Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kisah Pejuang Kanker Jadi Inspirasi Bagi Sesama: Penerimaan Diri dan Dukungan Keluarga Jadi Kunci Kualitas Hidup Pasien

Siti Sulbiyah Kurniasih • Selasa, 24 Juni 2025 | 09:12 WIB
BERBAGI : Ana Suhartini (dua kanan) bercerita tentang perjuangannya melawan kanker yang sempat diidapnya. Cerita ini ia bagikan dalam Kuliah Tamu bertajuk “Cancer: From Bench to Bed”.
BERBAGI : Ana Suhartini (dua kanan) bercerita tentang perjuangannya melawan kanker yang sempat diidapnya. Cerita ini ia bagikan dalam Kuliah Tamu bertajuk “Cancer: From Bench to Bed”.

Perjuangan melawan kanker adalah perjalanan yang penuh tantangan. Namun harapan tetap dapat tumbuh ketika pasien memiliki penerimaan diri yang tinggi, didukung keluarga hingga kepuasan pelayanan kesehatan. 

Siti Sulbiyah, Pontianak 


PONTIANAK POST - Melawan kanker adalah perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian. Namun di tengah gelapnya situasi, selalu ada kisah yang memberikan harapan. Salah satunya datang dari Ana Suhartini (47), seorang guru yang bertugas Sekadau, Kalimantan Barat. Ia berhasil menaklukkan kanker payudara stadium 3B dan kini menjadi sumber semangat bagi banyak pejuang kanker lainnya.

“Saya pikir waktu itu kanker adalah penyakit yang akan membuat meninggal,” ujar Ana, mengenang momen pertama kali ia divonis kanker. 

Hal ini ia katakan dalam Kuliah Tamu Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) bertajuk “Cancer: From Bench to Bed” yang digelar di Gedung Amphiteater Fakultas Kedokteran, Senin (23/6). Acara ini dihadiri oleh mahasiswa, tenaga kesehatan, dan komunitas Kepedulian Saling Bantu (Kesatu) Kalbar, komunitas yang bergerak memberikan dukungan kepada pasien kanker.

Setelah vonis itu, Ana tidak menyerah. Ia memilih untuk mengikuti saran medis sepenuhnya. Ia melalui serangkaian pengobatan, termasuk menjalani enam kali kemoterapi awal, yang ternyata belum cukup. Hasil evaluasi medis menunjukkan bahwa tipe kankernya termasuk agresif dan cepat menyebar. Ia harus menjalani kemoterapi tambahan.

“Saya terus pegang kata-kata dokter,” katanya. 

Setelah perjuangan panjang, akhirnya Ana dinyatakan bersih dari kanker. Namun, perjalanannya belum benar-benar selesai. Ia harus lebih menjaga pola makan, tidur cukup, dan tidak terlalu stres. 

Kini, Ana aktif memberikan edukasi dan dukungan bagi pejuang kanker di daerah tempat tinggalnya. Namun jalannya tidak mudah. Masih banyak yang memilih pengobatan non-medis. “Ada yang lebih percaya dukun. Teman saya sendiri ada yang begitu. Saya sudah dekati, beri edukasi, tapi menyangkal. Pas ke rumah sakit sudah stadium lanjut,” cerita Ana.

Ana memang memiliki keinginan yang kuat untuk sehat. Selain itu dukungan dari keluarga begitu besar. Faktor ini dinilai besar berpengaruh terhadap kondisinya saat ini.

Sementara itu, penelitian analisis multivariat psikososial pasien kanker dilakukan oleh para dosen dan mahasiswa Universitas Tanjungpura untuk mengukur peran pasien kanker terhadap kualitas hidup. Penelitian yang dilakukan pada periode Oktober-Desember 2024 ini dilakukan di One Day Care Kemoterapi RSUD Dr Soedarso Pontianak. 

Terdapat empat sisi penilaian yang dilakukan untuk yakni Self-acceptance (Penerimaan Diri), Self-compassion (Welas Asih), Dukungan Keluarga, serta Dukungan Keluarga.

Penerimaan diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri apa adanya, termasuk kekuatan dan kelemahannya. Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki tingkat penerimaan diri yang cukup baik. Penerimaan diri pasien masuk kategori sedang 58,97%, tinggi 30,77% dan rendah 10,26%.

Welas Asih adalah sikap sadar dan peka terhadap penderitaan yang dialami tanpa menghakimi dan memberi kehangatan diri. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa 50 dari 77 pasien dengan skor tinggi rata-rata skor 62,70 dari 65.

Adapun dukungan keluarga, hasil penelitian untuk dukungan keluarga menunjukkan bahwa 76 dari 77 pasien dengan kategori tinggi.

“Dukungan keluarga yang tinggi akan memengaruhi kesejahteraan sosial atau keluarga pasien dan kesejahteraan psikologisnya,” ujar salah satu peneliti. 

Kepuasan pelayanan kesehatan adalah keadaan senang atau bahagia yang dialami pasien saat menggunakan layanan kesehatan. Kepuasan pelayanan kesehatan signifikan memengaruhi indikator perhatian tambahan, di mana rata-rata skor 19,37 dari 20.

“Ketika pelayanan baik, kepuasan pasien tinggi maka keluhan tambahan seperti sesak napas, nyeri tambahan, terasa tidak PD dengan keadaan tubuhnya itu semakin rendah,” ujar salah satu peneliti. 

Ketua Kesatu Kalbar, Yanieta Arbiastutie Kamtono, yang hadir dalam acara itu, menekankan pentingnya pendekatan dalam mendampingi pasien kanker. Ia menyebut, angka penderita kanker di Kalbar terus meningkat setiap tahun, dipengaruhi oleh faktor genetika hingga pola hidup yang buruk. 

“Pola hidup ini yang harus kita perhatikan,” tuturnya. 

Komunitas ini sudah tersebar di beberapa kabupaten, seperti Kabupaten Ketapang, Sintang Sekadau, dan lainnya. “Mudah-mudahan yang belum terbentuk Kesatu ini bisa dikoordinasikan dibuat,” tuturnya. 

Terkait hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Tanjungpura, ia berharap hasil riset bisa diimplementasikan untuk membantu pejuang kanker.*

Editor : Hanif
#tantangan #Welas Asih #penerimaan diri #melawan kanker #dukungan keluarga #Perjuangan #kualitas hidup