingga berbulan-bulan," ungkap dia.

Febrina Feby lebih lanjut mengungkapkan, atraktan biologis Amelmuter yang telah diaplikasikan pada beberapa lahan pertanian rakyat sekitar Pontianak, Kalimantan Barat terbukti efektif. Tim secara berkala akan berkoordinasi untuk membantu permasalahan OPT yang dihadapi oleh petani.

Penelitian dan inovasi amelmuter ini diharapkan berdampak positif dalam mengatasi permasalahan hama lalat buah agar tidak adanya penurunan kualitas dan kuantitas hasil pertanian. Upaya ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 memastikan keberlanjutan sistem pertanian, ketahanan pangan dan gizi yang memadai bagi masyarakat.

“Dengan diciptakan inovasi atraktan biologis amelmuter  yang kita buat, harapannya dapat menjadi solusi alternatif yang ekonomis dan ramah lingkungan untuk mengatasi ketergantungan terhadap pestisida kimia bagi masyarakat khususnya petani,” jelasnya.

Tanaman Melada masih satu keluarga dengan tanaman lada yaitu Piperaceae.  Tanaman Melada mudah didapat dan bisa tumbuh dimana saja seperti di rawa, pasang surut, kering.

" Tidak perlu perawatan khusus karena tanaman Melada memiliki batang pangkal yang kuat, lebih tahan terhadap penyakit dan umumnya digunakan sebagai batang bawah untuk sambung Lada,"ujarnya.

Pengolahannya sangat mudah dan  menggunakan bahan-bahan yang mudah didapatkan. "Amelmuter menggunakan bahan-bahan 100% alami sehingga tidak akan menimbulkan residu yang membahayakan bagi tanaman maupun mengganggu kesehatan,"katanya.

Aplikasi amelmuter memerlukan botol plastik yang dilubangi, kantong teh ataupun kain bekas, tali dan yellow kop (opsional). Cara kerjanya dengan membungkus bubuk (olahan) daun Melada yang terenkapsulasi ke dalam kantong teh/kain bekas  lalu dibasahi dengan air. Selanjutnya, dimasukan ke dalam botol yang telah diisi dengan seperempat air. Perangkap kemudian dapat dipasang pada lahan tanaman yang dapat gangguan oleh lalat buah seperti cabai, jambu, terong, timun dan lain .

"Kami membuat inovasi yang mudah diterapkan oleh petani sehingga proses pembuatan dan pemasangan perangkap lalat buah ini dapat dengan mudah ditiru oleh para petani," pungkasnya. (*)

Editor : A'an
#PKM #untan #Amelmuter #Atraktan Daun Melada