Diabetes masih menjadi ancaman bagi banyak keluarga di Indonesia. Di Kalimantan Barat ditemukan sebanyak 64.828 kasus pada 2024. Pemerintah provinsi hingga desa pun menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat sebagai upaya deteksi dini penyakit tersebut. Warga pun menyambutnya dengan antusias, termasuk para penerima Program Keluarga Harapan. Mereka rela meninggalkan pekerjaan di ladang sejenak demi memastikan kondisi kesehatan tetap terpantau.
Chairunnisya, Pontianak Post
_______________
SUASANA masih pagi. Jam di dinding menunjukkan pukul 07.00, waktu biasanya Satirah pergi ke ladang (sawah). Nenek berusia 70 tahun ini sehari-hari bekerja sebagai petani. Bukan di lahannya sendiri, melainkan menumpang di tanah kosong milik orang lain.
Namun, sejak semalam Satirah tidak berencana ke ladang pada hari itu. Dia memiliki rencana lain, yakni pergi ke Posbindu di dekat rumahnya di Jalan Adisucipto Gang Mandiri, Desa Teluk Kapuas, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Posbindu merupakan singkatan dari Pos Pembinaan Terpadu, program dan strategi dari Kementerian Kesehatan sebagai upaya kesehatan berbasis masyarakat, sekaligus upaya promotif dan kuratif dalam menanggulangi Penyakit Tidak Menular (PTM). Sasarannya adalah masyarakat usia 15 tahun ke atas.
“Posbindu di desa saya setiap satu bulan (dilaksanakan). Bisa cek gula darah, kolesterol, sama asam urat. Kalau ke sana (Posbindu), ya saya tidak ke ladang,” ujar Satirah ramah.
Walau tidak rutin pergi, Satirah bersyukur ada pemeriksaan gratis di desanya. Dia biasa pergi ke Posbindu saat badannya terasa tidak enak.
“Kalau periksa sendiri di apotek, bayar. Ada Rp35 ribu, ada Rp40 ribu, ada yang Rp50 ribu. Mahal itu bagi saya. Kalau di Posbindu gratis, pulangnya dapat bingkisan,” katanya sambil tertawa.
Satirah mengaku sangat senang karena hasil cek darah menunjukkan kadar gula maupun asam uratnya normal. “Kalau sudah tahu normal, ya Alhamdulillah,” ujarnya.
Samiye, yang masuk Program Keluarga Harapan, juga senang ada fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis di wilayahnya meski hanya satu kali dalam sebulan. Perempuan berusia hampir setengah abad yang bekerja sebagai asisten rumah tangga ini merasa sangat terbantu.
“Kalau periksa sendiri, mahal. Kalau di Posbindu, selain cek kesehatan gratis, bisa konsultasi kesehatan dan dapat obat kalau seandainya asam urat naik,” kata Samiye.
Samingan merupakan warga yang selalu datang ke Posbindu setiap bulan. Pria berusia 62 tahun ini rutin mengecek gula darahnya.
“Sebab saya ada diabetes. Alhamdulillah ada cek kesehatan gratis di Posbindu, jadi gula darah terpantau,” ujarnya.
Adalah Fitria yang menjadi Ketua Posbindu Mandiri, terletak di Desa Teluk Kapuas, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Perempuan berusia 29 tahun ini selalu menyempatkan diri menggelar Posbindu di wilayahnya di sela-sela kesibukannya. Bahkan pada 7 November lalu, ia tetap turun, padahal sedang menunggu hari kelahiran anak ketiganya.
“Ini sudah menunggu hari (melahirkan). Tetapi selama masih sehat dan bisa turun, ya saya turun ke Posbindu,” ungkap Fitria.
Fitria sudah tiga tahun menjadi ketua Posbindu. Dia memiliki lima anggota. Semua persiapan pemeriksaan kesehatan gratis diurus bersama. Pemerintah desa setempat juga bekerja sama dengan tenaga kesehatan dari Puskesmas Sungai Durian.
