Cara Menagih Utang kepada Saudara Tanpa Membuat Hubungan Keluarga Menjadi Canggung

Chairunnisya • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:36 WIB
Ilustrasi menagih utang (AI)
Ilustrasi menagih utang (AI)

PONTIANAK POST - Urusan utang sering kali terasa lebih rumit ketika melibatkan keluarga. Bukan hanya nominal uang yang perlu dipikirkan, tetapi juga hubungan yang telah terjalin lama.

Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa sungkan menagih ketika saudara belum mengembalikan pinjaman sesuai kesepakatan.

Founder Digital Etika Edgar Bayu Refansyah MSi mengatakan, persoalan utang dalam keluarga memang memiliki dimensi yang berbeda karena hubungan ikut dipertaruhkan.

Baca Juga: Sebelum Menikah, Pasangan Perlu Terbuka Soal Utang dan Penghasilan Finansial

"Dalam keluarga, yang dipertaruhkan bukan hanya uang, tetapi juga hubungan. Banyak orang takut dianggap tidak percaya, tidak peduli dengan kondisi saudara, atau dicap terlalu perhitungan," ujar Edgar, dikutip dari Jawapos.

Menagih Bukan Berarti Memutus Silaturahmi

Menurut Edgar, hubungan keluarga yang dibangun dengan kasih sayang tetap membutuhkan tanggung jawab. Karena itu, menagih utang tidak semestinya dianggap sebagai tindakan yang bertentangan dengan hubungan kekeluargaan.

"Menagih utang bukan berarti memutus silaturahmi, melainkan bukti bahwa kepercayaan juga harus dibalas dengan integritas," tegasnya.

Baca Juga: Mengenal Risiko Doxing Saat Menagih Utang Melalui Jalur Viral Media Sosial

Menagih dengan cara yang tepat justru dapat menjadi bagian dari menjaga kepercayaan antara pemberi dan penerima pinjaman.

Pastikan Kesepakatan Sudah Jatuh Tempo

Sebelum menghubungi saudara untuk menagih, pemberi pinjaman perlu kembali melihat kesepakatan yang dibuat sejak awal. Hal yang perlu diperhatikan antara lain tanggal pembayaran, nominal utang, serta kondisi saudara yang berutang.

Jika waktu pembayaran memang sudah terlewati, penagihan dapat dilakukan dengan mengacu pada kesepakatan tersebut.

Baca Juga: Tagih Utang Berujung Aksi Sajam, Pria Landak Rampas Ponsel dan Ditangkap di Entikong

"Menagih berdasarkan kesepakatan jauh lebih bijak daripada menagih berdasarkan emosi. Fokusnya adalah mengingatkan perjanjian, bukan menyerang orangnya," jelasnya.

Sampaikan Secara Pribadi

Cara menyampaikan tagihan juga tidak kalah penting. Edgar menyarankan penagihan dilakukan secara empat mata agar pihak yang ditagih tidak merasa dipermalukan.

Bahasa yang digunakan tetap perlu menghargai, tetapi tujuan penagihan harus disampaikan secara jelas dan tegas.

Contohnya:

"Kak, saya ingin mengingatkan mengenai pinjaman yang waktu itu. Kalau sudah memungkinkan, apakah bisa mulai dikembalikan? Saya juga sedang membutuhkan dana tersebut."

Baca Juga: 10 Cara Mengelola Keuangan Secara Sehat agar Terhindar dari Utang

Jika saudara mengalami kendala, pemberi utang dapat membuka ruang untuk mencari solusi bersama.

Dengan demikian, pembicaraan tidak hanya berhenti pada permintaan pembayaran, tetapi juga memberi ruang untuk mengetahui kondisi pihak yang memiliki utang.

Tegas Tanpa Menyerang Pribadi

Penagihan utang kepada saudara pada dasarnya membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan penghormatan.

Baca Juga: Tagih Utang, Warga Malaysia Berujung di Penjara

Pemberi pinjaman memiliki hak untuk mengingatkan kesepakatan, tetapi cara penyampaiannya tetap perlu mempertimbangkan hubungan keluarga.

Dengan berfokus pada kesepakatan, bukan menyerang pribadi, penagihan dapat dilakukan tanpa menjadikan persoalan utang sebagai konflik keluarga. (*) 

Editor : Chairunnisya
digital etika utang saudara cara menagih utang etika keluarga hubungan keluarga