Saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat dan langit berubah jingga keemasan, jalan-jalan utama di Kabupaten Kubu Raya seketika menjelma menjadi panggung keriuhan. Ramadan 1447 Hijriah pada tahun 2026 ini menghadirkan denyut yang berbeda—lebih hangat, lebih akrab, lebih menggoda selera. Tradisi “berburu takjil” bukan lagi sekadar ritual menunggu azan magrib, melainkan perayaan kebersamaan masyarakat multietnis yang hidup berdampingan di daerah penyangga Kota Pontianak itu.
Deny Hamdani, Kubu Raya
Tiga hari terakhir, kawasan Jalan Adisucipto Sungai Raya, Ayani, hingga gang-gang kecil seperti Parit Bugis dipadati warga. Kendaraan melambat, pejalan kaki berdesakan, dan aroma makanan berbaur dalam udara sore yang lembap. Wangi soto Banjar yang gurih, bubur pedas khas Melayu yang sarat rempah, hingga martabak telur yang baru diangkat dari wajan panas, berpadu dengan suara tawa anak-anak menunjuk jajanan warna-warni di atas meja lipat para pedagang.
Di bawah payung-payung sederhana dan tenda terpal biru, aneka kue tradisional tertata rapi: klepon berbalut kelapa parut, dadar gulung berisi unti manis, kue cucur yang legit, lepat pisang dan lepat ubi yang lembut, nagasari, bolu kukus, hingga deretan gorengan keemasan. Di sisi lain, botol sirup markisa berjejer, es campur dan es buah berkilau diterpa cahaya senja, sementara kurma dari berbagai jenis tersusun dalam kotak-kotak plastik bening.
“Saya sengaja datang dari Pontianak ke sini, ke Parit Bugis, demi mencicipi klepon dan dadar gulung Bu Ira. Rasanya autentik, beda dari yang lain,” kata Dita, seorang pelajar yang rela mengantre di depan gerobak kayu bercat hijau yang sudah belasan tahun mangkal di lokasi itu.
Di sudut berbeda, Pak Joko, pedagang gorengan yang membuka lapak sejak pukul tiga sore, tak henti melayani pembeli. Tangan kanannya cekatan membalik bakwan dan tahu isi, sementara tangan kirinya menerima uang dan mengemas pesanan. "Pendapatan bisa naik 80 sampai 150 persen selama Ramadan. Ini rezeki bulan puasa. Biasanya sebelum magrib sudah habis,” ujarnya, tersenyum lebar
Kabupaten Kubu Raya, khususnya Kecamatan Sungai Raya, Desa Arang Limbung, Kampung Arang dihuni masyarakat Melayu, Dayak, Bugis, Tionghoa, Jawa, dan berbagai etnis lain. Ramadan menjadi ruang temu rasa dan budaya. Ketupat kandangan khas Melayu bersanding dengan lontong sayur Jawa. Di kedai Tionghoa Muslim, bakso dan mi ayam tetap menjadi primadona, berdampingan dengan kue-kue tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Di satu meja, seorang ibu berhijab memilih bubur pedas, sementara di sebelahnya seorang pria keturunan Tionghoa memasukkan es buah ke dalam kantong plastik. Tidak ada sekat. Semua menyatu dalam antrean yang sama, menunggu giliran dengan sabar.
Bagi Ardiansyah, tokoh pemuda setempat, suasana ini lebih dari sekadar transaksi jual beli. "Berburu takjil itu ajang silaturahmi. Kami bertemu teman lama, saudara, tetangga. Bahkan sekarang banyak juga yang datang hanya untuk suasana, termasuk teman-teman non-muslim yang ingin merasakan atmosfer Ramadan,” katanya.
Di tengah arus kendaraan dan hiruk-pikuk pembeli, terlihat pula kelompok anak muda membagikan selebaran kecil bertuliskan “Sedekah Takjil”. Di depan sebuah Masjid, puluhan anggota komunitas itu membagikan paket berbuka gratis kepada pengendara dan pejalan kaki.
“Kami ingin memastikan tak ada yang berbuka hanya dengan air putih. Semua berhak merasakan manisnya Ramadan,” ujar Akbar, koordinator aksi sosial tersebut.
Ramadan tak hanya menghadirkan semangat spiritual, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi rakyat. Pedagang musiman bermunculan, memanfaatkan lahan parkir, bahu jalan, hingga halaman rumah untuk berjualan. UMKM lokal pun berlomba berinovasi.
Lopis dan wajik kini hadir dengan topping cokelat dan keju. Bolu tradisional dikemas dalam kotak estetik berlabel merek sendiri, menyasar generasi muda yang gemar berbagi momen di media sosial. Sentuhan modern itu tak menghilangkan akar tradisi, justru memperluas pasar.
Bagi warga Kubu Raya, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang kebahagiaan bersama—ruang di mana perbedaan melebur dalam aroma santan dan gula merah, dalam antrean yang tertib, dalam senyum pedagang dan pembeli.
Ketika azan magrib akhirnya berkumandang, hiruk-pikuk perlahan mereda. Kantong-kantong plastik berisi takjil dibawa pulang. Wajah-wajah yang tadi tegang menunggu giliran kini berseri. Di setiap rumah, di setiap sudut kota, hidangan sederhana tersaji di atas meja.
Di Kubu Raya, senja Ramadan selalu membawa pesan yang sama yakni satu kota, seribu rasa, satu tujuan yakni bersyukur dan berbagi dalam keberagaman. (*)
Editor : Hanif