Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mewaspadai Perilaku Child Grooming: Modus, Dampak, dan Cara Mencegahnya Sejak Dini

Siti Sulbiyah Kurniasih • Rabu, 9 April 2025 | 16:03 WIB
Ilustrasi child grooming.
Ilustrasi child grooming.

Child grooming adalah tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun hubungan atau kontrol terhadap anak atau remaja. Tak melulu soal seksual, hubungan tersebut juga dapat dilakukan dengan tujuan mengeksploitasi mereka secara fisik dan emosional, yang pada akhirnya merugikan korban.

Oleh: Siti Sulbiyah

Kontroversi yang menyeret nama aktor ternama Korea Selatan, Kim Soo Hyun, masih memanas. Sejumlah bukti yang dipublikasikan kepada publik semakin mengarah pada perbuatan child grooming yang dilakukan aktor dengan bayaran termahal tersebut.

Mengutip Jawa Pos, Garo Sero Research Institute secara terbuka membeberkan bukti Kim Soo Hyun melakukan child grooming terhadap Kim Sae Ron. Informasi tersebut disampaikan secara langsung oleh bibi Kim Sae Ron dengan tujuan untuk mengembalikan nama baik sang keponakan.

Mereka menyebut bahwa aktor tersebut mulai menjalin hubungan dengan Kim Sae Ron sejak aktris itu berusia 15 tahun dan membawa Kim Sae Ron ke agensi yang dimilikinya, Gold Medalist, untuk lebih mengontrol kehidupannya. 

Kasus ini mengungkapkan masalah serius terkait child grooming, yaitu proses di mana seorang dewasa membangun hubungan emosional dengan anak atau remaja dengan tujuan untuk mengeksploitasi mereka secara seksual. 

Dosen IAIN Pontianak, Dr. Randi Saputra, M.Pd., Kons, menjelaskan bahwa child grooming adalah tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun hubungan atau kontrol atas anak atau remaja, yang bertujuan untuk mengeksploitasi mereka secara fisik, emosional, bahkan seksual.

"Pelaku child grooming juga bisa mengisolasi dan menganiaya korbannya. Penting untuk mewaspadai ini, karena ini bisa menjadi langkah awal untuk pelecehan seksual, radikalisasi, eksploitasi kriminal, dan eksploitasi seksual kepada anak-anak," jelas Randi.

Perilaku child grooming dapat terjadi dalam berbagai situasi, baik secara langsung maupun virtual. Saat ini, melalui media sosial, pelaku bisa menjalin hubungan dengan korban dan melakukan aktivitas yang seharusnya tidak dilakukan. Randi juga menambahkan bahwa pelaku sering kali berpura-pura menjadi teman seumuran korban atau memberikan perhatian berlebihan untuk menciptakan kedekatan yang memanipulasi korban.

Menurut Randi, jika situasi seperti ini sudah terjadi, pelaku memiliki potensi untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari korban bahkan keluarga korban. Secara perlahan, pelaku akan mengisolasi korban, bahkan dengan keluarganya sendiri, sehingga korban menjadi bergantung pada pelaku.

"Setelah itu, pelaku akan menggunakan daya kontrolnya untuk membuat korban merasa tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan pelaku," tambahnya.

Dampak dari child grooming ini bisa mempengaruhi mental anak dalam jangka panjang. Berdasarkan penjelasan dari Siloam Hospital, dampak dari child grooming bisa sangat bervariasi tergantung pada kondisi korban. Beberapa dampak yang perlu diwaspadai antara lain adalah trauma emosional dan gangguan kesehatan mental seperti depresi, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), gangguan kecemasan, dan lainnya.

Korban child grooming juga bisa mengalami kesulitan dalam mempercayai orang lain di masa depan dan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan hubungan yang sehat. Gangguan emosional seperti agresi, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, dan gangguan dalam belajar bisa menjadi bagian dari dampaknya.

Selain itu, terdapat risiko penggunaan narkoba (Napza) ketika korban dewasa, gangguan makan, dan gangguan tidur. Beberapa korban bahkan menunjukkan kecenderungan untuk mengisolasi diri dari lingkungan sosial, enggan berinteraksi dengan orang banyak, dan dalam kasus yang lebih serius, ada keinginan untuk bunuh diri.

Randi menyatakan bahwa pencegahan terhadap child grooming merupakan tanggung jawab bersama dari berbagai pihak, termasuk orang tua, pendidik di sekolah, dan orang dewasa di sekitar anak. Salah satu langkah utama dalam pencegahan adalah peningkatan kesadaran masyarakat tentang apa itu child grooming dan bagaimana mengenali tanda-tandanya.

Orang tua harus memiliki pemahaman yang baik tentang ciri-ciri atau tanda-tanda child grooming. Mereka perlu sadar akan pentingnya mengedukasi anak-anak mereka mengenai hubungan yang sehat dengan orang lain. Mengajarkan anak untuk mengenali tanda-tanda bahaya dan berkomunikasi secara terbuka adalah kunci utama dalam pencegahan.

"Penting untuk mengedukasi anak sejak dini dan secara terbuka, mengajarkan anak untuk mengatakan tidak kepada orang yang melakukan kontak fisik yang bikin dia tidak nyaman atau diinginkan," katanya.

Penting bagi orang tua untuk memastikan bahwa anak merasa nyaman untuk berbicara tentang pengalaman dan perasaan mereka. Selain itu, orang tua juga harus mengajarkan anak-anak untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang-orang di sekitar mereka, termasuk orang dewasa yang dapat dipercaya. **

Editor : Miftahul Khair
#waspada #modus #child grooming #dampak #cara mencegah