Dwi memulainya dengan penanganan mamalia laut terdampar. Sebagai negara maritim, potensi terdamparnya mamalia laut di Indonesia sangat tinggi. Merasa belum menjadi ahli paus, ia merancang workshop internasional di Bali bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ada 13 negara yang mengirimkan perwakilan, baik sebagai peserta maupun trainer.
“Sejak saat itu KKP punya program penanganan mamalia laut terdampar, hingga sekarang. Bagaimana melatih masyarakat lokal atau masyarakat pesisir dan pemerintah daerah jika ada kejadian terdampar, seperti mitigasi bencana jika ada paus terdampar misalnya,” jelas Dwi.
Dengan pengalamannya, Dwi sekarang dipercaya KKP sebagai tenaga ahli yaitu Trainer Penanganan Mamalia Laut Terdampar di Indonesia. Ia telah memberikan pelatihan teknis kepada ratusan orang di Indonesia. Dwi juga turut berpartisipasi aktif bersama KKP dalam penyusunan Dokumen Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Spesies Laut periode 2016-2020 dan 2021-2025, salah satunya penerbitan buku-buku panduan teknis monitoring maupun penanganan satwa laut terutama megafauna akuatik.
Dengan segala pencapaian yang telah diraih, pendiri IAM Flying Vet (Asosiasi Dokter Hewan Megafauna Akuatik Indonesia) ini masih mempunyai mimpi yang belum tercapai hingga kini yaitu rumah sakit hewan terapung, rumah sakit hewan yang khusus menangani megafauna akuatik dan beroperasi di dalam kapal.
“Saya sudah mendirikan asosiasinya, sudah ada 55 dokter di Indonesia. Dulu jika hewan megafauna sakit tidak ada dokternya. Sekarang sudah saya inisiasi dokternya. Masalahnya sekarang mau dibawa kemana? Nggak punya pusat rehabilitasi yang memadai. Rumah sakit hewan terapung salah satu harapan,” ungkap Dwi penuh asa. (sya) Editor : Super_Admin