Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sosiolog Soroti Kebiasaan Anggap Pelecehan sebagai Bahan Bercanda

Chairunnisya • Sabtu, 25 April 2026 | 08:53 WIB
Ilustrasi perempuan melihat gawai (FREEPIK)
Ilustrasi perempuan melihat gawai (FREEPIK)

PONTIANAK POST - Pelecehan sering dianggap sepele, bahkan dijadikan bahan candaan. Padahal, sikap diam, baik dari korban maupun saksi, bisa memperpanjang rantai kekerasan.

Sosiolog Universitas Airlangga, Tuti Budi Rahayu, menyoroti fenomena bungkamnya korban dan saksi saat pelecehan terjadi.

Menurutnya, tidak sedikit korban memilih diam, sementara saksi kerap berpura-pura tidak tahu. Sikap ini dinilai berbahaya karena dapat melanggengkan kejahatan.

Ia menegaskan pentingnya keberanian untuk bersikap, baik sebagai korban maupun saksi. Ketika pelecehan terjadi, respons aktif menjadi kunci untuk menghentikan perilaku tersebut sejak dini.

Baca Juga: Korban Pelecehan Jangan Diam, Sikap Ini Justru Memperkuat Siklus Kekerasan

Lebih lanjut, Tuti juga mengkritisi kebiasaan masyarakat yang kerap menganggap pelecehan sebagai bahan bercanda atau sekadar menggoda.

Normalisasi perilaku seperti ini dinilai merusak kesadaran etis masyarakat. “Jika candaan sudah menyakitkan secara fisik, psikis, atau verbal, itu sudah masuk kategori kekerasan,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Menurutnya, pelecehan dalam bentuk apa pun tidak bisa ditoleransi. Bahkan tindakan yang dianggap kecil tetap merupakan pelanggaran serius terhadap hak individu.

“Penting untuk menanamkan kesadaran bahwa pelecehan sekecil apa pun tetaplah pelanggaran atas hak dan martabat pribadi,” imbuhnya.

Baca Juga: Dugaan Pelecehan Seksual di Indekos Pontianak, Polisi Lakukan Penyelidikan

Dengan demikian, upaya membangun kesadaran kolektif menjadi hal yang mendesak.

Tidak hanya korban yang perlu berani bersuara, tetapi juga masyarakat luas agar tidak lagi menormalisasi tindakan yang berpotensi melukai orang lain. (*)

Editor : Chairunnisya
#for her pontianak post #pelecehan #Pelecehan Seksual