Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengatasi Rasa Takut Menikah: Cara Menghadapi dan Menjalani Pernikahan Sehat

Miftahul Khair • Sabtu, 9 November 2024 | 10:20 WIB

 

Ilustrasi takut menikah.
Ilustrasi takut menikah.

Pernikahan sering dianggap sebagai salah satu tujuan hidup yang penting, tetapi tidak sedikit yang merasa cemas bahkan takut untuk melangkah ke jenjang tersebut. Fenomena ini belakangan semakin marak di media sosial, dengan tagar "marriage is scary" atau "pernikahan itu menakutkan" banyak diperbincangkan warganet.

oleh : Siti Sulbiyah

TREN "marriage is scary" di Indonesia adalah fenomena di mana para warganet membagikan kekhawatiran mereka tentang pernikahan di media sosial. Tren ini muncul dan berkembang di media sosial, terutama TikTok, setelah adanya pemberitaan miris tentang keretakan rumah tangga.

Maria, seorang perempuan berusia 24 tahun asal Pontianak, mengaku tidak terlalu terkejut dengan fenomena ini. Menurutnya, ketakutan akan pernikahan sudah menjadi hal yang sangat umum di kalangan anak muda saat ini. 

"Kalau menurut aku itu sepertinya bukan hal yang mengejutkan lagi," ungkapnya.

Maria menjelaskan bahwa banyak faktor yang membuat orang muda enggan untuk menikah. Salah satunya adalah maraknya konten di media sosial tentang kehidupan rumah tangga yang tidak bahagia, bahkan berujung pada perceraian. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan cerita-cerita buruk lainnya sering kali viral di media sosial, mempengaruhi cara pandang generasi muda terhadap pernikahan. 

"Sekarang kita tahu media sosial mudah diakses. Orang-orang yang menikah berbagi pengalaman terkait nggak enaknya kehidupan setelah menikah," ujar Maria.

Selain faktor emosional, kekhawatiran finansial juga menjadi alasan banyak orang enggan menikah. Biaya hidup yang semakin tinggi setelah menikah menjadi salah satu beban pikiran. 

"Jujur aku pernah kepikiran untuk nggak menikah, bisa dibilang aku salah satu yang kena doktrin ini," katanya.

Fenomena "Marriage is Scary" yang ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di kalangan anak muda Indonesia, ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh informasi negatif tentang pernikahan, tetapi juga oleh berbagai faktor psikologis dan sosial. Psikolog Klinis, Farraas A. Muhdiar, M.SC., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa ada banyak faktor yang membuat orang merasa cemas bahkan takut untuk menikah, mulai dari pengalaman pribadi, tekanan finansial, hingga ekspektasi sosial yang membebani.

Menurut Farraas, salah satu penyebab utama kekhawatiran mengenai pernikahan adalah pengalaman traumatis. “Mungkin memang pengalaman traumatis, mungkin dibesarkan oleh orang tua yang hubungan pernikahannya tidak baik, entah bercerai atau justru kenapa nggak cerai-cerai padahal tidak bahagia," jelas Farraas dalam Webinar bertajuk Marriage Is Scary yang dilaksanakan oleh Rumah Cahaya, belum lama ini. 

Farraas juga menambahkan, ketakutan untuk menikah bisa timbul dari perasaan bahwa menikah hanya akan membawa penderitaan. "Ada perasaan yang muncul, 'Ya kalau gitu, nggak usah nikah daripada nikah itu menderita.’”

Selain itu, tuntutan finansial juga menjadi salah satu faktor yang membuat orang, terutama anak muda enggan melangkah ke jenjang pernikahan. Ia mengatakan tidak bisa dipungkiri bahwa biaya hidup sekarang semakin mahal. 

Ekspektasi sosial juga menjadi faktor yang mempengaruhi pandangan seseorang terhadap pernikahan. "Masyarakat seringkali menuntut standar pernikahan yang sempurna, baik secara sosial maupun material," ujarnya.

Farraas juga mengungkapkan bahwa banyak orang merasa belum siap secara psikologis untuk menikah, terutama jika mereka merasa masih memiliki "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan dalam diri mereka sendiri. “Kalau sudah banyak belajar tentang kesehatan mental Mungkin ini yang dirasakan,” tuturnya. 

Langkah pertama untuk mengatasi ketakutan menikah adalah dengan mengenal diri sendiri. Farraas menekankan bahwa seorang individu harus berproses untuk lebih memahami diri sendiri, meskipun tidak ada manusia yang benar-benar "selesai" dengan dirinya. 

Mengerti siapa kita, apa yang kita inginkan, serta apa yang bisa kita tawarkan dalam sebuah hubungan menurutnya adalah langkah awal yang penting untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia.

