PONTIANAK POST - Kebiasaan berbohong yang terus dibiarkan bisa berdampak panjang bagi kehidupan anak. Tidak hanya memengaruhi hubungan dengan keluarga, tetapi juga perkembangan sosial dan pembentukan karakter.
Menurut Tyas Anastasya Pratiwi SPsi MPsi Psikolog, anak yang terbiasa berbohong berisiko kehilangan kepercayaan dari orang lain. Mereka juga lebih mudah menghindari tanggung jawab dan mengalami masalah integritas.
’’Di usia sekolah, anak bisa jadi minder karena sering ketahuan berbohong. Pada remaja, kebohongan yang berulang bisa mengganggu pembentukan identitas yang sehat,’’ jelas Tyas, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Ternyata Alasan Anak Berbohong Berubah Sesuai Tahap Usia dan Perkembangannya
Dampak tersebut dapat memengaruhi hubungan sosial, profesional, hingga personal di masa depan. Karena itu, kebiasaan berbohong tidak boleh dianggap sepele.
Tyas juga menyoroti pentingnya pola asuh dalam membentuk kebiasaan anak. Anak yang tumbuh dengan pola asuh otoriter cenderung berbohong karena takut disalahkan.
Sebaliknya, pola asuh permisif membuat anak kurang memahami konsekuensi dari tindakannya.
Baca Juga: Tips Parenting: Memahami Emosi Anak Lewat Bahasa Tubuh dan Komunikasi
’’Gaya pengasuhan yang paling efektif adalah otoritatif, yaitu hangat tapi tetap tegas. Anak merasa aman untuk jujur, tapi tetap belajar disiplin,’’ kata perempuan kelahiran Bojonegoro itu.
Dengan pola asuh yang tepat, anak dapat belajar bahwa kejujuran penting tanpa merasa terancam ketika melakukan kesalahan. (*)
Editor : Chairunnisya