Orang Tua Perlu Peka, Ini Tanda Perubahan Sikap Remaja yang Perlu Diwaspadai

Chairunnisya • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 09:25 WIB
Ilustrasi remaja laki-laki sedang bercerita dengan ayahnya. (AI)
Ilustrasi remaja laki-laki sedang bercerita dengan ayahnya. (AI)

PONTIANAK POST - Membangun hubungan yang hangat dengan anak remaja membutuhkan komunikasi yang terbuka dan saling percaya.

Selain pengawasan digital, orang tua juga perlu mengenal dunia anak agar lebih mudah memahami perubahan perilaku yang muncul.

Psikolog klinis Tyas Anastasya Pratiwi SPsi MPsi Psikolog mengatakan orang tua harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bercerita.

Baca Juga: Mengapa Remaja Rentan Terpengaruh Rayuan Lawan Jenis? Ini Penjelasan Psikolog

"Ortu harus jadi tempat bercerita yang aman dan nyaman bagi anak. Kedua, kenali dunia anak. Sebab, celah anak mengenal stranger bisa dari media sosial hingga game online," sambungnya, dilansir dari Jawapos.

Peka terhadap Perubahan Sikap Anak

Selain membangun komunikasi, orang tua juga perlu memperhatikan perubahan kebiasaan sekecil apa pun.

Menurut Tyas, salah satu tanda yang patut dicermati adalah ketika anak mulai menjaga privasi secara berlebihan, misalnya selalu membawa gawai dalam berbagai situasi. Namun, ia mengingatkan kondisi tersebut tidak bisa langsung dijadikan kesimpulan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Dinasihati, Psikolog Ungkap Remaja Perlu Orang Tua dan Guru yang Mau Mendengarkan

"Pertama, terkait privasi yang berlebihan. Misal, anak mulai curi-curi waktu main gadget. Lagi makan pegang gadget, kumpul keluarga pegang gadget. Tapi, ini tidak bisa dijustifikasi ya," beber Tyas.

Perubahan pola tidur maupun kebiasaan sehari-hari juga perlu menjadi perhatian.

"Biasa tidur jam 9 malam, jam 8 sudah masuk kamar, lampu betul dimatikan, tapi chatting-an sampai larut. Atau terdengar suara bisik-bisik," imbuhnya.

Baca Juga: Tips Aturan Aman Menggunakan Gawai untuk Anak dan Dewasa

Hindari Langsung Memarahi Anak

Saat mengetahui anak mulai dekat dengan kenalan lawan jenis, Tyas menyarankan agar orang tua tidak langsung memarahi atau menghakimi.

"Ini juga berlaku jika ortu mengetahui anak sedang dekat dengan teman lawan jenisnya. Jangan langsung 'kamu pacaran ya', tapi bahasakan dengan 'kamu lagi dekat sama si A ya'," lanjutnya.

Setelah anak mulai terbuka, orang tua dapat menyampaikan aturan melalui negosiasi yang disepakati bersama.

"Semisal, 'boleh pergi tapi izin mama papa biar nggak khawatir' atau 'boleh pergi tapi jam 6 sore harus sudah di rumah', atau 'Kakak ajak satu teman lagi deh, jangan berdua aja'," Tyas mencontohkan. 

Baca Juga: Tips Psikolog Mengasuh Anak Kandung dan Anak Angkat agar Tetap Adil

Menurut Tyas, pendekatan seperti itu membuat anak tetap merasa dipercaya sekaligus memahami tanggung jawabnya.

Sebaliknya, jika orang tua terlalu protektif, anak justru berpotensi memilih berbohong dan menyembunyikan berbagai hal dari keluarganya. (*) 

Editor : Chairunnisya
komunikasi orang tua pengawasan digital psikolog Remaja hubungan sehat