PONTIANAK POST - Membantu orang tua merupakan bentuk bakti yang baik. Namun, jika dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial, kebiasaan tersebut justru dapat mengganggu kondisi ekonomi keluarga.
Financial Planner Finante, Ode Kustriani Atmaja, mengingatkan pasangan agar tidak terjebak dalam kebiasaan overgiving.
Jangan Korbankan Tujuan Keuangan
Menurut Ode, memberi secara berlebihan berisiko membuat berbagai tujuan keuangan sulit tercapai, seperti membeli rumah atau menyiapkan dana pendidikan anak.
Baca Juga: Tips Mengelola Keuangan Pasangan, Dana untuk Orang Tua Sebaiknya Punya Pos Khusus
Bahkan, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko menjadi sandwich generation.
’’Untuk yang kondisi finansialnya belum stabil, tetap boleh memberi ke orang tua, tetapi nominalnya harus kecil, realistis, tidak mengorbankan kebutuhan pokok, dan tidak menambah utang,’’ jelas Ode, dilansir dari Jawapos.
Evaluasi Saat Penghasilan Menurun
Baca Juga: Cara Menentukan Nominal Bantuan untuk Orang Tua Setelah Menikah
Ketika penghasilan mulai menurun atau tidak stabil, pasangan perlu segera meninjau kembali anggaran yang telah disusun.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi sementara besaran bantuan kepada orang tua sambil tetap memprioritaskan kebutuhan pokok dan dana darurat.
’’Komunikasikan juga kondisi ini kepada orang tua agar ada pemahaman bersama,’’ ujarnya.
Baca Juga: Tips Mengatur Keuangan untuk Generasi Sandwich, Biar Beban Finansial Lebih Ringan
Ode juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara rasa tanggung jawab dan kemampuan finansial.
’’Pisahkan emosi dengan kemampuan finansial, tetapkan batas maksimal, dan lakukan evaluasi rutin bersama pasangan,’’ lanjutnya.
Menurutnya, komunikasi yang terbuka serta evaluasi berkala akan membantu pasangan tetap bisa berbakti kepada orang tua tanpa mengorbankan kesehatan keuangan keluarga. (*)
Editor : Chairunnisya