Parenting Merdeka untuk Gen Alpha, Bebas Memilih tetapi Tetap Perlu Batasan

Chairunnisya • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:58 WIB
REKREASI: Anak-anak bermain di salah satu alat permainan yang disediakan di Taman Kota Intan Ngabang, Selasa (14/1) sore.MIFTAH/PONTIANAKPOST
REKREASI: Anak-anak bermain di salah satu alat permainan yang disediakan di Taman Kota Intan Ngabang, Selasa (14/1) sore.MIFTAH/PONTIANAKPOST

PONTIANAK POST - Membesarkan anak tidak selalu berarti mengatur setiap langkahnya.

Anak juga membutuhkan kesempatan untuk memilih, menyampaikan pendapat, dan belajar dari keputusan yang dibuatnya.

Namun, kebebasan tetap perlu berjalan bersama arahan dan batasan yang jelas.

Salah satu pendekatan yang banyak diperbincangkan adalah parenting merdeka, yakni pola asuh yang memberi ruang kepada anak untuk berpikir dan menentukan pilihan tanpa tekanan, ketakutan, maupun paksaan berlebihan.

Baca Juga: Tips Aturan Aman Menggunakan Gawai untuk Anak dan Dewasa

Psikolog Klinis Griya Psikologi, Aironi Zuroida SPsi MPsi Psikolog, menilai pendekatan tersebut relevan selama orang tua tetap hadir dalam proses tumbuh kembang anak.

’’Konsep parenting merdeka cukup baik dan relevan. Anak tetap membutuhkan orang tua yang hadir, memberikan arahan, dan menetapkan batasan,’’ ujarnya, dikutip dari Jawapos. 

Tiga Dukungan Penting dalam Parenting

Baca Juga: Tips Psikolog Mengasuh Anak Kandung dan Anak Angkat agar Tetap Adil

Dalam perspektif psikologi, parenting merdeka berkaitan dengan Self-Determination Theory (SDT).

Menurut Aironi, terdapat tiga dukungan orang tua yang penting, yakni autonomy support, involvement, dan structure.

Autonomy support berarti memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih dan terlibat dalam pengambilan keputusan.

Baca Juga: Anak Bertanya tentang Konflik Orang Tua? Ini Batas Informasi yang Perlu Dijaga

Sementara itu, involvement ditunjukkan melalui perhatian serta keterlibatan emosional orang tua.

Adapun structure berupa aturan, harapan, dan batasan yang jelas serta konsisten.

’’Ketiga hal tersebut dapat mendukung berkembangnya motivasi intrinsik dan kemampuan anak dalam meng hadapi berbagai tantangan, termasuk tantangan kehidupan sehari-hari,’’ jelasnya.

Dengan pendekatan tersebut, anak tidak hanya diberi kebebasan, tetapi juga belajar memahami konsekuensi dan tanggung jawab dari pilihan yang dibuat.

Baca Juga: Usia Anak Menentukan Cara Orang Tua Menjawab Pertanyaan Kritis

Kebebasan Bukan Berarti Tanpa Aturan

Kesempatan memilih juga dapat membantu anak belajar memecahkan masalah, mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, serta bernegosiasi ketika menghadapi perbedaan.

Pada aspek emosional, anak perlu memahami bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua perilaku dapat dilakukan.

Baca Juga: Jangan Sok Mengatur, Ini Etika Pasangan Baru Saat Berhadapan dengan Anak

Ketika anak marah karena keinginannya tidak terpenuhi, misalnya, orang tua dapat mengakui perasaannya sekaligus tetap menetapkan batasan.

’’Kita bisa mengatakan, ’Mama tahu kamu kecewa. Kamu boleh kecewa, tetapi memukul itu tidak boleh,’’ ujar Aironi. (*)

Editor : Chairunnisya
psikolog anak parenting merdeka anak Gen Alpha kemandirian anak pola asuh anak