PONTIANAK POST – Israel secara tegas menolak pembahasan gencatan senjata dengan Hizbullah dalam perundingan mendatang di Washington. Israel hanya bersedia bernegosiasi langsung dengan pemerintah resmi Lebanon.
Duta besar kedua negara dijadwalkan bertemu di Departemen Luar Negeri AS pada Selasa depan. Pertemuan ini bertujuan untuk mengatur kerangka negosiasi perdamaian resmi.
"Israel menolak membahas gencatan senjata dengan organisasi teroris Hizbullah," tegas Duta Besar Israel, Yechiel Leiter sebagaimana dikutip Mirror. Menurutnya, kelompok tersebut tetap menjadi penghalang utama perdamaian.
Fokus Perundingan Damai Israel-Lebanon
Israel setuju memulai negosiasi resmi meski saat ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Lebanon. Namun, posisi Tel Aviv tetap keras terhadap kekuatan militer Hizbullah di perbatasan.
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Picu Amarah Dunia, 254 Orang Tewas dan 1.165 Luka
Tanpa kesepakatan gencatan senjata, pembicaraan akan berfokus pada tuntutan Israel terhadap pemerintah Lebanon. Israel mendesak Beirut mengambil tindakan nyata untuk menertibkan kelompok paramiliter tersebut.
"Hizbullah terus menyerang Israel," tambah Leiter. Pernyataan ini merujuk pada ketegangan yang meningkat sejak invasi darat Israel pada 28 Februari lalu.
Upaya Beirut Akhiri Perang Lewat Diplomasi
Pemerintah Lebanon sebenarnya sangat ingin mengakhiri perang melalui kesepakatan gencatan senjata yang komprehensif. Beirut berharap model perdamaiannya serupa dengan pembicaraan AS-Iran di Islamabad.
Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka Iran dengan Jalur Aman, Israel Justru Gempur Lebanon Habis-habisan
Hingga saat ini, pihak Hizbullah belum memberikan komentar resmi. Namun, kelompok yang didukung Iran tersebut secara historis selalu menentang pembicaraan langsung dengan Israel.
Departemen Luar Negeri AS akan bertindak sebagai mediator dalam pertemuan di Washington DC tersebut. Publik kini menanti apakah diplomasi tanpa Hizbullah ini mampu meredam konflik di lapangan.
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 254 Orang Usai Gencatan Senjata
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan setidaknya 357 orang tewas dan lebih dari 1.223 lainnya luka-luka akibat serangan Israel pada hari Rabu. Hari tersebut menjadi hari paling mematikan dalam lebih dari lima minggu pertempuran baru yang pecah antara Israel dan Hizbullah.
Dari total 1.953 korban jiwa, menurut Kementerian Kesehatan, lebih dari 102 di antaranya adalah perempuan, lebih dari 130 anak-anak, dan sedikitnya 57 petugas medis.(ron)
Editor : Uray Ronald