Di tengah perubahan iklim dan ancaman kerusakan lingkungan, perempuan dari desa-desa di Kalimantan Barat hadir membawa cerita tentang perjuangan mereka menjaga hutan. Mereka juga aktif menggerakkan ekonomi keluarga.
SITI SULBIYAH, Pontianak
Semangat Hari Kartini tahun ini diterjemahkan dalam langkah nyata melalui seminar bertajuk “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Perkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia.”
Kegiatan ini digelar oleh Jari Indonesia Borneo Barat, The Asia Foundation, serta Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Rabu (22/4).
Salah satunya datang dari Desa Sungai Deras, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya. Desa ini berlokasi di kaki Gunung Ambawang. Di sana terdapat hutan desa seluas 572 hektare dengan status kawasan hutan lindung. Bagi warga, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, tetapi sumber kehidupan.
Baca Juga: Peringatan Hari Kartini Kalbar, Gubernur Tekankan Perempuan Berdaya Lewat Karya Nyata
“Sebagai ibu rumah tangga, air bersih itu kebutuhan utama untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Siti Latifah, perempuan penggerak di Desa Sungai Deras.
Bagi warga di sana, hutan desa itu menjadi penjaga mata air bagi masyarakat sekitar. Selain fungsi ekologis, kawasan tersebut juga memiliki potensi wisata alam yang mulai dilirik.
Namun, perempuan di Sungai Deras tak berhenti pada menjaga fungsi hutan. Mereka juga mengembangkan usaha ekonomi berbasis sumber daya lokal. Salah satunya melalui pembibitan ikan nila yang kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Desa Sungai Deras pun membentuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dengan nama KUPS Nila. Terdapat 20 anggota di kelompok ini dengan komposisi 15 perempuan dan 5 laki-laki. Para perempuan terlibat aktif, mulai dari budidaya hingga mengolah ikan nila menjadi abon.
Tak hanya di dapur produksi, mereka juga turun langsung ke lapangan. Bersama warga lain, kelompok ini rutin melakukan patroli hutan dan monitoring kawasan. Bahkan terdapat 10 titik peringatan ancaman di jalur pengawasan. Sebagian medannya cukup menanjak.
Baca Juga: 28 Persen Warga Kalbar Tak Tamat SMA, Gubernur Dorong PKBM Tingkatkan IPM Daerah
Cerita serupa datang dari Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Pada Juli 2018, desa tersebut memperoleh izin perhutanan sosial. Masyarakat mengembangkan berbagai komoditas lokal, seperti jahe, beras merah hitam, kopi liberika, nanas, pisang, kangkung malu, hingga berbagai anyaman.
Beberapa produk bahkan telah mengantongi izin PIRT dan label halal berkat pendampingan dari Jari Borneo Barat. Hal itu membuka peluang pasar yang lebih luas dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
Di desa ini, partisipasi perempuan dalam pengelolaan hasil perhutanan sosial sangat dominan. “Partisipasi perempuan di sini bisa mencapai 90 persen,” ujar Nini Andriani, salah seorang perempuan penggerak di desa itu.
Sejauh ini, produk yang mereka hasilkan sedikit banyak membantu perekonomian keluarga. Namun yang menjadi tantangan bagi mereka dalam mengelola produk adalah keterbatasan alat produksi dan permodalan.
Di sisi lain, bagi mereka menjaga hutan berarti menjaga masa depan keluarga. Namun, ancaman seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ilegal logging masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi bersama. Untuk itulah, patroli dan monitoring kerap dilakukan. Tim patroli ini juga melibatkan para perempuan.
Baca Juga: Harga Plastik Naik Tekan UMKM Pontianak, Pedagang Keluhkan Untung Makin Menipis
“Kami tidak hanya terlibat dalam pengelolaan hasil hutan, tetapi juga ikut patroli,” tambahnya.
Pendamping Jari Indonesia Borneo Barat, Hera Yulita, menegaskan bahwa pengelolaan hasil hutan lewat skema perhutanan sosial telah memberi ruang bagi perempuan untuk lebih berdaya.
“Perempuan bisa membantu ekonomi keluarga lewat skema perhutanan sosial ini,” ujarnya.
Menurut Hera, masih banyak tantangan yang dihadapi perempuan desa. Namun yang paling penting adalah semangat yang terus hidup di tengah keterbatasan. “Yang penting masih ada semangat melalui upaya yang mereka lakukan, baik yang ada di Kalibandung maupun Sungai Deras,” katanya.(*)
Editor : Hanif