
Oleh: Y Priyono Pasti*
HASIL Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP resmi dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Selasa (26/5/2026) pukul 13.00 WIB. Berdasarkan evaluasi pendidikan secara nasional, rata-rata nilai TKA mata pelajaran Matematika jenjang SD adalah 42,41 dan SMP hanya 40,34, sedangkan rata-rata nilai Bahasa Indonesia jenjang SD adalah 60,14 dan jenjang SMP hanya 60,83. Sementara pada jenjang SMA/sederajat, nilai mata pelajaran Matematika secara rata-rata 36,10 dan Bahasa Indonesia 55,38.
Hasil rata-rata nasional TKA yang masih rendah menjadi alarm evaluasi pendidikan nasional. Skor yang berada di bawah target menunjukkan perlunya perbaikan menyeluruh pada kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran harus berpusat pada siswa (student-centered), mendalam, menyenangkan, bermakna, dan interaktif agar mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis dan analitis.
Fakta itu menunjukkan persoalan pendidikan Indonesia bukan hanya soal akses dan partisipasi, melainkan juga menyangkut kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, determinasi pendidikan dan pembelajaran menjadi keharusan yang mutlak dilakukan.
Berbagai angka makro pendidikan sebagaimana tercermin dalam hasil TKA SD, SMP, dan SMA/sederajat menjadi tantangan pemerintah (Kemedikdasmen) ke depan yang harus segera dibenahi untuk mewujudkan mimpi Indonesia Emas 2045. Pemerintah (Kemendikdasmen) mesti menempatkan angka-angka hasil TKA tersebut dalam konteks yang lebih luas, bahan refleksi dan evaluasi mendalam untuk melakukan determinasi peningkatan mutu pendidikan.
Potret Objektif
Hasil TKA adalah potret objektif yang memaksa kita bercermin lebih dalam secara jujur. Melalui angka-angka itu kita diajak untuk berefleksi, berpikir maju dan bertumbuh sembari mencari solusi, melakukan determinasi untuk perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Hasil itu mendorong pemerintah (Kemendikdasmen) untuk berbenah secara sistematis, holistik, dan berkesinambungan.
Hasil belajar dan prestasi akademik siswa merupakan kulminasi dari sebuah proses pembelajaran yang panjang, berkesinambungan, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor interaktif (baik eksternal maupun internal). Capaian hasil akademik siswa (yang terartikulasi) dalam nilai TKA, selalu ada proses panjang yang menyertai dan membentuknya, mulai dari kebiasaan belajar siswa di rumah, lingkungan sekitar, praktik pembelajaran di kelas, sarana dan prasarana pendukung pembelajaran, ekosistem pembelajan, hingga kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Capaian rerata nilai TKA tidak cukup dibaca sebagai urutan angka-angka semata (bdg. Djamaluddin Husita, 2026), tetapi harus dimaknai sebagai cermin untuk refleksi dan evaluasi mendalam bersama guna memperbaiki mutu pembelajaran.
Rendahnya nilai rerata TKA, baik jenjang SD, SMP maupun SMA/sederajat di Indonesia dinilai bukan gejala kemerosotan mendadak kemampuan akademik siswa. Hal ini dinilai merupakan cerminan dari persoalan struktural yang lama mengendap sejak pendidikan dasar yang hingga kini belum mampu kita urai dan tuntaskan. Kita mesti memahami dan memaknai apa yang sebenarnya dipotret oleh asesmen tersebut.
Rendahnya nilai TKA, baik SD, SMP, maupun SMA adalah alarm keras yang seharusnya membangunkan pemerintah dari kelambanan memajukan pendidikan. Hasil tersebut bukan salah guru atau murid. Masalah ini merupakan kegagalan sistemik; diskriminasi guru, Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang mandek, dan pelatihan yang hanya seremonial.



