PONTIANAK POST – Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa Iran mulai menunjukkan iktikad untuk mengajukan penawaran guna mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Klaim ini muncul saat tim negosiasi AS bersiap bertolak menuju Pakistan pada Sabtu (25/4) untuk bernegosiasi.
Trump mengonfirmasi pengiriman utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner untuk memulai perundingan baru.
Namun, ia memastikan Wakil Presiden JD Vance tidak ikut dalam rombongan tersebut untuk saat ini.
Syarat Mutlak Penawaran Iran Menurut Trump
Meskipun detail proposal belum diketahui secara pasti, Trump memberikan sinyal kuat mengenai posisi tawar Amerika.
Ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus memenuhi tuntutan utama Washington terkait nuklir dan jalur perdagangan global.
"Mereka sedang menyiapkan penawaran, dan kita akan lihat nanti," ujar Trump dikutip Mirror.
Ia menegaskan kesepakatan apa pun wajib mencakup penyerahan uranium Iran yang diperkaya dan jaminan kebebasan lalu lintas minyak di Selat Hormuz.
Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Teheran Tolak Dialog dan Trump Tak Ingin Akhiri Konflik Cepat
Iran Bantah Pertemuan Langsung
Bertolak belakang dengan klaim Trump, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tidak ada agenda pertemuan langsung dengan pihak AS.
Iran menegaskan bahwa setiap aspirasi atau poin keberatan mereka hanya akan disampaikan melalui pemerintah Pakistan.
Di sisi lain, Trump menolak membeberkan siapa pihak Iran yang menjalin komunikasi dengan timnya.
"Saya tidak ingin menyebutkan nama, tapi kami berurusan dengan orang-orang yang memegang kendali sekarang," tambahnya.
Baca Juga: AS Bekukan Aset Kripto Iran Senilai Rp5,5 Triliun di Tengah Ketegangan Perang
Gedung Putih Pantau 'Progress' di Lapangan
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan optimismenya terhadap dialog di Pakistan.
Ia menyebut adanya kemajuan dari pihak Iran dalam beberapa hari terakhir yang diharapkan bisa membuahkan kesepakatan.
Leavitt juga menambahkan bahwa JD Vance dan Sekretaris Negara Marco Rubio tetap dalam posisi siaga (standby).
Keduanya siap terbang ke Pakistan jika situasi di meja perundingan menunjukkan perkembangan yang mendesak.*
Editor : Uray Ronald