PONTIANAK POST - Keuangan sering kali dianggap sebagai topik sensitif bagi pasangan yang sedang jatuh cinta. Banyak calon mempelai memilih menunda pembahasan ini karena rasa sungkan, takut merusak suasana romantis, atau merasa urusan uang baru relevan setelah sah menjadi suami istri. Padahal, sikap tertutup ini justru menyimpan bom waktu yang berpotensi memicu konflik besar di kemudian hari.
Psikolog sekaligus konselor pernikahan, Ratna Sari SPsi MPsi, menegaskan bahwa waktu ideal untuk membicarakan keuangan adalah sebelum menikah, terutama saat pasangan sudah memiliki komitmen serius.
"Menikah itu adalah bermitra. Ada keterlibatan satu sama lain, sehingga keterbukaan menjadi hal yang sangat penting sejak awal," ujar Ratna.
Baca Juga: 10 Tips Menghemat Biaya Pernikahan: Acara Tetap Berkesan meski Anggaran Minim
Topik Finansial yang Wajib Dikuliti
Lantas, apa saja yang harus dibahas? Menurut Ratna, sumber penghasilan dan stabilitasnya adalah hal paling esensial. Dengan transparansi ini, pasangan dapat menyesuaikan gaya hidup dan menyusun tujuan bersama secara realistis.
Selain itu, setiap pihak harus jujur mengenai utang, cicilan, tabungan, hingga investasi. Tanggung jawab finansial kepada keluarga besar (orang tua atau saudara) juga perlu disepakati. "Bukan soal boleh atau tidak memberi ke keluarga, tetapi nilai dan kesepakatannya harus dibicarakan bersama, bukan keputusan sepihak," tegasnya.
Baca Juga: Tips Memilih Warna Gaun Pernikahan yang Tepat untuk Hari Spesial
Mengatur Pola Konsumsi dan Privasi
Pola konsumsi sehari-hari, kebiasaan belanja, hingga penggunaan kartu kredit juga tidak boleh luput dari diskusi. Ratna menyarankan agar pembicaraan ini dilakukan secara bertahap agar tidak terasa seperti "audit" keuangan yang kaku.
Meski transparansi penuh adalah kunci, Ratna menilai ruang privasi kecil tetap dibutuhkan agar individu tidak merasa dikontrol berlebihan. Namun, prinsip utamanya tetap pada kejujuran atas keputusan finansial besar dan pengeluaran rutin.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Menjaga Keharmonisan Pernikahan, Tak Perlu Romantis Berlebihan
Perjanjian Pranikah: Perlindungan, Bukan Ketidakpercayaan
Menariknya, Ratna juga menyarankan pasangan untuk mempertimbangkan perjanjian pranikah. Baginya, ini bukan tanda tidak percaya atau takut harta diambil, melainkan bentuk perlindungan hukum dan finansial.
"Perjanjian ini menjadi pengaman jika terjadi risiko keuangan, seperti kebangkrutan usaha. Dengan begitu, jika salah satu pihak mengalami masalah bisnis, pihak lain masih memiliki pegangan sehingga masa depan anak-anak tidak terdampak," jelasnya.
Baca Juga: Pentingnya Perjanjian Pranikah: Lindungi Diri Anda dari Risiko Pembatalan Pernikahan
Dampak Psikologis Keterbukaan
Secara psikologis, membahas keuangan sebelum menikah menunjukkan tingkat kematangan dan tanggung jawab pasangan. Sebaliknya, menyembunyikan masalah finansial, seperti utang rahasia, dapat mengikis kepercayaan dan menimbulkan rasa dikhianati setelah menikah.
"Dalam banyak penelitian psikologi, masalah keuangan menjadi salah satu sumber utama konflik dan perceraian karena stres yang terus-menerus dalam hubungan," pungkas Ratna. Memulai komunikasi terbuka sejak dini bukan hanya soal uang, melainkan soal membangun fondasi kepercayaan yang kokoh untuk seumur hidup. (*)
Editor : Chairunnisya