Membawa anak ke tempat kerja sering kali menjadi pilihan bagi orang tua yang bekerja, terutama ketika tidak ada yang mengasuh dan menjaga anak. Hal ini bisa menjadi pengalaman yang bermanfaat bagi anak, tetapi juga memerlukan perencanaan dan kesadaran akan tantangan yang mungkin dihadapi.
Oleh : Siti Sulbiyah
Membawa anak ke tempat kerja merupakan pengalaman yang menantang bagi Nissa (32). Pekerja di salah satu perusahaan swasta ini harus membawa buah hatinya yang baru berusia dua bulan tiga minggu tersebut lantaran masih menyusui dan harus mengasuhnya sendiri.
“Karena masa cuti tiga bulan sudah selesai, kemarin cutinya sebelum lahiran jadi masuknya sebelum anak usia tiga bulan,” katanya menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi ibu baru.
Beruntung ia mendapatkan tempat kerja yang membolehkan membawa anak. Tempat kerjanya itu terbilang ramah anak karena ada ruangan yang disediakan bagi ibu untuk mengasuh atau menyusui. Terlebih, respons rekan-rekan kerja se-kantor juga sangat baik.
“Respon teman-teman kerja ya seru saja. Karena memang suka sama anak-anak,” tuturnya.
Kendati begitu, diakuinya memang tidak mudah membawa anak ke tempat kerja. Tak jarang produktivitasnya terganggu “Tantangannya jadi lebih nggak fokus kerjanya, karena anak mau nyusu, anak mau ngajak main, anak mau pup, dan lain-lain. Jadi produktivitas emang agak terhalang gitu,” tuturnya.
Ia pun semakin terbantu ketika tempatnya bekerja menyediakan daycare atau penitipan anak. Lokasinya hanya 50 meter dari tempat ia bekerja. “Sekarang Alhamdulillah sudah disediakan penjaga atau kakak asuh, jadi ada daycare tersendiri khusus karyawan,” imbuhnya.
Dosen IAIN Pontianak, Dr. Fitri Sukmawati, M.Psi, Psikolog, menilai bahwa membawa anak ke tempat kerja akan sangat bergantung pada usia anak dan kondisi tempat kerja itu sendiri. Sebab, ada tempat kerja yang membolehkan membawa anak ada yang tidak lantaran kondisi yang tidak memungkinkan.
Menurutunya, membawa anak di bawah usia dua tahun memiliki sisi positif dan negatif yang perlu dipertimbangkan dengan matang oleh orang tua. Orang tua juga harus memastikan bahwa kantor memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung kebutuhan anak tersebut, terutama terkait dengan tidur dan kenyamanan.
Fitri mengingatkan bahwa anak di bawah usia dua tahun masih membutuhkan waktu tidur yang cukup, sehingga tempat kerja harus menyediakan kondisi yang nyaman dan aman bagi anak-anak. "Jika tidak, tentunya akan mengganggu fisiknya," tambahnya.
Terlebih bagi anak yang berusia di bawah enam bulan, kebutuhan untuk mendapatkan ASI eksklusif merupakan hal yang sangat penting. Dalam kondisi seperti ini, orang tua bisa lebih mudah memberikan ASI langsung, yang merupakan hak anak. Namun, ia juga menekankan bahwa hal ini bisa menjadi tantangan besar bagi orang tua yang harus berurusan dengan kewajiban pekerjaan sekaligus memenuhi kebutuhan anak.
Membawa anak ke tempat kerja sering kali terjadi ketika anak pulang sekolah, terutama anak-anak TK atau SD. Hal ini biasanya dilakukan ketika tidak ada orang lain yang bisa menjaga anak di rumah, sehingga orang tua memutuskan untuk membawa anak ke kantor.
"Di sisi positifnya, anak-anak bisa melihat langsung bagaimana kondisi orang tua mereka bekerja. Ini bisa memberikan nilai positif bagi anak, mereka bisa belajar tentang dunia kerja orang tua mereka," jelasnya.
Selain itu, membawa anak ke kantor juga bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk melatih keterampilan sosial mereka. Anak-anak, dapat berinteraksi dengan orang-orang di kantor dan belajar tentang berbagai aspek kehidupan sosial di luar rumah.
Meskipun ada sejumlah manfaat, membawa anak ke tempat kerja juga dapat menimbulkan gangguan. Anak-anak, terutama yang masih kecil, seringkali memerlukan perhatian lebih, yang dapat mengalihkan perhatian orang tua dari pekerjaan mereka. Ini bisa berisiko menurunkan produktivitas dalam bekerja. Selain itu, juga dapat mengganggu rekan kerja lainnya yang membutuhkan ketenangan untuk fokus pada tugas mereka.
Fitri juga mengungkapkan bahwa sangat disarankan bagi tempat kerja untuk menyediakan fasilitas daycare bagi karyawan yang memiliki anak kecil. Dengan adanya daycare, karyawan bisa tetap bekerja sambil memantau dan merawat anak mereka, termasuk menyusui jika diperlukan. Hal ini sangat membantu, terutama mengingat sulitnya mencari pengasuh anak yang dapat dipercaya di masa sekarang.
"Alangkah baiknya jika tempat bekerja menyediakan daycare, sehingga karyawan yang memiliki anak kecil bisa menyusui dan melihat aktivitas anaknya," tuturnya.
Editor : Miftahul Khair