Biasanya Posbindu digelar pada tanggal 7 setiap bulannya, dilaksanakan di aula, serentak dengan Posyandu Balita dan Posyandu Lansia. Saat awal pelaksanaan Posbindu sekitar tiga tahun lalu, Fitria bersama teman-temannya mengajak warga menggunakan surat undangan yang dikirimkan ke rumah warga satu per satu.
Kini, antusias masyarakat cukup tinggi. Tanpa undangan pun mereka siap datang. Bahkan kerap bertanya jadwal pelaksanaannya.
“Jadi kami buatkan kelompok WhatsApp. Jika ada perubahan jadwal, kami umumkan dalam grup tersebut,” ujar Fitria.
Fitria mengungkapkan dana untuk pemeriksaan gratis berasal dari anggaran desa. Ada tiga jenis pemeriksaan, yakni kolesterol, gula darah, dan asam urat. Di lokasi pemeriksaan selalu ada tenaga medis, di antaranya bidan.
Setiap tiga bulan hadir dokter umum. Selesai cek darah, warga akan mendapatkan bingkisan berupa makanan bergizi seperti susu, telur, ataupun kacang hijau.
Tak jarang ada warga yang terkejut melihat hasil cek kesehatannya. “Ada yang syok, mengaku tidak ada keluhan, tetapi sekali dicek gula darahnya tinggi. Ya terkejut. Kalau sudah begitu, kami arahkan ke pustu (puskesmas pembantu) atau puskesmas untuk mendapatkan pengobatan,” jelas Fitria.
Dia menambahkan hasil pemeriksaan tiap bulan biasanya menunjukkan banyak warga yang gula darahnya di atas normal. Fitria pun mengimbau warga untuk rutin mendatangi Posbindu agar kondisi kesehatannya selalu terpantau.
“Jangan takut mengecek kesehatan. Mumpung ada yang gratis, ayo datang. Biar tahu kesehatan tubuh kita,” ajak Fitria.
Sudah 21 Puskesmas
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Siswani, mengatakan Pemerintah Kubu Raya memiliki program kesehatan gratis yang diterapkan pada 21 puskesmas di wilayah kabupaten tersebut. Pemeriksaan meliputi pengukuran tekanan darah, pemeriksaan gula darah, kolesterol, hingga konsultasi kesehatan umum.
“Jika dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya keluhan atau gejala penyakit yang memerlukan penanganan lebih lanjut dan tidak dapat ditangani di puskesmas, maka pasien akan langsung dirujuk ke rumah sakit sesuai kebutuhan medisnya,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Program cek kesehatan gratis ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Kubu Raya untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, dan sejahtera. Ia juga menyebutkan bahwa Dinas Kesehatan akan terus melakukan evaluasi dan sosialisasi agar program ini bisa menjangkau lebih banyak warga, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
“Pemeriksaan kesehatan gratis ini merupakan upaya pencegahan sekaligus deteksi dini terhadap berbagai penyakit. Harapan kami, masyarakat bisa memanfaatkan program ini dengan sebaik-baiknya demi kesehatan bersama,” katanya.
Bupati Kubu Raya, Sujiwo, saat memasuki masa tugas sebagai Bupati Kubu Raya periode 2025–2030, menyampaikan lima program prioritas dalam 100 hari kerja bersama Wakil Bupati Sukiryanto.
“Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis juga menjadi prioritas, dengan menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan tanpa biaya bagi masyarakat,” kata Sujiwo dalam acara Serah Terima Jabatan dan Ramah Tamah Pj. Bupati Kubu Raya dengan Bupati dan Wakil Bupati Kubu Raya Periode 2025–2030 di Aula Praja Utama, Kantor Bupati Kubu Raya, pada 4 Maret 2025.
Siapkan Labdeska di Seluruh Kalbar
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Erna Yulianti, menargetkan pada tahun 2027 seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat sudah memiliki Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) yang berfungsi penuh.
