Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ancaman Karhutla di Musim Pengering, Warga Diajak Aktif Cegah Kebakaran Lahan Sejak Dini

Mirza Ahmad Muin • Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:11 WIB

 

MEMADAMKAN: Petugas gabungan memadamkan api di kawasan Parit Delima, Kubu Raya.
MEMADAMKAN: Petugas gabungan memadamkan api di kawasan Parit Delima, Kubu Raya.

Musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung panjang membawa kekhawatiran lama, yakni kebakaran hutan dan lahan yang kerap datang tanpa aba-aba. Bagaimana pemerintah mengantisipasinya?

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

Bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Pontianak, waktu untuk bersiap adalah sekarang. Bukan saat api sudah membesar, melainkan sejak tanda-tanda kecil mulai terlihat.

Kepala BPBD Kota Pontianak, M Nasir, menyebutkan bahwa langkah antisipasi tidak lagi cukup hanya mengandalkan patroli rutin. Tahun ini, pendekatan dipertegas melalui pembentukan posko-posko di titik rawan.

“Posko ini kami siapkan untuk mempercepat respon. Begitu ada indikasi kebakaran, tim bisa langsung bergerak,” ujarnya, Jumat (27/3).

Salah satu titik awal berdirinya posko berada di kawasan Jalan Sepakat 2, dekat Perumahan Rindu Alam, wilayah yang dinilai memiliki potensi kerawanan tinggi. Dari pos sederhana inilah, pemantauan akan dilakukan secara intensif, mengawasi setiap perubahan kecil di lahan gambut yang mudah terbakar saat kering.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menunjukkan potensi kemarau panjang yang bisa memperbesar risiko kebakaran. Meski hingga kini belum terdeteksi hotspot melalui satelit, laporan dari lapangan justru berkata lain.

Beberapa titik api sempat muncul, seperti di kawasan Purnama Sejahtera 7. Api memang tidak sempat membesar—petugas bergerak cepat memadamkannya sebelum panasnya terdeteksi satelit. Sebuah keberhasilan kecil yang menjadi pelajaran penting: kecepatan adalah segalanya.

Di posko-posko itu nantinya, tidak hanya BPBD yang berjaga. Sejumlah unsur akan dilibatkan, mulai dari organisasi perangkat daerah, Dinas Sosial, hingga dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, TNI, Polri, bahkan pihak swasta. Kolaborasi ini diharapkan menjadi benteng awal sebelum api berkembang menjadi bencana.

Namun, upaya ini tidak akan berarti tanpa peran masyarakat. Warga di tingkat RT dan RW diminta ikut serta mengawasi lingkungan sekitar. Sebab sering kali, api bermula dari hal sederhana, pembakaran lahan yang dianggap sepele.

Nasir mengingatkan, kebakaran lahan bukan hanya soal kerugian materi. Asap yang dihasilkan dapat membawa dampak kesehatan serius, termasuk ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Karena itu, pencegahan menjadi kunci utama.

 “Jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar,” tegasnya.

Di tengah ancaman kemarau, Pontianak memilih untuk tidak menunggu. Posko-posko didirikan, patroli diperkuat, dan masyarakat diajak terlibat. Sebab dalam urusan kebakaran lahan, satu percikan kecil bisa menjadi awal bencana besar, atau, jika diantisipasi dengan cepat, cukup menjadi cerita yang selesai sebelum sempat membesar.(*)

Editor : Hanif
#musim kemarau panjang #cegah karhutla #Posko #kebakaran lahan #bpbd pontianak