Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2025, Perlu Skrining Lebih Awal Cegah Anak Alami Gangguan Refraksi

Siti Sulbiyah • Jumat, 10 Oktober 2025 | 10:08 WIB
PERIKSA: Salah satu siswa MIN 2 Pontianak saat mendapatkan pemeriksaan penglihatan oleh tim Perdami Kalbar, Kamis (9/10).
PERIKSA: Salah satu siswa MIN 2 Pontianak saat mendapatkan pemeriksaan penglihatan oleh tim Perdami Kalbar, Kamis (9/10).

Gangguan penglihatan pada anak menjadi ancaman serius terhadap perkembangan mereka, terutama dalam proses belajar. Faktor risiko yang paling umum adalah masalah refraksi, seperti mata minus atau silinder. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) menyebut 10-15 persen anak mengalami gangguan penglihatan.

SITI SULBIYAH, Pontianak

Ratusan siswa MIN 2 Pontianak tampak bergantian mengikuti skrining penglihatan di sekolah mereka, Kamis (9/10). Mata mereka diperiksa dengan alat canggih bernama Auto Refractor-Keratometer, yang mana hasil pemeriksaan dapat langsung dicetak. Dari situ, informasi kondisi penglihatan siswa terlihat.

“Dari hasil pemeriksaan disarankan untuk pakai kacamata,” tutur Hera, orang tua siswa MIN 2 Pontianak yang anaknya turut diikutkan dalam skrining ini. 

Skrining Gangguan Penglihatan tersebut dilaksanakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Kalimantan Barat dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day 2025 yang diperingati setiap tanggal 9 Oktober.

Hera, mengungkapkan rasa syukur atas adanya kegiatan skrining ini. Anak perempuan Hera, yang lahir prematur, sebelumnya telah mendapat rekomendasi dari dokter spesialis mata untuk melakukan pemeriksaan mata saat memasuki usia sekolah.

“Anak lahir prematur sehingga saat bayi sudah diperiksa sama dokter spesialis mata, dan disarankan oleh dokter saat itu adalah ketika umur sekolah nanti diminta untuk cek mata lagi,” ceritanya.

Warga Kecamatan Pontianak Barat ini pun tidak terkejut dengan hasil pemeriksaan yang menunjukkan buah hatinya itu mengalami minus dan silinder di mata kiri dan kanan. 

Sekretaris Perdami Kalbar, Wirawan Adikusuma menyebut skrining ini penting karena anak-anak memiliki risiko tinggi terhadap gangguan penglihatan, terutama gangguan refraksi seperti minus atau silinder. Bahkan dari penelitian yang ada, sekitar 10-15 persen anak sekolah mengalami gangguan penglihatan. 

“Karenanya kita lakukan skrining lebih awal,” katanya. 

Wirawan menyebut kegiatan yang melibatkan Ikatan Profesi Optometris Indonesia (IROPIN) Kalbar ini bertujuan untuk mendeteksi apakah ada anak-anak yang mengalami gangguan refraksi. Jika ada yang terdeteksi, maka pihaknya merekomendasikan anak-anak untuk menggunakan kacamata agar mereka mendapatkan penglihatan terbaik dan tidak mengganggu proses belajar.

Ia menjelaskan, skrining ini dilakukan lebih awal pada anak-anak yang sudah bisa membaca dan menulis, dengan tujuan untuk mengetahui apakah mereka mengalami gangguan penglihatan atau tidak. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan jika ditemukan adanya masalah refraksi. 

Lebih jauh ia menjelaskan, skrining ini penting mengingat penggunaan gawai yang semakin tinggi baik dalam proses pembelajaran maupun di luar aktivitas tersebut. “Ini yang menyebabkan kemungkinan terjadinya gangguan penglihatan lebih awal,” katanya.

Wirawan juga mengingatkan bahwa ketidakmampuan melihat dengan jelas dapat mengganggu proses belajar anak yang tentunya memengaruhi tumbuh kembang mereka.

"Jika masalah penglihatan dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan, bisa menyebabkan kondisi yang disebut mata malas. Ini sering terjadi pada anak dengan minus atau silinder yang besar," jelasnya.

Karena itulah, dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia 2025 pihaknya melakukan kegiatan skrining penglihatan di tiga lokasi, yakni Kota Pontianak, Kota Singkawang, serta Kabupaten Sanggau. 

“Di MIN 2 Pontianak, targetnya adalah 500 anak, dengan perkiraan 50-100 anak di antaranya mungkin mengalami gangguan penglihatan sehingga akan ada pemeriksaan lebih lanjut,” pungkasnya. 

Kepala MIN 2 Pontianak, Nurbaiti menekankan bahwa proses belajar mengajar di MIN 2 Pontianak masih mengutamakan penggunaan alat tulis. Penggunaan gawai dalam proses belajar mengajar sangat terbatas misalnya menampilkan atau mengambil video. 

Ia memberikan apresiasi atas kerjasama yang terjalin antara sekolah serta para dokter mata dan puskesmas. Dengan adanya kegiatan skrining penglihatan ini, ia berharap para siswa dapat menerima intervensi yang tepat untuk kesehatan mata mereka, sehingga dapat mendukung kelancaran proses belajar tanpa gangguan penglihatan.

"Kami sangat berterima kasih kepada para dokter mata yang memberikan masukan kepada kami untuk lebih memperhatikan kesehatan penglihatan siswa-siswa kami,” katanya.(*)

Editor : Hanif
#Perdami Kalbar #minus #Penglihatan #Hari Penglihatan Sedunia #belajar optimal #silinder #siswa #Skrining