Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Penempa Mandau Terakhir di Pelosok Kotim Berjuang Jaga Warisan Dayak

Efprizan • Rabu, 10 Juni 2026 | 10:19 WIB
Saini, pengrajin Mandau yang tetap menjaga warisan leluhur. (ist/prokalteng)
Saini, pengrajin Mandau yang tetap menjaga warisan leluhur. (ist/prokalteng)

PONTIANAK POST - Di Desa Bapinang Hulu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, seorang pengrajin mandau berusia 69 tahun masih setia menjaga warisan budaya Dayak yang semakin langka di tengah arus modernisasi.

M. Saini terus membuat mandau secara tradisional dengan keterampilan yang diwariskan turun-temurun, meski jumlah generasi muda yang berminat mempelajari kerajinan tersebut terus berkurang.

Dengan tangan yang mulai keriput, Saini setiap hari menempa besi, mengukir gagang, dan merakit sarung mandau secara teliti dari bengkelnya yang sederhana.

Mandau Bukan Sekadar Senjata

Bagi masyarakat Dayak, mandau bukan hanya senjata tradisional, melainkan simbol kehormatan, identitas budaya, dan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Baca Juga: Gawai Umpan Parakng Beliung Perkuat Identitas Dayak Toba di Kabupaten Sanggau

Saini mengatakan setiap mandau dibuat melalui proses panjang yang membutuhkan ketelitian serta keterampilan khusus untuk menghasilkan ukiran khas Dayak.

"Mandau yang saya buat ini murni karya seni budaya Dayak dan tidak ada unsur magisnya," kata Saini, dikutip dari Prokalteng (jaringan Pontianak Post).

Selain mandau, ia juga menerima pesanan parang, pisau, dan berbagai alat tajam tradisional lainnya.

Menurutnya, harga produk yang dibuat berkisar antara Rp500 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung bahan dan tingkat kesulitan pengerjaan.

Baca Juga: Wagub Kalbar Resmikan Rumah Adat di Parindu, Krisantus Tekankan Pelestarian Budaya Dayak  

Khawatir Tak Ada Penerus

Di balik ketekunannya menjaga tradisi, Saini menyimpan kekhawatiran terhadap masa depan kerajinan mandau tradisional.

Ia menilai semakin sedikit anak muda yang tertarik mempelajari keterampilan menempa dan mengukir mandau.

"Sekarang sudah jarang anak muda yang mau belajar, padahal ini budaya kita sendiri," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat jumlah pengrajin mandau tradisional terus berkurang dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Wagub Kalbar: Gawia Sowa Simbol Pelestarian Budaya Dayak Bidayuh di Bengkayang

Padahal, keberadaan para pengrajin menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Dayak di Kalimantan.

Harap Dukungan Pemerintah

Saini berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada para pengrajin tradisional melalui promosi budaya, pelatihan, pameran, hingga bantuan pengembangan usaha.

Menurutnya, dukungan tersebut penting agar kerajinan mandau tetap dikenal oleh generasi muda dan memiliki nilai ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan pengrajin.

"Harapan saya budaya ini jangan sampai hilang. Mudah-mudahan ada anak muda yang mau belajar dan pemerintah juga bisa membantu memperkenalkan karya budaya daerah," katanya.

Di tengah perubahan zaman, keteguhan Saini menjaga tradisi menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya hidup dalam museum, tetapi juga melalui tangan-tangan pengrajin yang terus berkarya demi menjaga marwah budaya Dayak tetap lestari. (*)

Editor : Efprizan
#mandau #penempa mandau #budaya Dayak Kalimantan #warisan budaya Borneo #dayak