PONTIANAK POST – Presiden AS Donald Trump menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan ini memicu ketegangan baru di Timur Tengah.
Trump menyebut perang antara Israel dan Hizbullah sebagai "bentrokan terpisah". Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Pakistan yang sebelumnya menjadi mediator perdamaian tersebut.
"Karena ada Hizbullah, mereka tidak masuk dalam kesepakatan. Itu akan segera diurus nanti," ujar Trump kepada PBS, Rabu waktu setempat.
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 254 Orang Usai Gencatan Senjata
Respons Gedung Putih Terkait Serangan Israel
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mempertegas posisi Trump di hadapan media. Ia menyatakan Lebanon memang bukan bagian dari draf gencatan senjata yang disepakati. Gedung Putih menegaskan bahwa Israel tetap menjadi mitra utama Amerika Serikat di kawasan tersebut.
AS membantah spekulasi bahwa Israel sengaja merusak perdamaian dengan menyerang Lebanon. Baik Trump maupun Leavitt tidak menggubris klaim Pakistan bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata.
Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran, Tunda Serangan Militer 2 Minggu
Dampak Terhadap Stabilitas Regional
Pengecualian Lebanon membuat situasi kawasan kembali membara. Iran mengancam akan mengambil langkah serius sebagai balasan atas gempuran Israel ke Lebanon.
Berikut adalah beberapa ancaman eskalasi yang muncul:
-
Blokade Selat Hormuz: Kantor berita Fars melaporkan penangguhan lalu lintas tanker minyak di jalur vital tersebut.
-
Pembatalan Perjanjian: Teheran mengancam keluar dari kesepakatan jika Israel terus melanggar gencatan senjata.
-
Balasan Militer: Pejabat senior Iran menyebut akan "menghukum" Israel atas kejahatan di Lebanon.
Baca Juga: Gencatan Senjata Iran: Teheran Siap Buka Selat Hormuz
Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan perang akan kembali pecah jika agresi Israel tidak berhenti. Mereka menuntut penghentian serangan udara segera di wilayah Lebanon.
Di sisi lain, PM Pakistan Shehbaz Sharif bersikeras bahwa gencatan senjata mencakup seluruh kawasan. "Kesepakatan ini berlaku segera, termasuk untuk Lebanon," tulis Sharif di media sosial X.
Menlu Iran, Abbas Arghchi, turut mendesak AS untuk memilih antara perdamaian atau perang melalui proksi. Saat ini, dunia menunggu apakah AS akan menepati komitmennya atau membiarkan perang meluas.(ron)
Editor : Uray Ronald