8 Juni. Hari itu angin laut bertiup pelan di perairan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Di sela riuh ombak yang menjulang, kapal-kapal nelayan berlayar satu per satu menuju samudera lepas. Mereka mencari ikan, mencari kehidupan, sekaligus membawa harapan yang terkadang tenggelam dalam garam air laut. Seperti apa perjuangan para pahlawan gizi masyarakat Indonesia ini?
DENY HAMDANI, Kubu Raya.
PONTIANAK POST - Bagi Iwan, bapak dari 4 anak dan salah satu pemilik kapal sekaligus nelayan di desa pesisir ini, 8 Juni bukan sekadar tanggal di kalender. Ini adalah hari kelahiran jiwa mereka, para pekerja laut yang setiap hari bertarung dengan alam, cuaca, dan ketersediaan bahan bakar solar yang makin langka.
Hari ini, tepatnya Hari Laut Sedunia (World Ocean Day), menjadi waktu untuk menarik napas sejenak, lalu mengingatkan dunia: bahwa laut tidak hanya indah dari foto-foto. Di dalamnya juga ada derita, doa, dan darah para nelayan. "Terkadang kami bisa beberapa hari tak dapat solar,” kata Iwan sambil membetulkan jaring yang robek akibat hempasan ombak. “Kalau sudah begitu, kapal terpaksa diam. Tapi perut anak istri tak boleh diam," ucapnya.
Kelangkaan solar subsidi menjadi musuh tak kasat mata bagi nelayan Sungai Kakap dan Kalimantan Barat. Bukan karena mereka enggan bekerja, tapi karena mesin kapal tak bisa hidup tanpa bahan bakar. Setiap kali antre di pangkalan, Iwan harus rela pulang dengan tangan hampa. Bahkan, ia kerap harus membayar lebih mahal dari harga eceran karena terpaksa membeli dari pengecer nakal. “Laut menyediakan ikan, tapi kita sendiri yang dibuat susah untuk sampai ke sana,” ujarnya getir.
Ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2008, Hari Laut Sedunia lahir dari semangat di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992. Tujuannya mulia: mengajak seluruh manusia menyadari betapa pentingnya laut sebagai penghasil oksigen, penyokong ekosistem, dan sumber kehidupan. Namun bagi Iwan, pertanyaannya sederhana namun mendalam: “Apakah hari ini juga punya tempat untuk kami, nelayan kecil di pinggiran?”
Iwan merasa bahwa laut yang mereka cari rezekinya sering kali dilupakan oleh kebijakan yang datang dari darat. Padahal, mereka-lah yang tiap hari melihat langsung bagaimana laut berubah—ikan semakin sulit ditemukan, plastik semakin banyak, dan cuaca makin tak menentu. "Kami ingin laut tetap lestari, tapi tolong juga pikirkan nasib kami. Jangan biarkan kami mati pelan-pelan,” katanya.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut yang jauh lebih luas daripada daratannya. Namun ironisnya, laut yang mestinya menjadi sumber kemakmuran bagi rakyat, justru menjadi medan perjuangan yang tak berujung bagi nelayan seperti Iwan dan kawan-kawan.
Di tengah isu global tentang polusi plastik, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya laut, suara nelayan kecil seperti Iwan sering kali tenggelam. Padahal, merekalah yang paling dekat dengan laut. Mereka tahu mana titik ikan masih ada, di mana terumbu karang mulai rusak, dan di mana sampah plastik mulai meracuni dasar laut.
Untuk Iwan dan teman-temannya, laut bukan hanya sumber penghasilan. Ia adalah guru, sahabat, dan kadang musuh. Di sanalah mereka belajar sabar saat ombak besar, bersyukur saat tangkapan melimpah, dan menangis ketika gagal pulang tanpa ikan.
Dan hari ini, di Hari Laut Sedunia, mereka ingin satu hal saja: agar laut tetap hidup, dan mereka juga tetap bisa hidup dari laut. "Jadi, kalau mau rayakan Hari Laut Sedunia, jangan cuma pasang poster atau bikin seminar. Datanglah ke sini. Dengarkan cerita kami. Bantu kami tetap bisa melaut,” ucap Iwan, dengan sorot mata yang tak pernah padam.
Kisah Iwan mungkin hanya satu dari ribuan kisah nelayan di Kalimantan Barat dan seluruh Indonesia. Tapi dari sini, kita bisa mulai. Untuk peduli. Untuk berubah. Untuk laut dan mereka yang hidup di atasnya.(*)
Perjuangan nelayan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya dalam mencari ikan dan kehidupan di lautan lepas. termasuk persoalan kelangkaan solar. Bagi Iwan, pemilik kapal sekaligus nelayan wa Hari Laut Sedunia harusnya sesuai dengan agungnya kehidupan nelayan.
8 Juni diperingati sebagai Hari Laut Sedunia (World Ocean Day). Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya laut bagi kehidupan di bumi dan mendesak upaya perlindungan laut.
Berikut beberapa poin penting terkait Hari Laut Sedunia:
Tujuan:
Hari Laut Sedunia bertujuan untuk menyadarkan masyarakat tentang peran penting laut dalam menyediakan oksigen, sumber daya alam, dan mendukung keanekaragaman hayati yang vital bagi ekosistem global.
Sejarah:
Pertama kali diusulkan pada tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brazil, dan secara resmi ditetapkan oleh PBB pada tahun 2008.
Peringatan:
Hari ini diperingati setiap tahun pada tanggal 8 Juni, dan menjadi momen penting untuk merayakan laut dan pentingnya pelestarian laut bagi kehidupan.
Relevansi bagi Indonesia:
Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki luas lautan yang lebih besar dari daratannya. Hari Laut Sedunia sangat relevan dengan kondisi Indonesia, dan menjadi pengingat pentingnya menjaga kelautan.