Pasar Juadah Singkawang menjadi simbol nyata kebersamaan lintas agama di ruang publik selama Ramadan. Tidak hanya menggerakkan ekonomi UMKM, tetapi juga menegaskan Singkawang sebagai kota yang merawat toleransi melalui interaksi sederhana warganya.
HARI KURNIA THAMA, Singkawang
Deretan Lapak kuliner di Pasar Juadah Singkawang Ramadan Fair 2026 tampak lebih padat dari biasanya. Aroma gorengan bercampur wangi kolak dan minuman segar memenuhi udara sore di kawasan Mess Daerah, Jalan Merdeka. Suara pedagang menawarkan dagangan bersahut-sahutan dengan tawa pengunjung yang berburu menu berbuka puasa.
Di tengah kerumunan itu, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie berdiri sejajar dengan warga lain yang memegang kantong plastik berisi takjil. Tjhai menyusuri satu per satu lapak pedagang. Ia menyapa penjual, berbincang ringan dengan pembeli, bahkan sempat menawar harga seperti warga pada umumnya. Kehadirannya sontak menarik perhatian, namun suasana tetap cair. Warga tak sungkan mengajaknya berswafoto, sementara pedagang terlihat antusias melayani orang nomor satu di kota itu.
“Pasar juadah ini bukan hanya tempat jual beli, tapi ruang silaturahmi lintas suku dan agama,” ujar Tjhai Chui Mie di sela-sela kegiatannya berburu takjil. “Tidak hanya masyarakat Muslim yang datang. Warga non-Muslim juga ramai ke sini karena menunya makanan dan minuman segar. Semua bisa saling berinteraksi,” tambahnya.
Fenomena “war takjil” di Singkawang bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi potret kebersamaan di kota yang dikenal sebagai salah satu simbol toleransi di Kalimantan Barat. Terlebih, tahun ini, Ramadan digelar bersamaan dengan Imlek dan Cap Go Meh. Suasana kota pun menjadi lebih semarak dari tahun-tahun sebelumnya.
Di antara antrean takjil, terlihat warga dengan latar belakang berbeda: ibu-ibu Muslim memilih kolak, remaja non-Muslim membeli gorengan, hingga keluarga yang sekadar berjalan santai menikmati suasana ngabuburit.
Bagi Tjhai Chui Mie, momen ini adalah gambaran konkret bagaimana Ramadan tidak hanya menjadi perayaan spiritual umat Islam, tetapi juga ruang sosial bagi seluruh warga kota. “Di sini kita belajar hidup berdampingan. Tidak ada sekat agama atau etnis. Semua datang dengan tujuan yang sama, menikmati suasana sore Ramadan,” katanya.
Ia menilai Pasar Juadah telah berkembang menjadi simbol persatuan. Lapak-lapak UMKM tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menghadirkan perjumpaan antarmanusia. Senyum pedagang bertemu senyum pembeli, obrolan ringan tercipta, dan rasa kebersamaan tumbuh secara alami.
Ekonomi Rakyat Bergerak
Selain nilai sosial, Pasar Juadah juga menjadi denyut ekonomi Ramadan. Tahun ini, panitia menyediakan sekitar 100 stan UMKM yang menjual aneka makanan dan minuman berbuka. Sejak sore hari, pengunjung sudah memadati kawasan pasar. Bahkan sebelum pukul 17.00 WIB, beberapa lapak terlihat kehabisan stok.
“Bulan ini memang penuh berkah. Belum jam lima sore, sudah banyak pedagang yang habis jualannya,” kata Tjhai Chui Mie sambil menunjuk salah satu lapak yang tinggal menyisakan etalase kosong.
Menurutnya, pasar juadah memberi peluang besar bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan pendapatan. Interaksi langsung dengan konsumen dari berbagai latar belakang juga menjadi ruang belajar bagi pedagang untuk terus berinovasi. “Ini bukan hanya soal jualan, tapi juga bagaimana UMKM kita tumbuh, dikenal, dan berani mengembangkan produk,” ujarnya.
Wajah Toleransi
Di sudut lain Pasar Juadah, suasana serupa terlihat. Sekelompok warga non-Muslim tampak menikmati jajanan sambil duduk di bangku taman. Mereka tidak merasa asing berada di tengah hiruk-pikuk Ramadan. “Setiap tahun kami ke sini. Suasananya ramai dan seru. Ini sudah jadi tradisi,” kata Lina, salah satu pengunjung.
Hal senada disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Singkawang, Azhari. Ia menilai Pasar Juadah di Ramadan Fair menjadi contoh nyata bagaimana relasi sosial lintas agama berjalan secara alami.
“Dalam konteks relasi sosial, semua berbaur berburu kudapan tanpa memandang suku dan agama. Bagi seorang Muslim yang penting halal, bagi yang lain ini ruang kebersamaan,” ujarnya.
FKUB menegaskan pentingnya menjaga komunikasi dan kolaborasi agar suasana kondusif selama Ramadan tetap terpelihara. Menurutnya, harmoni tidak lahir begitu saja, tetapi dibangun dari kebiasaan saling menghargai dalam aktivitas sehari-hari, termasuk di pasar juadah.
“Perbedaan adalah kekuatan. Kalau kita rawat dengan dialog dan saling memahami, maka stabilitas sosial akan terjaga,” katanya. (**)
Editor : Hanif