PONTIANAK POST – Jalur perdagangan dunia kembali membara setelah Iran memutuskan untuk menutup kembali Selat Hormuz.
Langkah drastis ini langsung diikuti dengan insiden penembakan terhadap kapal kontainer milik perusahaan Perancis, CMA CGM, pada Sabtu lalu.
Pihak CMA CGM mengonfirmasi bahwa salah satu kapalnya menjadi sasaran "tembakan peringatan" saat melintasi selat tersebut.
Meski kapal mengalami kerusakan pada beberapa kontainer, seluruh awak kapal dilaporkan selamat tanpa cedera.
"Kapal tetap beroperasi dengan kerusakan yang terbatas," tulis pernyataan resmi perusahaan pada Minggu dilansir Antara.
Baca Juga: Iran Balas Serang Kapal AS dengan Drone Usai Penyitaan Kapal TOUSKA
Dampak Serangan di Kumzar
Laporan dari Organisasi Maritim Internasional menyebutkan insiden terjadi di utara Kumzar, Oman.
Meskipun ada kerusakan fisik pada badan kapal, Agence France-Presse (AFP) melaporkan tidak ada kebocoran atau pencemaran lingkungan di lokasi kejadian.
Selain kapal milik CMA CGM, kapal lain seperti Everglade juga dilaporkan menjadi sasaran tembakan pasukan Iran.
Baca Juga: Kapal India Ditembaki di Selat Hormuz: Tensi Iran dan India Memanas
Serangan ini menandai eskalasi serius setelah Iran membatalkan rencana pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut.
Teheran menyatakan penutupan kembali Selat Hormuz adalah bentuk balasan langsung.
Mereka memprotes blokade Amerika Serikat yang masih berlangsung terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran.
Baca Juga: AS Cegat dan Tembak Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Blokade vs Balasan
Situasi di Selat Hormuz kini semakin memanas. Pejabat Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan membuka jalur air tersebut selama blokade ekonomi dan maritim oleh AS belum dicabut.
Aksi saling balas ini terjadi hanya berselang sehari setelah AS menyita kapal kargo TOUSKA dan serangan drone balasan dari Iran.
Baca Juga: Iran Sebut Donald Trump Terlalu Banyak Main Medsos dan Tidak Konsisten
Kini, kapal-kapal komersial internasional mulai terseret ke dalam pusaran konflik bersenjata kedua negara.
IDunia internasional kini menyoroti keamanan pasokan logistik global melalui Selat Hormuz.
Penutupan jalur ini diprediksi akan memicu lonjakan biaya pengiriman dan gangguan distribusi barang secara global.*
Editor : Uray Ronald