Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kiat Memiliki Rumah Impian

A'an • Selasa, 10 September 2024 | 14:12 WIB
SESUAIKAN KEBUTUHAN: Deretan rumah di kompleks perumahan di kawasan Surabaya Timur, Selasa(27/6). Pengembang menyasar keluarga muda sebagai end user.
SESUAIKAN KEBUTUHAN: Deretan rumah di kompleks perumahan di kawasan Surabaya Timur, Selasa(27/6). Pengembang menyasar keluarga muda sebagai end user.

Memiliki rumah adalah impian banyak orang. Karena itulah, untuk mencapainya, diperlukan perencanaan yang matang dan langkah-langkah strategis. Mulai dari persiapan anggaran hingga perlunya melakukan riset pasar. 

 

Oleh : Siti Sulbiyah

 

 

MEMBELI rumah untuk investasi adalah salah satu cara untuk membangun kekayaan jangka panjang. Dengan pasar properti yang terus berkembang, investasi dalam bentuk pembelian rumah menawarkan potensi keuntungan, baik dari penyewaan maupun kenaikan nilai properti.

Inilah yang menjadi salah satu alasan Ahmad (42) membeli sebuah rumah dengan sistem Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Pembelian tersebut ia lakukan belasan tahun yang lalu. Kini ia telah melunasi seluruh cicilannya.

Rumah tersebut oleh Ahmad semula ditempati oleh keluarga kecilnya. Namun, hanya bertahan sekitar satu tahun. Ia memutuskan untuk kembali tinggal bersama mertua dan menyewakan rumah tersebut. 

“Disewakan agar ada pemasukan,” ucapnya.

Setiap tahun ia mendapatkan keuntungan dari sewa rumah. Rumah yang ia beli dengan cara KPR belasan tahun yang lalu kini bisa dipetik hasilnya. Kini rumah tersebut memberikan pemasukan pasif baginya.

Rumah sebagai aset investasi menjadi topik yang diulas dalam Talkshow Dana Syariah yang bertema "2025 Punya Rumah Pertama". Dalam acara tersebut, Marisa Jaya, Property Analyst dari Rumah123.com, membagikan wawasan penting mengenai pasar properti dan peran generasi muda dalam dunia investasi rumah.

Marisa Jaya menjelaskan bahwa meskipun sering terdengar bahwa generasi muda mengalami kesulitan dalam membeli rumah, data menunjukkan sebaliknya. “Untuk rentang usia 25-34 tahun, proporsi pencarian properti mencapai 30 persen,” ujarnya.

Hal ini mengindikasikan bahwa minat generasi muda terhadap kepemilikan rumah sangat signifikan, menandakan pasar yang besar dan potensial.

Menurut estimasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), terdapat sekitar 81 juta anggota Generasi Milenial dan Gen Z yang diperkirakan belum memiliki rumah. Dari data ini, ia menyoroti peluang besar bagi mereka untuk memanfaatkan aset berupa rumah sebagai instrumen investasi.

Marisa memaparkan ada tiga skema yang bisa dipilih untuk membeli rumah. Pertama, pembelian tunai. Ini adalah metode di mana pembeli membayar seluruh harga rumah secara langsung tanpa melibatkan pinjaman. Metode ini mungkin terlihat sederhana karena tidak melibatkan bunga atau biaya tambahan lain yang biasanya terkait dengan pinjaman, namun memerlukan modal yang sangat besar di muka.

Skema kedua adalah cicilan langsung. Metode cicilan langsung adalah pembelian rumah dengan cara membayar dalam beberapa kali angsuran tanpa melibatkan bank. Meskipun cara ini memungkinkan pembeli untuk tidak terkena bunga, harga rumah biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan harga tunai atau KPR.

“Biasanya harganya akan lebih mahal dari harga cash ataupun KPR,” katanya.

Cara ketiga adalah Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Ini adalah metode yang paling umum digunakan di Indonesia. Berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia, sekitar 75 persen masyarakat Indonesia memilih membeli rumah melalui KPR. 

“Ini cara yang paling banyak dipilih oleh masyarakat dan paling memungkinkan terutama bagi generasi muda,” jelasnya. 

Marisa menekankan bahwa membeli rumah adalah langkah besar dan memerlukan perencanaan yang matang. Salah satu yang perlu menjadi perhatian adalah perlunya menentukan anggaran.

Langkah pertama dalam membeli rumah adalah menentukan anggaran yang sesuai dengan kemampuan finansial. Menurutnya penting untuk menilai seberapa besar cicilan bulanan yang bisa ditanggung berdasarkan penghasilan saat ini. Konsultasikan dengan layanan pembiayaan rumah untuk mendapatkan estimasi cicilan yang realistis dan rumah yang sesuai dengan anggaran.

Setelah menetapkan anggaran, langkah berikutnya adalah menentukan kebutuhan properti. Beberapa aspek penting yang harus dipertimbangkan meliputi lokasi dan aksesibilitas, spesifikasi bangunan, dan lingkungan.  Ia menyarankan untuk memilih lokasi yang sesuai dengan lokasi kerja atau kemudahan akses terhadap transportasi umum. 

Dari sisi spesifikasi bengunan, penting untuk menentukan ukuran rumah, luas tanah, jumlah kamar, dan jumlah lantai yang diinginkan. Sedangkan dari sisi lingkungan, tak kalah pentingnya mempertimbangkan jenis lingkungan yang inginkan.

“Semua faktor ini harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan Anda. Perlu diperhatikan penyesuaian antara kemampuan dan kebutuhan, dicari titik temunya,” jelas Marisa.

Memilih rumah juga berarti menyeimbangkan gaya hidup dan keinginan untuk berinvestasi. Marisa menekankan bahwa membeli properti adalah pengeluaran besar yang memerlukan penyesuaian dalam keuangan. "Mau tidak mau, properti akan menjadi pengeluaran yang besar, sehingga harus ada yang dikorbankan," katanya.

Bagi sebagian orang, mengimbangi pengeluaran rumah dengan gaya hidup bisa menjadi tantangan, terutama jika penghasilan tidak terlalu besar. Namun, Marisa juga mengingatkan bahwa properti adalah investasi jangka panjang yang memiliki nilai tambah dan dapat diwariskan. **

Editor : A'an
#rumah #rumah impian