Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Naik Dango III Kota Pontianak: Menjaga Denyut Adat yang Menyatu dalam Ruang Kota

Mirza Ahmad Muin • Selasa, 21 April 2026 | 08:35 WIB
Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono saat melepas karnaval Naik Dango III Kota Pontianak. (ISTIMEWA)
Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono saat melepas karnaval Naik Dango III Kota Pontianak. (ISTIMEWA)

Deru kendaraan berpadu dengan langkah kaki yang berirama pelan di bawah terik siang Pontianak. Manik-manik berkilau memantulkan cahaya, bulu-bulu hias bergoyang mengikuti gerak tubuh para peserta. Naik Dango III Kota Pontianak pun dimulai.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

Warna merah dan hitam mendominasi sepanjang ruas jalan dari Rumah Betang di Jalan Sutoyo menuju Rumah Radakng di Jalan Sultan Syarir, Senin (20/4). Di sanalah Naik Dango ke-3 Kota Pontianak dibuka, menghadirkan kembali jejak tradisi ke ruang publik kota.

Sekitar 38 kelompok ambil bagian dalam pawai pembuka. Mereka datang bukan hanya dari komunitas Dayak, tetapi juga lintas etnis, bahkan tamu dari Sarawak, Malaysia. Di antara denting musik tradisional dan sorak warga di tepi jalan, arak-arakan itu menjelma menjadi perayaan keberagaman yang bergerak bersama.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyebut Naik Dango sebagai agenda budaya tetap yang terus dijaga keberlangsungannya. Bagi pemerintah kota, perayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ada harapan agar denyut adat yang dirawat turun-temurun itu juga menggerakkan roda ekonomi warga.

Baca Juga: Wagub Kalbar Dukung Penuh Kejuaraan Karate INKANAS 2026 untuk Pembinaan Atlet Muda Berprestasi

“Ini agenda budaya tetap Kota Pontianak. Mudah-mudahan berjalan lancar dan berdampak positif untuk pembangunan, terutama UMKM dan ekonomi masyarakat,” ujarnya usai melepas karnaval.

Kehadiran tamu dari Sarawak memberi warna tersendiri. Di panggung kota yang terbuka, Naik Dango tidak lagi berdiri sebagai perayaan satu komunitas, melainkan ruang temu lintas batas. Tradisi yang berakar kuat di tanah Kalimantan itu kini melangkah lebih jauh, menyapa publik yang lebih luas, bahkan lintas negara.

Bagi Pemerintah Kota Pontianak, dukungan terhadap kegiatan ini diwujudkan dalam fasilitasi dan bantuan teknis agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Pemerintah hadir sebagai penjaga ritme, memastikan adat dan modernitas dapat berdampingan tanpa saling menegasikan.

Secara filosofis, Naik Dango dimaknai sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan terhadap adat. Di kota, makna itu tidak luntur, justru menemukan konteks baru. Di antara stan kuliner, pameran, dan panggung hiburan, nilai adat tetap menjadi inti.

Ketua Dewan Adat Dayak Kota Pontianak, Yohanes Nenes, mengajak masyarakat Kalimantan Barat untuk menghadiri rangkaian Naik Dango III yang digelar 21–25 April 2026 di Rumah Radakng. Ia menegaskan, perayaan ini lebih menonjolkan unsur adat dibandingkan sekadar hiburan.

Baca Juga: Gubernur Kalbar: Adab Melayu Jadi Fondasi Hadapi Era Digital  

“Naik Dango ini sekitar 60 persen adat budaya dan 40 persen seni budaya. Jadi lebih terasa nilai adatnya,” jelasnya.

Panitia menyiapkan segala kebutuhan teknis, mulai dari pengaturan parkir hingga kebersihan. Sejak pukul 04.00, tim khusus telah bekerja memastikan lokasi tetap tertib dan bersih. Bagi mereka, menjaga lingkungan perayaan sama pentingnya dengan menjaga nilai tradisi itu sendiri.(*)

Editor : Hanif
#Naik Dango #Pelestarian Adat #Lintas Etnis #pontianak #Pawai Budaya