Saat ini di Kalbar terdapat Labkesda yang beroperasi di Kota Pontianak, Sambas, Sintang, Melawi, Kayong Utara, dan Ketapang. Sementara beberapa daerah lain seperti Bengkayang, Kubu Raya, dan Sanggau sedang dalam proses perizinan serta penyempurnaan sarana pendukungnya.
Menurut Erna, peran Labkesda sangat penting karena membantu proses deteksi dini penyakit dan faktor risiko kesehatan di masyarakat. Namun, kondisi saat ini menunjukkan bahwa fasilitas laboratorium di layanan primer, terutama di puskesmas, masih belum optimal.
“Baru 51,9 persen puskesmas melakukan pemeriksaan darah rutin dan hanya 40,7 persen yang mampu melakukan pemeriksaan darah lengkap. Ini menunjukkan perlunya penguatan sarana dan prasarana laboratorium di tingkat daerah,” ujar dr. Erna baru-baru ini.
Erna menyebutkan, dari total 252 puskesmas di Kalbar, 99 persen di antaranya telah memiliki tenaga Analis Teknologi Laboratorium Medis (ATLM). Kendati demikian, ia mengakui pelayanan laboratorium masih terbatas.
Dia berharap penguatan Labkesda di masa mendatang dapat mendukung program prioritas pemerintah seperti Cek Kesehatan Gratis dan Program Makanan Bergizi Gratis yang mensyaratkan Sertifikasi Laik Higienis Sanitasi (SLHS).
Tingkatkan Angka Harapan Hidup
Sementara itu, data Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat ditemukan sebanyak 64.828 kasus diabetes yang tersebar di seluruh kabupaten/kota pada 2024: Sambas 8.807 kasus, Bengkayang 3.001 kasus, Landak 3.570 kasus, Mempawah 4.106 kasus, Sanggau 2.251 kasus, Ketapang 6.567 kasus, Sintang 2.542 kasus, Kapuas Hulu 3.188 kasus, Sekadau 1.110 kasus, Melawi 1.911 kasus, Kayong Utara 641 kasus, Kubu Raya 6.706 kasus, Kota Pontianak 13.932 kasus, dan Kota Singkawang 6.496 kasus.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyebutkan cek kesehatan gratis merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Selama delapan bulan berjalan, pendaftar CKG mencapai 44,9 juta jiwa. Namun yang benar-benar menyelesaikan layanan sebanyak 31,5 juta jiwa. Program ini sudah ada di 510 kabupaten/kota di 38 provinsi. Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah peserta terbanyak.
Dante mengatakan cek kesehatan gratis menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan angka harapan hidup. Dengan mengidentifikasi penyakit, pemetaan kesehatan Indonesia dapat berjalan dengan baik, sehingga bisa diketahui penyakit apa yang menyebabkan kematian terbanyak.
Dari cek kesehatan gratis diketahui bahwa diabetes menjadi momok. Temuannya, 10,1 persen mengalami diabetes. Artinya, satu dari 10 orang di Indonesia mengalami diabetes. “Sebanyak 70 persen di antaranya belum tahu kalau sebelumnya (sebelum tes, Red) menderita diabetes,” ungkapnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan pada awalnya target CKG adalah 1 juta orang per hari. Dengan demikian, hingga akhir 2025 bisa dilakukan skrining pada 50 juta orang.
Kemenkes mencoba beberapa cara agar cakupannya semakin banyak. Awalnya CKG menjadi hadiah bagi warga yang berulang tahun, namun kebijakan tersebut kini tidak diterapkan lagi. Sebagai gantinya, muncul wacana CKG akan dilakukan di kantor-kantor. Alasannya, pemeriksaan kesehatan di puskesmas hanya bisa dilakukan pada jam kerja, sehingga mereka yang masih bekerja harus mengajukan cuti.
Budi Gunadi berharap cakupan CKG dapat ditingkatkan terutama di segmen perkantoran. “Ini merupakan salah satu program terbesar yang sedang dilakukan pemerintah,” pungkasnya. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro