Banjir selama sepekan terakhir memaksa para pasien RSI Sultan Agung Semarang harus berjalan kaki melewati pintu darurat, diangkut dengan perahu karet, atau berdesakan di dalam truk kontainer penjemput. Semua dilakukan demi bisa kontrol, berobat, atau menjalani kemoterapi.
FIGUR RONGGO WASSALIM, Semarang
DARI dinding yang sengaja dijebol untuk dijadikan akses itu, satu per satu mereka melangkah masuk menuju Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang. Sebagian menggendong anak kecil, sebagian lainnya menuntun lansia.
Merekalah para “pejuang sehat” yang nekat menerobos banjir Semarang yang menggenangi rumah sakit tersebut dan kawasan sekitarnya sejak Jumat (24/10) pekan lalu. “Anak mau kontrol mata ke RSI. Tadi naik BRT, tapi diturunin di tengah jalan, akhirnya jalan kaki ke sini,” kata Murniati, 34, warga Batang, Jawa Tengah, di depan RSI Sultan Agung.
Dinding yang dijebol tadi merupakan dinding belakang RSI Sultan Agung yang menjadi perbatasan dengan eks Terminal Terboyo. Babinsa Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Sertu Suliman mengatakan, tembok berlubang itu kini resmi dijadikan pintu darurat evakuasi pasien.
“Pasien yang kemarin sempat dievakuasi pakai perahu karet, sekarang lewat pintu bawah darurat di ujung gerbang RSI. Ambulans umum belum berani masuk, hanya ambulans RSI sendiri yang nekat lewat jalur ini,” jelasnya.
Ketinggian air di sekitar Jalan Kaligawe Raya, tempat RSI Sultan Agung berada, sekitar 50–90 sentimeter. Di hari-hari awal banjir, perahu karet menjadi andalan. Kini armada untuk mengevakuasi pasien bertambah dengan mobil, truk, bahkan kontainer.
Diterjang Saja
Perjuangan serupa Murniati juga dirasakan Rakiyo. Pria 48 tahun warga Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, itu rutin kontrol penyakit dalam di RSI Sultan Agung setiap bulan.
Kali ini ia datang bersama istri dan anaknya, meski sadar harus melawan derasnya banjir. “Sudah tahu sih kalau banjir, tapi mau bagaimana lagi? Sudah jadwal kontrol, jadi ya diterjang saja. Tahun lalu banjirnya nggak separah ini, sekarang kok parah banget, nggak surut-surut,” ungkapnya, sambil mengelap keringat di wajah yang basah oleh air hujan dan genangan.
Pada Rabu (29/10) siang lalu, suasana di halaman rumah sakit tampak sibuk di berbagai sudut. Ambulans tak bisa masuk. Beberapa petugas rumah sakit menjemput pasien dengan perahu karet dari arah Terminal Terboyo. Sedangkan pasien yang mampu berjalan diarahkan lewat pintu darurat di dinding yang dijebol tadi.
Sementara itu, Supri, 55, warga Kudus, tampak duduk termenung di depan rumah sakit. Ia baru saja menemani anaknya yang dirawat dan kini bingung bagaimana pulang.
“Saya naik bus waktu ke sini, terus jalan kaki. Pulangnya paling besok saja, numpang di rumah saudara. Bus belum bisa lewat,” ujarnya.
Berdesakan di Truk Kontainer
Di tengah genangan air setinggi lutut orang dewasa di Jalan Kaligawe Raya kemarin (31/10) pagi, yang membuat bus tak bisa lewat, sebuah truk kontainer berwarna hijau berhenti di depan IGD RSI Sultan Agung. Dari dalam bak kendaraan besar itu, beberapa pasien bersama tenaga kesehatan dan karyawan rumah sakit diturunkan perlahan. Sementara air masih menggenang di kaki-kaki meja dan kursi ruang tunggu.
Di antara mereka tampak Rumiati yang berpegangan erat pada tangan perawat yang menuntunnya. “Alah, sumuknya bukan main. Takut, gronjal-gronjal, Pak,” ujar perempuan 72 tahun itu.
Perempuan asal Blora, Jawa Tengah, itu sudah menempuh perjalanan sejak pukul 03.00 dini hari demi bisa menjalani kemoterapi di rumah sakit tempatnya berobat sejak Agustus lalu itu. Bersama dua pasien lain dari kampungnya, ia menumpang travel hingga Masjid Kubro yang berjarak sekitar 1,8 kilometer dari rumah sakit.
“Kami nunggu di sana dari jam tiga sampai jam enam. Baru dijemput truk,” tutur Istari, rekan seperjalanannya.
Dari arah lain, Husnul Khatimah datang membawa ibunya, Pustini, pasien kemoterapi asal Kudus, Jawa Tengah. Ia bercerita bagaimana harus melewati genangan tinggi sebelum akhirnya dijemput di Pos Polisi Lalu Lintas Genuk oleh mobil bantuan. “Tadi mobilnya sempat mogok karena air tinggi,” ujarnya.
Bagi mereka, perjalanan menuju rumah sakit bukan sekadar rutinitas kontrol kesehatan, melainkan perjuangan untuk tetap hidup di tengah bencana. Karena itu, keberadaan kendaraan pengangkut sangatlah membantu.
Evin Hermanti, staf pemasaran RSI Sultan Agung, menyebut ada tujuh armada yang dikerahkan untuk antar-jemput pasien. Armada tersebut berasal dari berbagai pihak: Koramil Genuk, SIBA Surya, Apindo Demak (PT Bahana Buana Box), Rescue Lazis, hingga ambulans rumah sakit.
Ia mengakui, pasien dan tenaga medis kerap harus berdesakan di bak truk. “Puluhan orang bisa satu truk, tapi semua ikhlas. Yang penting pasien bisa berobat,” ujarnya. (*/ttg)
Editor : Hanif