Fenomena fatherless atau ketiadaan figur ayah semakin menjadi perhatian, tak terkecuali di Kalimantan Barat. Ketiadaan sosok ayah dalam kehidupan anak-anak dapat berdampak besar terhadap perkembangan mereka. Tanda-tandanya akan terlihat pada perilaku, respons sosial, hingga prestasi akademik anak.
Oleh : Siti Sulbiyah
Di Indonesia, kondisi anak mengalami fatherless ini muncul akibat berbagai faktor, termasuk perceraian, kematian, dan kehadiran ayah yang absen secara emosional dan fisik. Di Kalbar, seperti di banyak wilayah lainnya, meningkatnya angka perceraian serta pekerjaan yang menyebabkan banyak ayah harus bekerja jauh dari rumah, membuat anak tumbuh tanpa bimbingan yang signifikan dari seorang ayah.
Dr. Randi Saputra, M.Pd., Kons., dosen di IAIN Pontianak, membagikan pengalamannya dalam menangani anak-anak yang menunjukkan gejala kekurangan sosok ayah. Fenomena ini semakin sering ia temui dalam praktik konselingnya, di mana anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, mengalami berbagai masalah emosional dan sosial yang berkaitan dengan absennya figur ayah.
Salah satu kasus yang dihadapi Dr. Randi adalah seorang anak laki-laki yang menunjukkan perilaku agresif di sekolah. “Si anak laki-laki tampak mencari pengakuan dengan menunjukkan perilaku bermasalah,” tuturnya.
Ada pula, kata dia, seorang anak perempuan yang mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial dan cenderung menutup diri. Hal ini mencerminkan dampak psikologis yang dalam akibat kekurangan sosok ayah dalam hidup mereka.
Randi mencatat bahwa banyak orang tua yang datang untuk berkonsultasi mengenai masalah pengasuhan. Sering kali, masalah ini tidak hanya muncul pada anak-anak yang berasal dari keluarga yang bercerai atau yang ditinggal ayahnya karena meninggal. Bahkan, anak-anak dengan ayah yang masih hidup tetapi tidak hadir secara fisik dan emosional juga menunjukkan gejala fatherless.
Ketiadaan figur ayah dalam kehidupan anak-anak dapat berdampak signifikan pada perkembangan mereka. Meskipun tidak semua anak menampilkan tanda-tanda yang jelas, banyak dari mereka cenderung menunjukkan beberapa gejala yang dapat dikenali.
Ciri pertama yang terlihat adalah perasaan kurang percaya diri. Anak-anak ini sering kali memiliki harga diri yang rendah. Mereka mungkin merasa tidak berharga atau tidak mampu dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Tanpa adanya penghargaan dan dukungan dari sosok ayah, banyak anak merasa tidak berharga. Ketidakmampuan untuk merasakan apresiasi dari seorang ayah dapat berdampak negatif pada harga diri mereka.
Kedua, anak kesulitan mengontrol emosi. Banyak anak yang mengalami kesulitan dalam mengelola emosi mereka, sehingga mereka menjadi mudah marah dan frustasi. Beberapa anak mencari validasi dari teman-teman dengan cara bersikap agresif atau terlibat dalam perilaku anti sosial. Fenomena ini sudah banyak terjadi.
Ketiga, kecenderungan mencari perhatian. Anak-anak yang tidak memiliki figur ayah sering kali mencari perhatian dari orang lain.
Keempat, kesulitan dalam hubungan sosial. Mereka sering mengalami tantangan dalam membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya. Anak-anak ini mungkin merasa canggung atau tidak nyaman dalam situasi sosial.
“Ketidakhadiran ayah seringkali mempengaruhi kemampuan sosial anak. Anak mungkin merasa kurang percaya diri dalam interaksi sosial, membuat mereka cenderung menarik diri dalam kelompok,” paparnya.
Kelima, penurunan motivasi akademis. Performa akademis mereka bisa mengalami penurunan, dan prestasi sekolah yang tidak stabil sering kali menjadi tanda bahwa anak sedang berjuang dengan masalah yang lebih dalam.
Keenam, perasaan kesepian yang berkepanjangan. Banyak anak yang merasakan kesepian yang mendalam akibat ketidakhadiran sosok ayah, yang membuat mereka merasa kurang didukung dan terabaikan.
Anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung lebih rentan terhadap kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, atau gangguan emosional lainnya. ketidakstabilan emosional bisa menyebabkan kecemasan yang berlebihan terutama yang berhubungan dengan situasi sosial.
“Anak bisa mengalami depresi karena perasaan kesepian dan kehilangan yang diperparah dengan tekanan sosial dan akademis. Sudahlah anak tidak mendapatkan figur ayah, kemudian ada tekanan lain yang datang, mulai dari tekanan akademis, sosial yang lain.
“Walau begitu, tidak semua anak menampilkan tanda-tanda ini dengan intensitas yang sama, tetapi banyak yang mengalami beberapa gejala tersebut,” katanya. **
Editor : A'an