Langkah selanjutnya adalah memilih pasangan yang tepat. Ia menilai, jika belum selesai dengan diri sendiri, kemungkinan besar akan kesulitan memilih pasangan yang tepat. “Kalau kita nggak selesai dengan diri kita, bisa jadi kita ketemu pasangan yang tidak tepat,” tegasnya. 

Selanjutnya penting untuk belajar komunikasi sehat yang merupakan fondasi utama dalam hubungan yang sehat. Farraas menjelaskan bahwa sangat penting untuk menguasai cara berkomunikasi dengan sehat, yakni komunikasi yang asertif.  Komunikasi yang sehat adalah ketika kita bisa mengutarakan apa yang ada di pikiran dan perasaan kita tanpa menyakiti pasangan.

“Yang nggak sehat itu antara dua titik ekstrim antara agresif jadi orang yang komunikasinya agresif tuh nggak peduli sama perasaan orang lain,” katanya.

Ia mengatakan ada dua ekstrim yang harus dihindari dalam komunikasi, yakni agresif dan pasif. Orang yang agresif cenderung tidak peduli dengan perasaan orang lain, sementara orang yang pasif justru tidak berani mengungkapkan perasaannya sama sekali. Kedua pola ini bisa merusak hubungan.

Baca Juga: Pj Bupati dan Forkopimda mempawah Hadiri Rakornas di Sentul, Ismail: Ciptakan Kolaborasi Pempus dan Pemda  

Di samping itu, banyak orang yang merasa cemas dengan gambaran pernikahan yang sempurna, padahal kenyataannya, pernikahan tidak mungkin sempurna. Farraas menyarankan agar dapat menjadi lebih realistis dan mempertanyakan apakah ketakutan tersebut berbasis fakta atau hanya imajinasi belaka. 

“Faktanya pernikahan memang nggak mungkin sempurna tapi harusnya pernikahan itu bisa memberikan rasa aman, rasa nyaman dan ketenangan,” ujarnya. 

Terakhir, jika merasa belum siap untuk menikah, jangan langsung memutuskan untuk menunda atau menghindari pernikahan sama sekali.  Jika merasa tidak siap nikah, kesimpulannya bukan memutuskan untuk tidak menikah.

“Tapi kesimpulannya ya ayo siapin diri. Supaya nanti siap ketemu orang yang tepat dan akhirnya bisa bahagia dengan pernikahannya,” imbuhnya.

Pernikahan Sehat Beri Dampak Positif

Psikolog Klinis, Farraas A. Muhdiar, M.SC., M.Psi., Psikolog, menilai pernikahan yang sehat justru dapat memberikan dampak positif yang besar bagi kehidupan seseorang, baik dari sisi psikologis, fisik, maupun finansial.

Farraas menjelaskan bahwa riset menunjukkan bahwa pernikahan yang sehat dapat memberikan banyak manfaat, salah satunya bagi kesehatan fisik. "Bagi laki-laki, banyak riset yang menyatakan bahwa mereka yang sudah menikah cenderung lebih sehat, memiliki tujuan hidup yang lebih jelas, dan lebih bahagia," katanya. 

Sementara itu, bagi perempuan, manfaat pernikahan tergantung pada kondisi hubungan itu sendiri. Pernikahan yang sehat, di mana ada komunikasi yang baik dan saling mendukung, bisa menjadi sumber kebahagiaan yang besar bagi perempuan. 

Menurutnya support system yang dimiliki oleh pasangan adalah salah satu manfaat dari menikah Jika seseorang mungkin tidak mendapatkan support system yang cukup dari keluarga, pernikahan bisa menjadi pilihan untuk membangun support system baru yang lebih solid dengan pasangan.

Tidak hanya itu, pernikahan yang baik juga memiliki dampak positif dalam hal keuangan. Menurutnya, meskipun biaya pengeluaran setelah menikah, apalagi jika sudah memiliki anak, cenderung lebih besar, tetapi pernikahan dapat mendorong pasangan untuk memiliki tujuan finansial bersama.

Dari sisi perkembangan pribadi, pernikahan juga dapat mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik dan lebih dewasa. Pernikahan yang sehat dapat membantu pasangan untuk berkembang, belajar saling berkompromi, dan menghadapi tantangan bersama.

Tak kalah penting, dalam pandangan agama, pernikahan juga memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam agama Islam, misalnya, pernikahan dianggap sebagai ibadah terbesar. 

“Jadi niat nikahnya ya karena juga sebagai makhluk ciptaan tuhan yang mau beribadah,” imbuhnya. (**)

Editor : Miftahul Khair
#Cara Mengatasi #Takut Menikah #Pernikahan Sehat