PONTIANAK POST - Banyak orang tua masih meyakini bahwa anak laki-laki harus dididik dengan "tangan besi" dan teguran keras agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat.
Namun, pakar psikologi memperingatkan bahwa pendekatan yang terlalu keras justru berisiko meninggalkan luka emosional jangka panjang dan merusak harga diri anak.
Psikolog Klinis dari Griya Psikologi, Aironi Zuroida, SPsi, MPsi, menekankan bahwa kunci utama dalam mendidik anak laki-laki adalah ketegasan yang tetap menjaga martabat sang anak.
"Prinsip dasarnya adalah tegas tanpa menjatuhkan harga diri. Yang ditegur adalah perilakunya, bukan pribadinya," ujar Aironi, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Tips Psikolog Mengasuh Anak Kandung dan Anak Angkat agar Tetap Adil
Pisahkan Perilaku dari Identitas
Salah satu kesalahan umum adalah memberikan label negatif. Alih-alih menyebut anak "bandel" atau "keras kepala", orang tua disarankan fokus pada tindakan spesifiknya.
Misalnya, dengan mengatakan, "Nada bicaramu tadi tidak sopan, lain kali gunakan cara yang lebih baik."
Menurut Aironi, jika anak terus-menerus dilabeli sebagai anak nakal, ia akan percaya bahwa itulah identitas dirinya. Padahal, kesalahan seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan cacat permanen pada karakter anak.
Baca Juga: Tips Menjaga Anak Tetap Tenang Saat Dibawa ke Tempat Kerja
Kekuatan Nada Suara dan Bahasa Tubuh
Dalam berkomunikasi, cara menyampaikan pesan sering kali lebih penting daripada kata-kata itu sendiri. Berdiri dengan suara tinggi dan wajah tegang hanya akan memicu rasa takut pada anak, bukan pemahaman.
Aironi menyarankan orang tua untuk mendekat, berjongkok agar sejajar dengan mata anak, dan berbicara dengan nada tenang.
"Saat anak merasa aman secara emosional, barulah nasihat bisa benar-benar masuk ke dalam hati dan pikirannya," tambahnya.
Dampak Jangka Panjang Teguran Keliru
Pola asuh yang minim empati dapat menyebabkan anak laki-laki tumbuh dengan kebiasaan memendam emosi.
Tanda-tandanya bisa terlihat saat anak menjadi lebih pendiam, mudah marah tanpa alasan jelas, atau justru menjadi terlalu patuh karena takut berbuat salah.
Baca Juga: Tips Ampuh Atasi Anak Demam di Rumah, Orang Tua Wajib Tahu!
Secara psikologis, anak laki-laki dan perempuan memiliki kapasitas emosi yang sama. Namun, norma sosial sering kali memaksa laki-laki untuk hanya mengekspresikan kemarahan dan menyembunyikan rasa sedih.
Akibatnya, emosi yang tidak tersalurkan sering muncul dalam bentuk perilaku agresif atau menarik diri dari lingkungan.
Rumah sebagai Tempat Aman
Menjadi kuat bukan berarti tidak boleh merasakan sedih atau takut. Orang tua perlu menanamkan bahwa semua emosi adalah wajar dan menjadikan rumah sebagai pelabuhan aman untuk bercerita.
Baca Juga: Jangan Paksa Tarik Kulup Penis Anak, Inilah Risiko Bahaya Fimosis
"Menjadi kuat berarti mampu mengenali dan mengelola perasaan secara sehat," tutup Aironi.
Dengan memberikan teguran yang menghargai individu, orang tua membantu anak laki-laki mereka tumbuh menjadi pria yang tidak hanya berani secara fisik, tetapi juga matang secara emosional. (*)
Editor : Chairunnisya