Jelang Lomba Tundang Melayu MAN 1 Pontianak: Merawat Tundang Melayu Lewat Kreativitas Generasi Muda

Marsita Riandini • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 12:56 WIB
Panitia Lomba Tundang Melayu MAN 1 Pontianak saat silaturahmi ke Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan pada Kamis (20/8). (ISTIMEWA)
Panitia Lomba Tundang Melayu MAN 1 Pontianak saat silaturahmi ke Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan pada Kamis (20/8). (ISTIMEWA)

Menjelang Lomba Tundang Melayu MAN 1 Pontianak, upaya pelestarian budaya lokal diperkuat melalui keterlibatan pelajar, madrasah, pemerintah dan komunitas seni.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

DI TENGAH perubahan zaman yang membuat generasi muda semakin akrab dengan budaya populer, suara tundang Melayu terus dijaga agar tidak kehilangan ruang di tanah kelahirannya. Dari lingkungan madrasah, MAN 1 Pontianak mencoba menjadikan seni tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi bagian dari kreativitas pelajar hari ini.

Upaya itu terlihat menjelang pelaksanaan Lomba Tundang Melayu Tingkat Kota Pontianak Jenjang SMP/MTs. Panitia bersama tim Tundang Melayu MAN 1 Pontianak bersilaturahmi dengan Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan di rumah dinasnya, Kamis (20/8).

Baca Juga: Kabut Asap Masih Muncul, DPRD Kalbar Dukung PJJ untuk Pelajar Kubu Raya

Rombongan dipimpin Kepala MAN 1 Pontianak Sholihin HZ, bersama Ketua Panitia Tundang Melayu Feri Wardani yang juga guru MAN 1 Pontianak, serta sejumlah siswa anggota tim Tundang Melayu. Pertemuan itu turut dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Uray Rahmat.

Silaturahmi tersebut bukan sekadar agenda menjelang perlombaan. Ada pesan yang lebih panjang di baliknya: bagaimana seni tradisi Melayu tetap memiliki tempat di tengah kehidupan generasi muda Pontianak.

Tundang Melayu selama ini menjadi salah satu bentuk ekspresi seni tradisi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Melayu. Ketika seni tradisi dibawa ke lingkungan sekolah dan madrasah, ruang pewarisannya pun menjadi semakin luas.

Karena itu, lomba yang dijadwalkan berlangsung pada 15 September 2026 tersebut dirancang untuk melibatkan pelajar SMP/MTs. Kompetisi menjadi pintu masuk agar siswa tidak hanya mengenal tundang sebagai pertunjukan, tetapi juga memahami nilai budaya yang ada di dalamnya.

Baca Juga: Tawa Anak-Anak Warnai Lomba Kemerdekaan di Ketapang

Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyambut baik langkah MAN 1 Pontianak tersebut. Ia berharap tundang tidak berhenti sebagai materi perlombaan, melainkan berkembang menjadi gerakan kebudayaan yang lebih terorganisasi.

“Saya berharap tundang ini terus dikembangkan karena merupakan budaya lokal yang harus dilestarikan. Bila perlu nanti tundang ini diberi nama supaya berbagai etnis bisa masuk, misalnya Sanggar Tundang Pontianak,” ujar Bahasan.

Menurut Bahasan, penguatan kelembagaan menjadi salah satu langkah agar seni tundang dapat berkembang secara berkelanjutan. Ia mendorong komunitas tundang mengurus legalitas formal sehingga keberadaannya dapat berkembang seperti sanggar seni lainnya di Pontianak.

Baca Juga: FKIP Untan Kenalkan Program Doktor Pendidikan kepada Dosen dan Guru di Singkawang

“Silakan diurus legal formalnya ke Kesbangpol Kota dan PTSP, sehingga ke depan Tundang bisa diformulasikan sebagai sanggar seperti sanggar-sanggar lainnya yang ada di Pontianak,” tambahnya.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan. Tradisi membutuhkan ruang, pelaku, pembinaan, dan kelembagaan agar dapat terus diwariskan.

Bagi MAN 1 Pontianak, keterlibatan siswa dalam seni tradisi juga berkaitan dengan pendidikan karakter. Madrasah tidak hanya menjadi tempat peserta didik mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang untuk mengenal lingkungan sosial dan budaya tempat mereka tumbuh.

Kepala MAN 1 Pontianak Sholihin HZ mengatakan dukungan Pemerintah Kota Pontianak menjadi energi bagi madrasah untuk terus mengembangkan tundang di kalangan pelajar.

“Kami ingin Tundang Melayu tidak sekadar menjadi kegiatan ekstrakurikuler, tetapi menjadi media pendidikan karakter, kreativitas, sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan budaya Pontianak kepada generasi muda,” ungkap Sholihin.

Pernyataan itu menempatkan seni tradisi dalam konteks yang lebih luas. Bagi siswa, belajar tundang bukan hanya soal tampil di atas panggung, melainkan juga proses mengenal identitas budaya dan mengembangkan keberanian berekspresi.

Ketua Panitia Tundang Melayu MAN 1 Pontianak Feri Wardani mengatakan lomba tersebut merupakan bagian dari komitmen madrasah memberikan ruang kepada pelajar untuk mengembangkan bakat sekaligus mengenal seni tradisi.

Silaturahmi dengan Wakil Wali Kota Pontianak pun menjadi titik temu antara dunia pendidikan dan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal.

Di tengah derasnya arus budaya global, keberadaan tundang di tangan pelajar menjadi semacam jembatan. Tradisi tidak harus tinggal sebagai cerita tentang masa lalu. Ia dapat hidup melalui suara, kreativitas dan keberanian generasi muda untuk membawanya ke panggung baru.

Dari madrasah, tundang mendapat ruang untuk tumbuh. Dari pelajar, tradisi menemukan generasi penerus. Dan dari dukungan pemerintah serta masyarakat, seni budaya Melayu Pontianak memiliki peluang untuk terus hidup melampaui satu generasi. (*/r)

Editor : Hanif
Tundang Melayu pelajar Pontianak seni tradisi budaya melayu MAN 1 Pontianak