Turunkan Kualitas Hidup, Gangguan Pendengaran Akibatkan Komunikasi Terhambat hingga Risiko Demensia

Miftahul Khair • Dipublikasikan Jumat, 7 Maret 2025 | 15:08 WIB

 

Ilustrasi mengalami gangguan pendengaran.
Ilustrasi mengalami gangguan pendengaran.

Gangguan pendengaran adalah kondisi ketika seseorang mengalami penurunan kemampuan mendengar yang dapat bersifat sementara atau permanen. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak, orang dewasa, maupun lansia. Gangguan pendengaran dapat berdampak besar pada kualitas hidup seseorang.

Oleh : Siti Sulbiyah

Menurut World Health Organization (WHO) sekitar 1,57 miliar penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran dan merupakan penyebab ketiga terjadinya disabilitas di seluruh dunia. Selain itu, saat ini lebih dari lima persen populasi dunia atau sekitar 43 juta memerlukan rehabilitasi pendengaran.

Hal tersebut dikatakan oleh Plt Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kemenkes RI, Yudhi Pramono, dalam kegiatan Temu Media dalam rangka memperingati Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day/WHD) yang diperingati setiap tanggal 3 Maret.

“Pada tahun 2050 diperkirakan ada sekitar 2,5 Miliar orang akan mengalami gangguan pendengaran pada tingkat tertentu dan setidaknya ada 700 juta orang yang memerlukan rehabilitasi pendengaran,” kata Yudhi.

Di samping itu lebih dari satu Miliar orang dewasa muda berisiko mengalami gangguan pendengaran permanen yang seharusnya bisa dihindari karena kebiasaan mendengarkan yang tidak aman atau mendengarkan musik atau suara keras melampaui batas normal secara lama dan terus-menerus .

Hasil survei kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas pendengaran pada usia di atas satu tahun sebesar 0,4 persen. Adapun proporsi penggunaan alat bantu dengar pada penduduk di atas 1 tahun mencapai 4,1 persen.

“Artinya ada empat dari 100 orang di Indonesia adalah pengguna alat bantu pendengaran,” ujarnya. 

Ia menilai hal ini menunjukkan bahwa angka disabilitas akibat gangguan pendengaran cukup tinggi di Indonesia pada anak berusia di bawah lima tahun. Infeksi telinga menjadi salah satu penyebab terbanyak kasus gangguan pendengaran.

Diperkirakan sekitar 22,6 persen kasus Otitis media supuratif kronis (OMSK) atau infeksi telinga tengah yang terjadi secara terus-menerus. OMSK juga dikenal sebagai penyakit congek. 

Dalam kesempatan yang sama, Yussy Afriani dari PP Perhati-KL Indonesia (Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia) mengatakan semakin berat gangguan pendengaran semakin besar juga dampaknya terhadap kualitas hidup dari seseorang. 

“Gangguan pendengaran memiliki dampak yang sangat luas, di antaranya terjadinya gangguan komunikasi yang menyebabkan keterlambatan bicara dan bahasa pada anak,” terangnya.

Dampak lainnya, lanjut Yussy adalah gangguan kognitif yang meningkatkan risiko demensia pada usia lanjut. Selain itu, penurunan kesempatan pendidikan dan pekerjaan menyebabkan keterbatasan akses terhadap peluang ekonomi juga merupakan dampak dari gangguan pendengaran.

“Kemudian dampaknya juga pada penurunan fungsi dan emosional menurunkan kualitas hidup dan dapat menyebabkan isolasi dari lingkungan sosial,” tuturnya.

Ia memaparkan salah satu penyebab utama gangguan pendengaran adalah pendengaran kongenital, atau gangguan pendengaran yang didapat sejak lahir, baik secara genetik maupun non genetik dan biasanya bersifat sensorineural.

Ada pula serumen atau kotoran telinga dapat menyebabkan gangguan pendengaran ringan hingga berat. Prevalensi Global  serumen mencapai 7,35 persen dengan angka tertinggi pada anak-anak dan lansia.

“Faktor kebiasaan yang tidak tepat seperti penggunaan korek kuping atau cotton bud dapat meningkatkan resiko serumen,” ucapnya.

Selain kedua gangguan tersebut ada pula, penyebab gangguan telinga lainnya adalah  infeksi telinga tengah, presbikusis, paparan bising dan juga penggunaan obat-obatan yang dapat merusak pendengaran atau ototoksik. 

Apa langkah preventif yang dapat dilakukan terhadap gangguan pendengaran? Ia menilai beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah pemberian nutrisi yang seimbang bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, maupun menjaga kebersihan daerah rumah tangga.

“Seperti mencuci tangan memasak makanan mencuci dan mengupas buah-buahan dan sayuran,” terangnya.

Menjaga kebersihan telinga, tidak merokok, konsumsi nutrisi seimbang, melakukan imunisasi dasar lengkap, serta menghindarkan diri dari suara bising juga menjadi langkah pencegahan gangguan telinga. 

“Pada periode prenatal dan perinatal dapat dilakukan pemberian imunisasi, perawatan ibu hamil dan bayi neonatus, juga konseling genetik,” katanya. 

Oleh karena itu edukasi kepada masyarakat dan dukungan dari tenaga kesehatan sangat penting untuk menciptakan generasi dengan pendengaran yang sehat.

Lakukan Deteksi Dini

Yussy Afriani dari PP Perhati-KL Indonesia (Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia) mengatakan gangguan pendengaran dapat terjadi pada berbagai tahap kehidupan, mulai dari bayi hingga usia lanjut. Oleh karena itu, pemeriksaan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa gangguan pendengaran dapat segera ditangani 

Mulai bayi dapat dilakukan skrining pendengaran pada bayi baru lahir. “Screening pendengaran pada bayi baru lahir dilakukan segera setelah bayi lahir,” tuturnya.

Tujuan utama pemeriksaan pada tahap ini adalah untuk mendeteksi gangguan pendengaran sebelum bayi berusia satu bulan, memastikan diagnosis sebelum tiga bulan, dan intervensi sebelum enam bulan itu yang

Pada fase anak-anak, pemeriksaan telinga dan pendengaran anak-anak prasekolah dan juga tentunya sekolah. Pemeriksaan pada masa anak-anak awal dilakukan pada usia empat tahun terutama bagi anak-anak yang tidak menjalemiksa pendengaran bayi saat lahir 

“Tujuan pada pemeriksaan untuk mengidentifikasi gangguan pendengaran yang mungkin berkembang di masa awal pertumbuhan,” tuturnya.

Selain pada masa anak, pada dewasa juga dapat dilakukan skrining pendengaran terutama juga di populasi tempat bekerja dengan resiko tinggi. Pada orang tua dapat dilakukan skrining pendengaran teratur

“Identifikasi gangguan pendengaran ini harus dilakukan tentunya sepanjang hayat,” tuturnya. (**)

Editor : Miftahul Khair
gangguan pendengaran demensia komunikasi kualitas hidup